pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jangan Asal Pesan Makanan, Perhatikan Asupan Gizi

Asriaty, Dietisien PCC RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

25 Januari 2022 diperingati sebagai Hari Gizi Nasional ke-62. Podcast Berita Kota Makassar (BKM) menghadirkan Asriaty, dietisien (ahli gizi) Private Care Centre (PCC) Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohudoso, Makassar.

IA mengawali penjelasan dengan melihat fenomena yang ada saat ini, di mana akses memesan makanan begitu mudahnya. Cukup menghubungi dan memesan lewat ojek daring, makanan pun segera datang. Apalagi bagi generasi millenial. Mereka sering memilih makanan tanpa menghiraukan komposisi gizi. Lebih cenderung melihat makanan yang sedang biral, enak dan mudahnya didapat.
”Makanan siap saji tidak masalah sebenarnya, selama memperhatikan komposisi dan jenisnya. Higienitasnya juga sangat penting, karena berpengaruh langsung ke kesehatan kita. Kalau tidak diperhatikan bisa menyebabkan diare dan berbagai penyakit infeksi lainnya. Termasuk berbagai penyakit degeneratif dan infeksi lainnya,” terang Asriaty.

Diakui, tidak ada yang salah dalam pemilihan makanan yang dipesan lewat ojol. Yang penting komposisi dan jenisnya, sehingga kita bisa menjamin makanan yang diasup terjamin nilai gizinya.
Ia juga menyinggung soal stunting dan obesitas. Hal ini sesuai dengan tema Hari Gizi Nasional tahun ini, yaitu Mari Bergerak Bersama Mencegah Stunting dan Obesitas.
Dijelaskan Asriaty, stunting bahasa awamnya pendek. Hal ini terkait dengan gizi masa lalu. Gizi kronis di masa 0 hari dalam kandungan.
”Di saat seorang wanita menjalani pernikahan, berarti sudah harus siap dengan status gizi yang baik. 0 hari kehamilan status gizinya harus terjamin. Apalagi wanita di Indonesia banyak yang mengalami anemia,” jelas Asriaty lagi.

Di saat mulai menyiapkan kehamilan, menurut Asriaty, status gizi si ibu sudah terjamin. Siap untuk hamil. Bukan hanya mental, tapi juga fisik.
Yang harus dilakukan ibu hamil (bumil) untuk pencegahan, gizi makro seperti protein, karbohidrat dan lemak harus tercukupi. Begitu pula dengan zat gizi mikro, seoperti vitamin dan mineral.

Untuk obesitas, menurut Asriaty, bergantung dari asupan makanan yang masuk. Porsi yang masuk tidak seimbang dengan yang keluar, hingga akhirnya tersimpan dalam tubuh. Penyebab kedua, dipengaruhi oleh aktivitas.
”Dulu kalau mau nyalakan televisi kita harus jalan dulu. Sekarang ada remote. Dulu naik tangga, sekarang ada lift. Berbaring saja sudah bisa pesan makanan. Makanan yang dipesan tidak seimbang zat gizinya,” beber wanita kelahiran Ujungpandang, 24 November 1970 ini.
Ia lalu menyebut klasifikasi obesitas yang bisa diukur dari berat badan dan tinggi badan, lalu kemudian dihitung indeks massa tubuhnya. Jika di bawah 18,5 masuk gizi kurang. 18,5 hingga 23,5 terhitung normal. Sementara 24,5 ke atas masuk kategori over weight. (*/rus)




×


Jangan Asal Pesan Makanan, Perhatikan Asupan Gizi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link