pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Untuk Tembus Internasional Pakailah Bahan Tradisional

Irsyad M Achmad, Fashion Designer

INI rahasia bagi seorang desainer yang ingin tembus kancah internasional. Anda harus memakai bahan tradisional dalam menciptakan sebuah kreasi jika ingin mewujudkan impian bersaing di lingkup global.

IRSYAD M Achmad mengungkap hal itu ketika menjadi narasumber dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Kamis (24/2). Ia yang mengawali karir di dunia fashion sejak tahun 1979 telah melanglang buana di berbagai tempat. Tak lagi skala nasional, tapi juga pada level internasional
Itja Achmad, begitu dia karib disapa. Puluhan tahun berkecimpung di dunia fashion designer, ia menyebut profesi yang digelutinya mirip-mirip dengan seorang psikolog. Itja mencontohkan, dari cara jalannya saja seorang bisa diketahui seperti apa karakternya. Termasuk fashion yang disukainya.
”Fashion juga cabangnya di mana-mana. Bahkan sampai ke otomotif yang memakai jasanya. Biasanya kenapa mobil warna putih tiba-tiba mahal. Begitu juga kulkas, magic jar dengan warna yang sama begitu laku di pasaran. Itu salah satunya karena jasa dari fashion,” ungkap Itja.
Sebagai seorang desainer, ia menunjukkan dirinya sebagai alumni 1981 SMA Negeri 1 Makassar melalui seragam yang dikenakannya saat hadir di studio satu Berita Kota Makassar. Ia punya alasan untuk itu. Menurutnya, baju punya misa penting.
”Ada istilah bahwa pakaian menentukan siapa kamu. Dari pakaian pula tipe manusia akan kelihatan. Seperti feminin total, atau ada yang memang hanya perlu kenyamanan. Ini penting untuk diketahui oleh calon fashion designer. Karena kelak mereka akan menanjak menjadi seorang fashion consultan,” terangnya.
Irsyad yang lahir di Makassar 26 November 1962
sebelumnya pernah menjejak karir di Jakarta selama 12 tahun lamanya. Baru di tahun 2012 ia kembali ke Makassar.
Selaku fashion consultan, jasa Irsyad telah banyak digunakan untuk produk iklan, minuman, rokok, sinema serta sinetron televisi. Sebelum sampai di titik ini, ia pernah menempuh pendidikan fashion di Susan Budihardjo pada tahun 1988.
Untuk pengalaman di bidang fashion, pada tahun 1990-2008 menjadi asisten designer untuk Rumah Mode Poppy Darsono. Tahun 2008 sampai sekarang sebagai Fashion Designer untuk label
hommes_by_itja (mens wear)
itja achmad (ethnic wear)
.
Atas pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya, di tahun
2016 hingga sekarang Irsyad dipercaya sebagai wakil ketua APPMI Sulawesi Selatan . Juga sebagai
Ketua Komunitas Desainer Etnik Indonesia (KDEI) untuk Sulawesi Selatan 2016-2018
Ia juga tidak pelit dalam berbagi ilmu dan pengalaman. Irsyad memberi konsultas gratis terkait fashion bagi mereka yang datang ke tempatnya di Jalan Hertasning VI nomor 12A
Makassar. Tidak heran jika sering banyak orang yang berkunjung. Terutama yang ingin membuat produk online.
”Sudah ada beberapa yang kita bantu. Biasanya konsultasi terkait seperti apa caption yang akan dipasang agar cuan bisa datang,” tandasnya.
Ia juga mengingatkan bagi calon fashion designer tentang pentingnya mengetahui sejarah mode yang menjadi kiblat bagi mereka. Sebab jika tidak, dia tidak akan punya insting tentang fashion apa yang akan keluar di tahun mendatang. Akibatnya, hanya akan melakukan plagiat. Selain itu, saat show tidak akan keluar ”DNA”nya.
”Fashion itu seperti manusia, harus punya DNA masing-masing. Ada ciri khas. Kalau tidak punya kecenderungan akan berumur pendek dalam dunia fashion,” jelasnya.
Dalam perjalanan karirnya, Irsyad sangat sering mendapati pementasan yang tidak tidak menghargai produk bangsa pada kain dan tekstilnya. Padahal itu menjadi gerbangnya sebuah produk mode. Karena mungkin saja desainnya sama, namun ada perbedaan pada tekstil dan kain yang digunakan.
Irsyad yang dalam mengajari siswa SMK dan mahasiswa, selalu menekankan pentingnya mengangkat tradisi. Ia membahasakannya dengan sebutan meremajakan kain-kain tradisi.
”Sayang sekali kalau tidak memanfaatkan kearifan lokal. Kain sarung dan sutra misalnya. Karena kalau mau pakai wol, kita bisa kalah dengan Australia. Makassar saja digarap tidak habis. Apalagi Sulsel,” terangnya.
Ia lalu teringkat di tahun 2016. Oleh Dinas Perindustrian, dirinya diperkenalkan dengan kain khas asal Jeneponto. Di daerah tersebut memiliki kapas organisi. Ternyata kainnya memang bagus. Namun ditenun untuk kain kafan.
Irsyad lalu ditantang untuk menggarapnya menjadi salah satu unggulan Sulsel. Ia pun menerimnya. Apalagi, pertanian organik menjadi isu kekinian.
Hanya saja, ketika itu Irsyad yang masih tinggal di Jakarta menemui kendala untuk mendapatkan bahan baku kain tenun tersebut. Karena mereka yang dimintai tolong membawa dari Jeneponto ke Jakarta menggunakan pesawat terbang, kerap berbohong. ”Karena itu kain tenun untuk kafan, mereka selalu beralasan ketinggalan. Padahal takut membawanya di atas pesawat. Takut ada apa-apa yang terjadi di atas pesawat,” ungkapnya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Irsyad bisa mendapatkan kain yang dinamainya Tanung Turatea (Tenun Turatea). Selanjutnya ia membuatnya menjadi busana untuk anak muda. Itja menggarapnya dengan serius. Bahkan melakukan pemotretan langsung di Bali. ”Saya membuatnya slim, yang disukai anak muda. Kini sudah dipamerkan di mana-mana,” imbuhnya.
Selain itu, ada, pula desainer yang membuat kain tenun ini menjadi baju bodo. Suatu ketika ada show berskala nasional yang dilaksanakan di Makassar dan seluruh peserta wajib menggunakannya. Mereka bangga mengenakannya karena mengusung tema lingkungan.
Demikian pula kain sutera Sengkan yang polos, dibuat busana untuk anak muda. Bisa dipakai bergaya dan dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Ada pula kain batik khas Toraja bernama Sarita. Menurut Irsyad, ini merupakan batik tertua di dunia dan tidak terpengaruh siapa-siapa. Kain asli jenis begitu diincar. Karena harganya bisa mencapai miliaran. Terakhir ditemukan di pasaran pada abad 19. ”Kalau ada yang buat sendiri saat ini, mohon maaf, itu sudah menggunakan sistem sablon,” tegasnya.
Satu lagi yang dicontohkan Irsyad adalah kain tenun Lagosi yang berasal dari Sengkang. Memiliki ciri khas tiga kembang yang di ujungnya tunduk ke bawah, dikenakan seorang warga yang kini tinggal di Belanda. ”Jadi, untuk tembus ke dunia internasional, gunakanlah bahan tradisional,” imbuhnya. (*/rus)




×


Untuk Tembus Internasional Pakailah Bahan Tradisional

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link