ATAS nama bangsa, apapun akan dilakukannya. Bahkan mati sekalipun. Itu tekad Anwar Tarra, atlet asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang tergabung dalam tim nasional (timnas) untuk cabang olahraga dayung.
MENGENAKAN topi dan baju khas atlet dayung, Anwar Tarra Dg Sibali ditemui tim media sosial Youtube Berita Kota Makassar di sela-sela sesi latihan di kawasan Lantamal VI Makassar, Minggu (5/6). Ia bersama atlet dayung dari Kabupaten Gowa yang akan berlaga pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) Sulsel 2022 di Kabupaten Sinjai-Bulukumba.
Anwar yang merupakan peraih medali emas Sea Games 2021 namun dilaksanakan di Vietnam tahun 2022, mengawalinya dengan menceritakan pengalamannya terjun ke olahraga dayung pada tahun 2002. Kemudian melanjutkan kiprah di Timnas pada tahun 2004 setamat SMA.
Dari pengakuan Anwar, jangankan untuk berprestasi, menggeluti olahraga dayung saja tak pernah terbersit di pikirannya kala itu. ”Olahraga dayung itu apa sih. Saya tidak pernah mengenalnya sama sekali. Apalagi di tempat tinggalnya saya di Bontonompo (Gowa), tidak ada lokasi yang bisa dijadikan tempat olahraga dayung,” terangnya.
”Orang tua saya petani. Ibu tukang jahit waktu itu. Dan inilah jalan hidup saya terjun di olahraga dayung,” tambahnya.
Anwar bertutur, setamat SMP di Bontonompo tahun 2002 dirinya iseng-iseng ikut seleksi atlet. Ia menjadi perwakilan dari sekolah karena postur tubuhnya yang tinggi.
”Awalnya disuruh ikut olahraga tinju. Saya lihat ini tidak cocok untuk saya. Karena kalau latihan saling pukul orang. Akhirnya dialihkan ke dayung dan meninggalkan tinju. Saya diarahkan ke Tanjung Bunga untuk ikut seleksi,” ujarnya.
Di tempat itulah Anwar melihat orang yang berlatih dan ngotot-ngototan mendayung. Hal itu dianggapnya menarik dan menantang bagi dirinya. Pilihan pun jatuh pada olahraga dayung.
Dua bulan sebelum menjelang Porda di Kota Palopo ketika itu, Anwar intens berlatih. Tekadnya, ia harus bisa mengangkat martabat keluarga.
”Waktu itu saya berpikir, kalau begini terus saya tidak bakalan maju. Tidak bisa menginjak kota Makassar. Dengan tekad waktu itu, saya kemudian direkrut masuk club yang didirikan Tanjung Bunga. Setiap hari saya berlatih. Saya harus sukses,” tandasnya.
Dari Porda pertama yang diikutinya tahun 2002, ia berhasil menorehkan prestasi. Medali perak direngkuhnya ketika itu.
”Waktu itu saya langsung berpikir bahwa ternyata juara itu orang bisa terkenal. Juga ada duitnya, dari hanya mendayung. Kan masih anak-anak. Dikasih uang banyak sebagai hadiah langsung kaget,” katanya sambil tertawa ringan.
Oleh Anwar, ada seorang pengurus dari olahraga selancar angin yang begitu diingat jasanya. Namanya Malik. Saat menjabat sebagai kepala dinas di Pemprob Sulsel.
”Dia yang membawa saya ke olahraga dayung waktu itu. Ketika pertama kali ikut Porda di Palopo, dia bilang ke saya, kalau tidak dapat medali dari Porda kami jalan kaki dari Palopo ke Makassar. Saya menangis waktu itu dan menjadikannya sebagai cambuk untuk meraih medali, hingga akhinya dapat medali,” terangnya.
Sejak saat itu dia pun sering terjun di setiap event, seperti kejurnas baik junior maupun senior. Prestasinya pun semakin bagus.
Even skala internasional pada gelaran Sea Games 2021 merupakan yang keenam kalinya diikuti Anwar Tarra. Dimulai dari 2007. Dari keikutsertaannya itu, ada 14 medali emas Sea Games yang dikoleksinya. Untuk medali lainnya dari berbagai event yang diikuti selama ini, Anwar menyebut jumlahnya lebih dari 100-an.
Anwar biasa bertarung di kelas single fighter untuk kano 1 perorangan. Juga kano empat 500 meter. Termasuk traditional boat race atau dragon boat. Untuk yang terakhir, lebih banyak medalinya untuk Sea Games dibanding nomor kano.
”Kalau single event tidak terhitung jumlahnya. Seperti kejuaraan Asia, Asia Tenggara, bahkan Eropa. Saya pernah masuk finalis empat besar dunia di tahun 2017,” bebernya.
Untuk mencapai prestasi itu, Anwar mengaku selalu percaya diri dan yakin bahwa kalau kita kerja keras dan mau, tidak ada kata tidak untuk meraih keberhasilan. Termasuk dorongan dan dukungan dari orang tua, keluarga, istri, serta anak-anak.
”Setiap saya down atau pada saat saya turun, karena atlet tidak selalu di atas, anak-anak saya biasa memberi motivasi. Mereka bilang, ayah kenapa kalah. Tidak boleh. Harus nomor satu. Di situ saya selalu berpikir, anak saya yang kecil saja tidak mau kalah. Untuk itu saya harus menjadi motivasi bagi mereka dan memberi contoh untuk generasi berikutnya. Saya Saya akan bina mereka. Mudah-mudahan ada Anwar Tarra yang selanjutnya di luar anak saya. Atau mungkin atlet Sulsel berprestasi yang akan saya bina dan bisa mengganti saya,” jelasnya.
Dari tiga anaknya saat ini, putra keduanya sudah terjun di olahraga dayung. Bahkan lolos untuk ikut Porda di Sinjai pada dayung dragon boat.
Tentang Sea Games di Vietnam yang baru diikuti Anwar Tarra, ada hal yang ramai dan tranding di tingkat nasional. Ketika itu ia sudah hampir pingsan.
”Saat itu saya berpikir buat Indonesia, Sulawesi Selatan, kampung halaman saya di Gowa. Semua orang berharap saya harus meraih medali emas. Pesan saya kepada pelatih, siapkan saya minyak angin dan alat bantu pernapasan. Karena saya siap mati hari ini. Itu tekad saya. Yang jelas, saya siap menjadi yang terdepan untuk finihs,” terangnya.
Usianya memang tak lagi muda. Namun semangatnya tetap membara. “Selama saya tidak tergoyahkan di timnas atau di Sulsel, saya tidak akan menyerah,” tegasnya.
Berkat prestasinya di olahraga dayung, Anwar Tarra kemudian menjadi aparatur sipil negara (ASN). Ia ditempatkan di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel. Anwar juga menjadi pelatih untuk atlet dayung Sulsel dan Gowa.
Tak lupa Anwar menyampaikan terima kasih kepada yang telah memberikannya dukungan selama ini. Di antaranya Gubernur Sulsel, Kadispora Sulsel Andi Arwien Azis, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, serta Ketua Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kabupaten Gowa Hasanuddin Kamal. (*/rus)

