pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Gelora Perlu Dentuman, Ummat Belum Ramah di Media

Dari Gaspol Partai Pendatang Baru Mencari Simpati di BKM

MAKASSAR, BKM — Dua partai baru di Sulawesi Selatan siap menghadapi verifikasi faktual untuk bersaing pada kontestasi pemilu legislatif (pileg) 14 Februari 2024 mendatang. Kedua partai tersebut yakni Partai Gelora bentukan Anis Matta, dan Partai Ummat yang digagas oleh Prof Dr Amien Rais.

Lantas seperti apa langkah yang dilakukan kedua partai tersebut untuk mencari simpati di 24 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan? Hal ini terangkum dalam sesi Perbincangan Soal Politik (Gaspol) yang disiarkan secara live streaming dari studio Berita Kota Makassar (BKM) Lantai III Gedung Graha Pena, Selasa (19/7).
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Ummat H Abd Hakim, dan Sekretaris DPW Partai Gelora Sulsel Mudzakkir Ali Djamil menjadi narasumber dalam perbincangan yang mengusung tema Partai Pendatang Baru Mencari Simpati. Hadir pula pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Dr Luhur A Prijanto.
Mengawali penjelasannya, Abd Hakim mengemukakan, struktur partai yang dipimpinnya telah terbentuk pada 24 kabupaten/kota di Sulsel. Pihaknya kini sementara memperluas untuk membentuk pengurus di setiap kecamatan.

”Partai Ummat tetap mengandalkan motto tegakkan keadilan lawan kezaliman, agar cepat dipahami oleh masyarakat. Kini partai kami telah terbentuk hingga di tingkat DPD dan DPC,” ujar Abd Hakim.
Diakui Abd Hakim, kepemimpinan tokoh nasional seperti Amien Rais di Partai Ummat menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Amien Rais masih layak ”dijual” karena memiliki banyak ide yang cemerlang.

Soal target perolehan suara dan kursi pada pileg nanti, Abd Hakim optimistis dapat meraih satu kursi di setiap daerah pemilihan. “Kalau target, semua dapil dapat satu kursi,” ujarnya.
Hakim menambahkan, ada banyak tokoh yang sudah menyampaikan untuk ikut bergabung ke Partai Ummat. “Setelah pemilu akan kelihatan semua,” kata Abd Hakim yang belum bisa memutuskan akan maju untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI atau DPRD Provinsi Sulsel.

Berbeda dengan Partai Gelora yang tidak begitu menjual tokoh. Sebab Anies Matta dan Fahri Hamzah sudah jadi tokoh sebelum Gelora berdiri. “Kita jual gagasan. Ketokohan hanya salah satu bagian dari instrumen kemenangan,” ujar Mudzakkir Ali Djamil.
Menurut Muda –panggilan akrab Mudakkir Ali Djamil–, Gelora menyiapkan tiga langkah yang akan digerakkan. Pertama adalah struktur yang kini sudah terbentuk 60 persen di desa dan kelurahan. Termasuk kuota perempuan yang juga sudah terpenuhi.
”Kedua adalah kader dan anggota yang sudah ber-KTA. Kita sudah minta pengurus agar turun untuk menawarkan ide dan gagasan,” jelasnya.
Strategi ketiga adalah bakal calon anggota legislatif (bacaleg). “Kita rekrut dua tahap. Tahap pertama sudah 50 persen di semua tingkatan. Nanti setelah verifikasi faktual kita buka lagi tahapan kedua,” ungkap Muda.

Mantan anggota DPRD Makassar ini menambahkan bahwa Partai Gelora bermain di level menengah ke atas, selain di level nasional yang menjaga basis religius. “Gelora tak pernah masuk isu pembelahan, seperti antara Islam dan non Islam. Tapi kita masuk pada isu yang lebih luas,” tandasnya.
Tak hanya itu, lanjutnya, Partai Gelora lahir bukan karena konflik. Jika melihat struktur, ada wajah baru seperti Dedy Mizwar yang menerima gagasan dan ide dari Anis dan Fahri Hamzah.
Setiap program yang akan dilakukan Partai Gelora terlebih dahulu disurvei. Termasuk saat menggunakan nama maupun warna baju agar diinginkan oleh masyarakat. “Termasuk program menanam, gizi, dan isu perempuan,” jelas Muda yang tercatat sebagai bacaleg DPR RI ini.

Soal peluang Partai Ummat dan Gelora mendapatkan kursi, pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, meminta agar partai baru jangan dulu berpikir menang. Karena masih ada regulasi yang harus dilalui. Parpol baru harus bertarung pada tahap verifikasi terlebih dahulu.
“Partai baru perlu membangun pembeda dengan partai yang sudah punya kursi dan basis ideologi dan basis massa. Tantangan Partai Ummat, bagaimana agar gagasan Amien Rais harus diturunkan agar menjadi penarik ummat. Kita berharap partai yang baru lahir jangan hanya hadir ketika verifikasi, tetapi harus menjawab sejumlah kegelisahan warga. Partai baru harus punya dentuman. Kalau tidak ada dentuman bisa jadi tidak ada suaranya yang terdengar dengan waktu yang tepat,” jelas Luhur.
Menurut Luhur, jika Partai Gelora butuh dentuman, maka Partai Ummat belum ramah di media. “Kita berharap parpol baru punya pembeda, terutama dalam pembuatan kebijakan. Partai Ummat perlu tim media atau humas yang baik untuk memperkenalkan partai agar bisa hadir di perbincangan publik,” pungkasnya. (rif)




×


Gelora Perlu Dentuman, Ummat Belum Ramah di Media

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link