MAKASSAR, BKM — Dua video pendek, masing-masing berdurasi 1 menit 17 detik dan 2 menit 24 menit viral di linimasa. Isinya tentang perlakuan kasar terhadap seorang wanita yang diduga mengalami depresi.
Peristiba bermula pada Sabtu (19/30). Perempuan yang mengenakan daster itu diketahu bernama Erna. Ia warga Kota Palopo. Ketika mencoba bunuh diri, orang-orang berusaha menggagalkannya. Saat itu Erna ditemukan oleh warga sekitar hendak melompat ke kolam regulasi Nipa-nipa Antang, Kota Makassar.
Oleh warga, Erna kemudian dibujuk untuk tidak melakukan perbuatan nekatnya. Usaha tersebut berhasil. Perempuan tersebut kemudian dibawa ke rumah seorang warga. Ia diduga stres karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Tak lama berselang datanglah orang yang disebutkan sebagai pekerja sosial dari Dinas Sosial Kota Makassar. Tindakan kasar pun terlihat yang disaksikan oleh banyak orang. Tak terkecuali anak-anak.
Rambut wanita malang itu dijambak. Kedua tangannya juga diikat. Sejumlah kalimat memohon belas kasihan terucap dari mulutnya, disertai suara meringis kesakitan.
Menurut pengakuan warga, Erna melarikan diri dari rumahnya di Palopo ke Makassar. Warga kemudian menginapkan Erna di rumahnya semalam.
Pada Minggu (20/3), warga sekitar menelepon Dinas Sosial Kota Makassar untuk memulangkan Erna ke daerah asalnya. Namun, ibu rumah tangga itu enggan ikut.
“Maukah dibawa kemana kasi’na?” tanyanya sambil menangis.
Dari video yang beredar di media sosial, satu orang yang diduga pegawai Dinas Sosial terlihat mengikat tangan Erna menggunakan kain. Beberapa orang lainnya membujuk agar Erna naik ke mobil.
Namun karena kukuh tak mau, Erna diperlakukan kasar oleh pendamping sosial. Ia ditarik oleh tiga orang dan rambutnya dijambak.
Tangannya diputar untuk diikat. Satu orang bergantian menjambak lagi rambutnya.
“Ndak dibawaja ke rumah sakit jiwa?” tanya Erna ke warga sambil menangis.
“Tidakji. Mau dibawa pulang karena kamu minta pulang tadi toh?,” jawab salah satu warga sambil mengelap air mata Erna.
Salah satu warga yang berada di lokasi sempat komplain. Ia mengaku cara yang dilakukan terhadap Erna sangat tidak manusiawi.
“Padahal di situ ada ibu yang bisa bujuk kasihan. Menangis-nangis sambil ditarik rambutnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, pendamping sosial harusnya tahu cara pendekatan secara preventif. Bukan dengan kekerasan, apalagi untuk korban yang mengalami depresi.
Kemarin sore, BKM berusaha mengonfirmasi hal ini ke Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Auliah Arsyad terkait kejadian tersebut, serta untuk memastikan apakah orang yang menangani Erna adalah pekerja sosial dan pegawai Dinsos. Hanya saja, mantan camat Ujung Tanah itu tidak memberikan penjelasan. Ia mengaku sedang rapat dan meminta untuk dihubungi kembali. (jun)

