MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar menurunkan tim terpadu menertibkan anak jalanan (anjal) di sejumlah jalan protokol, Rabu (27/7). Mereka dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Makassar Fatmawati Rusdi. Melibatkan personel dari Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Satuang Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Penyisiran dimulai dari Balai Kota Jalan Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, Ratulangi, Landak, Veteran sampai ke Masjid Raya. Selanjutnya berbelok ke Urip Sumoharjo, Fly Over, belok ke AP Pettarani, Hertasning, Adhyaksa, dan terakhir di Rumah Perlindungan Trauma Centre (RPTC) Jalan Abdullah Daeng Sirua.
Kepala Dinas Sosial Auliah Arsyad, menjelaskan jumlah yang terjaring 12 orang, terdiri dari tujuh anak jalanan dan lima gelandangan pengemis. Setelah dilakukan pendataan, ternyata ditemukan ada gelandangan bersama anaknya yang terjaring merupakan warga Kabupaten Gowa. “Ada ibu dan anak yang terjaring merupakan warga Gowa. Ada mobilnya ternyata,” ungkap Auliah.
Selanjutnya, seluruh anjal dan gepeng yang terjaring didata dan diassesment. Sesuai standar operasional prosedur (SOP), mereka akan dibina selama tiga hari di shelter sebelum dikembalikan ke rumah masing-masing.
Sementara Kepala Dinas P3A Makassar Achi Soleman, menerangkan pihaknya khusus mendata untuk anak-anak yang terindikasi merupakan korban kekerasan. Setelah melalui proses tanya jawab ternyata ada anak yang mengalami kekerasan oleh orang tuanya. Ada pula ibu yang mengalami kekerasan oleh suaminya.
“Mereka ini dimanfaatkan turun ke jalan (mengemis). Kami melakukan pembinaan dan pendekatan secara persuasif,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Muhyiddin Mustakim, menjelaskan pihaknya menunggu data hasil assesment dari Dinas Sosial dan DP3A terkait anak jalanan terjaring yang putus sekolah. Pihaknya akan memfasilitasi mereka untuk memberikan sekolah gratis nantinya.
Ternyata, dari hasil bincang-bincang dengan salah satu anjal yang terjaring, yang bersangkutan putus sekolah saat pandemi covid terjadi. Ketika harus sekolah daring, ia tidak punya fasilitas gawai untuk belajar. Akhirnya berhenti sekolah.
“Jadi kita tunggu datanya. Dari anak-anak yang terjaring berapa yang putus sekolah. Selanjutnya kita fasilitasi masuk sekolah negeri terdekat sesuai dengan tempat tinggalnya,” kata Muhyiddin.
Ada kisah haru saat assesment anak jalanan dilakukan di RPTC. Ketika itu Wakil Wali Kota Makassar Fatmawati Rusdi melihat dua anak pemulung lewat. Dia kemudian memanggil dua anak lelaki yang ternyata bersaudara tersebut. Mereka diranya-tanya kenapa memulung. Ternyata mereka turun ke jalan memungut botol karena ingin membiayai neneknya yang sedang sakit.
Tanpa disadari Wawali meneteskan air matanya. Dia pun menginstruksikan dua anak tersebut untuk diberi pakaian bersih dan makanan. Selanjutnya kedua anak itu didata. Ternyata keduanya sekolah di swasta. Wawali pun memerintahkan Kadis Pendidikan untuk memindahkan kedua anak tersebut ke sekolah negeri gratis.
Wawali mengatakan, penertiban anjal ini adalah program Pemkot Makassar, sekaligus juga untuk menyukseskan program semua anak harus sekolah. ”Selain itu, kita berharap tidak ada lagi anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang turun ke jalan. Kita target Makassar zero anjal dan gepeng. Apalagi baru-baru ini Makassar mendapat penghargaan Kota Layak Anak,” ungkap Wawali.
Dia meminta agar stakeholder terkait memberikan pembinaan yang maksimal kepada para anjal serta gepeng yang terjaring supaya mereka tidak lagi turun ke jalan. (rhm)

