pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Awali dari Tukang Taman, Korbankan Sarung Demi Room Boy

Ambo Tuo, GM Dalton Hotel Makassar

TAK ada kesuksesan yang diraih dengan mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras untuk menggapainya. Bahkan memulai dari titik bawah sekalipun.

NAMANYA Ambo Tuo. Ia lahir di Bone, 24 April 1970. Saat ini menjabat sebagai General Manager (GM) Hotel Dalton Makassar. Siapa sangka, perjalanan karir untuk mencapai posisinya yang sekarang ia awali dari menjadi tukang taman dan gunting rumput hotel.

”Saya masuk industri hotel di tahun 1989. Sudah cukup lama. Saya tertarik karena awalnya melihat orang yang kerja di hotel itu selalu rapi. Yang dilayani tamu-tamu hebat. Karena terinspirasi, saya mau seperti orang-orang yang kerja di hotel itu,” tuturnya ketika menjadi tamu untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.

Tahun 1989 menjadi awal mulanya. Makassar City Hotel ketika itu menjadi tempat memulai karir. Ia mendapat tugas sebagai gardener alias tukang taman. Tugasnya menggunting dan mananm rumput.

”Saya belajar dari pekerjaan itu. Ketika melihat orang dari bagian lain, saya terinspirasi lagi. Saya belajar lagi. Saya harus tahu apa yang dilakukan di bagian lain. Jadi begitu selesai tugas selesai pada jam empat sore, saya minta kepada pimpinan untuk belajar di bagian lain dan disetujui,” ujarnya.
Jenjang karir berikutnya adalah room boy. Ada kisah yang tak bisa dilupakan oleh Ambo Tuo ketika hendak dipromosikan di posisi ini. Ia harus mengobarkan selembar kain sarung yang dibawanya dari kampung.
”Saya kan dari kampung. Ada sarung yang saya bawa. Sarung itu kan biasa kalau tambah lama kayak mengeper dan semakin mengecil. Saya kemudian gunting. Untuk apa? Saya pakai untuk belajar latihan memasang sprei tempat tidur. Jadi setiap pulang kerja, saya selalu latihan di rumah. Setelah mahir dari latihan dengan sarung itu, saya baru masuk kamar. Apa yang saya lakukan melalui latihan dengan menggunakan sarung itu ternyata bermanfaat ketika bekerja di kamar,” jelasnya.
Ada satu prinsip yang dipegang teguh oleh Ambo Tuo dalam bekerj. Ia selalu enjoy. Menurutnya, seberat apapun pekerjaan jika dibawa enjoy akan terasa ringan dilakukan. Begitu pula sebaliknya.

Karenanya, dia pun tak pernah berpikir akan menduduki jabatan sebagai GM seperti saat ini. Dirinya hanya mengerjakan tugas yang diamanahkan kepadanya. ”Ketika diberi tugas harus diselesaikan dengan baik, karena besok akan ada lagi yang lain,” imbuhnya.
Karena pimpinan melihat kinerja yang baik. Ambo Tuo akhirya dipindahkan ke bagian lain dengan jabatan yang tak pernah disangka-sangkanya, yaitu asisten housekeeper. Di tempat ini ia mengaku belajar lagi.

Ketika itu pulalah Ambo Tua memasang target, bahwa satu tahun dirinya harus naik lagi. Ia mengibaratkan, kalau tidak ada target dalam bekerja seperti air yang mengalir begitu saja. Ketika ada pematang air langsung berhenti mengalir. ”Tapi saya tidak. Saya harus bisa melewati pematang itu,” jelasnya.

Ia kemudian mendapat kepercayaan sebagai executive housekeeper. Namun karena keluarga, ia memilih pindah kerja di Hotel Quality (saat ini Almadera) pada Mei 2000.
Lima tahun di Quality, Ambo Tuo kemudian dipindahkan ke Claro. ”Saya bukan menolak untuk dipindahkan. Saya mengukur kemampuan ketika itu. Dengan kondisi 333 kamar di Hotel Claro dengan posisi sebagai executive housekeeper, saya khawatir jangan sampai mengecewakan seseorang, pimpinan saya. Sampai empat kali dipanggil baru pindah. Itu di tahun 2007,” terangnya.

Ketika pindah di hotel yang berlokasi di Jalan AP Petta Rani itu, tingkat huniannya (okupansi) mencapai 90 persen. Artinya, ada 300 kamar yang terisi setiap harinya. ”Sebenarnya berat sekali. Tapi karena dibawa enjoy, tugas bisa dilaksanakan,” imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa orientasi berpikir orang yang bekerja di industri hotel adalah bagaimana mereka menciptakan tamu merasa nyaman. Merasa dirinya berada di rumah sendiri. Tidak ada pembatas antara orang hotel dengan tamu. Mereka berbaur layaknya saudara.

Ketika orang bekerja dengan membawanya enjoy, tanpa mengesampingkan masalah-masalah, itulah yang memotivasi untuk bekerja lebih baik. Ketika ada orang komplain, menurut Ambo Tuo, berarti itu hal positif. Karena menjadi penilaian bagi tamu seperti apa pelayanan yang diberikan. Semuanya menjadi pengalaman dan masukan.

”Saya biasa share kepada teman-teman kalau ada komplain atau masukan dari tamu, karena itulah kinerja kita. Yang menilai kita bagus atau tidak adalah tamu,” katanya.

Sebagai seorang pimpinan, Ambo Tua harus bisa menciptakan suasana kerja yang nyaman. Karena itu dibutuhkan support. Dia pun menekankan kepada karyawan agar apapun yang dihadapi bisa diselesaikan dengan baik.
”Ciptakan kepada tamu seperti mereka berada di rumah. Jangan bedakan tamu baru dan lama. Semuanya sama. Jangan juga melihat dari cashingnya. Kalau handphone lihat cashingnya bagus, tapi awam dengan mesin kita tidak tahu apakah sudah dikerja atau tidak. Jadi siapapun yang datang di hotel itu adalah tamu, sehingga harus dilayani layaknya tamu lainnya. Itu yang harus dijaga,” tandasnya. (*/rus)




×


Awali dari Tukang Taman, Korbankan Sarung Demi Room Boy

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link