TAK jarang kita mendengar nasihat untuk tidak pernah ragu dan berhenti berbuat baik. Karena sekecil apapun perbuatan baik itu akan membawa manfaat yang besar. Keajaibannya pun telah terbukti. Dedi dan Fachry sudah mengalaminya.
NAMA lengkapnya Imam Dedikasi Malik Nur. Karib disapa Dedi. Saat ini kuliah di Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM). Sementara Fachry memiliki nama lengkap Muh Fachry Zahdy. Kuliah di kampus dan jurusan yang sama dengan Dedi. Mereka adalah dua dari empat founder komunitas SendKebaikan Indonesia yang ada di Makassar.
Keduanya menjadi tamu dalam siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Kamis (17/2). Datang dengan mengenakan rompi krem yang bertuliskan SendKebaikan di bagian belakang, Dedi dan Fachry berbagi kisah tentang komunitas yang mereka rintis. Ia didampingi Annisa Tri Damayanti, External Relation SendKebaikan Indonesia.
Dedi yang juga Presiden SendKebaikan bertutur, semua berawal dari keresahan sebagai mahasiswa oleh keempat founder. Ketika itu di tahun 2020, tepatnya 18 Juli. Pandemi covid-19 melanda negeri ini. Tak terkecuali Makassar. Semua terkena dampaknya. Tak terkecuali mahasiswa.
”Pertama kali munculnya komunitas ini berawal dari keresahan kami sebagai mahasiswa. Ketika duduk sama-sama, kami mencoba menginisiasi bagusnya membuat apa di tengak pandemi seperti ini. Banyak orang yang terdampak, sehingga kita harus bergerak. Tindakannya apa,” ujar Dedi.
Dimulailah gerakan itu. Awalnya dari bagi-bagi nasi kotak dulu. Donasi untuk membeli nasi diperoleh dari para founder. ”Minimal Rp15 ribu dari kami bisa dipakai untuk beli empat nasi kotak lalu dibagi-bagikan. Akhirnya tercetuslah nama SendKebaikan. Send berarti membagikan. Bisa pula dimaknai sebagai sen atau koin. Dari sesuatu yang simpel kita bisa menyebar kebaikan. Satu sen sejuta kebaikan, itu slogan SendKebaikan,” ungkap Fachry.
Karena empat perintis masih sibuk dengan kuliahnya masing-masing ketika itu, SendKebaikan sempat vakum. Selanjutnya kembali aktif di tahun 2021. ”Saat itu ada junior di SMA menanyakan tentang komunitas ini. Mereka menyampaikan keinginan untuk mengaktifkan kembali. Kita meresponsnya dengan langsung menyusun pengurus. Termasuk AD/ART. 2021 pengurus terbentuk. Ide-ide dikomunikasikan bersama-sama lalu bergerak untuk masyarakat. Ini menjadi wadah mengaktualisasikan sesuai latar belakang ilmu masing-masing,” terang Dedi.
Menurut Fachry, tugas seorang pemuda salah satunya adalah menjadi agen perubahan. Ketika pandemi, kondisi tidak sedang baik-baik saja. ”Karena itu sebagai seorang pemuda, keresahan yang ada pada kami kemudian didiskusikan ketika duduk-duduk. Daripada cerita kosong, ada ide yang bisa kita munculkan. Lebih baik bergerak, tidak tinggal diam dan duduk di rumah. Kita berusaha berikhtiar untuk membantu masyarakat,” jelas Fachry lagi.
Menurut Dedi, selama ini banyak pihak yang selalu menunggu hal besar untuk melakukan sesuatu. Padahal ada yang sederhana bisa dilakukan untuk membahagiakan banyak orang. Dengan berkolaborasi dan bersama-sama, dari satu sen akan muncul banyak kebaikan. Banyak orang yang bisa dibantu. Banyak kebermanfaatan yang bisa diberikan.
Dalam SendKebaikan ada banyak mahasiswa dengan latar belakang jurusan yang berbeda. Seperti hukum, ekonomi, psikologi, aktuari, farmasi dan jurusan lainnya. Dedi dan Fachry berusaha merangkum banyak orang, karena komunitas ini hadir sebagai wadah untuk berkhidmat kepada masyarakat prasejahtera yang menjadi fokusnya. Dalam rangka menyebar sejuta kebaikan dengan selua-luasnya.
SendKebaikan memiliki empat program. Masing-masing program sebungkus kebaikan, pintu kebahagiaan, taman baca, dan tanggap bencana. Yang selama ini intens berlangsung adalah program sebungkus kebaikan. Melalui program ini donasi bagi-bagi nasi bungkus dilakukan. Pernah juga membagikan susu untuk anak-anak jalanan di bulan puasa.
Untuk program pintu kebahagiaan, SendKebaikan mencari satu orang masyarakat prasejahtera yang layak dibantu. Atau mempromosikan jualan mereka agar laku.
Sementara taman baca terlaksana lewat kolaborasi dengan pihak lain. Lewat program ini dilaksanakan kegiatan mengajar bagi anak-anak dari kalangan warga prasejahtera.
”Untuk program tanggap bencana, kami sedang berusaha belajar untuk mendapat pengetahuan. Sudah ada kegiatan yang kami lakukan. Seperti membantu warga yang menjadi korban kebakaran di Makassar,” jelas Fachry.
Lalu bagaimana caranya mendapatkan donasi? Dedi menjelaskan, sebagai sebuah komunitas pihaknya berbasis pada kepercayaan masyarakat. Karena itu apapun yang dilakukan senantiasa dipublikasikan kepada masyarakat. Memaksimalkan penyebarluasan informasi untuk semakin mendapat kepercayaan masyarakat.
”Di awal-awal informasi kami sebar di grup keluarga, grup SMA dan SMP. Dari situ kemudian komunitas ini terdengar oleh orang luar dan banyak tertarik untuk bergabung. Mereka silih berganti menyatakan keinginan dan kesiapan untuk menyumbang nasi dos,” terangnya.
Ditanya tentang sukaduka menjadi bagian dari relawan yang peduli masalah sosial, Fachry punya kisah yang cukup membuat merinding. ”Waktu itu di perempatan Jalan Adhyaksa. Kita sedang membawa donasi nasi bungkus untuk dibagikan. Di situ kan banyak anak-anak yang beraktivitas di jalanan dan meminta-minta. Di depannya ada bapak-bapak yang menggendong tikar banyak sekali sambil berjalan kaki. Mukanya pucat. Mau singgah kasih bantuan, pasti kita akan dikerumuni oleh anak-anak yang ada di situ. Kita akhirnya melewati. Prinsipnya, bukan takdirnya,” ungkap Fachry.
Perjalanan untuk menyalurkan donasi dilanjutkan. Fachry dan relawan lainnya berkeliling. Namun, setelah dua jam tak juga mendapati orang yang layak diberi bantuan.
”Ketika masuk di Jalan Palem, ada lorong di situ, bapak-bapak yang bawa tikar ketemu lagi di situ. Akhirnya bantuan diberikan untuknya. Dari situ kami yakini bahwa sejauh apapun sesuatu itu pergi, tapi kalau sudah takdirnya untuk kita itu tidak akan pernah lari. Justru dia yang akan mendatangi kita. Merinding saya waktu itu. Dari sini kami belajar tentang konsep takdir oleh Allah Yang Maha Kuasa,” tandasnya.
Fachry juga berkisah tentang ajaibnya dari berbuat kebaikan. ”Terkadang di malam hari kami siapkan empat dos untuk didonasikan karena hanya itu yang masuk. Tapi biasa pagi-pagi sekali tiba-tiba masuk 50 dos sampai 70 dos. Semua itu dari berbuat baik. Niat yang selalu harus diluruskan. Selalu saja ada jalan kalau kita mau berbuat baik. Hari ini terkendala satu hal, besoknya selalu ada jalan yang ditemukan,” kata Fachry yang diamini Dedi. (*/rus)

