MASA jabatan AKBP Zulanda sebagai Kepala Satuan Lalu Lintas di Polrestabes Makassar masih seumur jagung. Kurang lebih tiga bulan amanah itu diembannya. Walau begitu, sebuah gebrakan telah dilakukannya. Ada pula cetusan ide menarik tentang pemanfaatan zebra cross untuk akse penyeberangan orang.
JIKA menyebut jembatan Barombong yang ada di perbatasan Makassar dan Kabupaten Gowa, macet menjadi diksi yang selalu disebut para pengendara ketika melintas. Pemandangan itu selalu tersaji pada pagi hari pukul 06.00-08.00 Wita, dan di sore hari pukul 16.00-1800 Wita.
Hal itu yang mengundang AKBP Zulanda untuk berbuat sesuatu. Penanganan macet di titik tersebut menjadi salah satu fokus perhatiannya di awal menjabat.
Dalam siniar yang tayang di kanal Youtube Berita Kota Makassar, AKBP Zulanda menyebut bahwa dirinya melihat keluhat masyarakat melalui media serta medsos terkait kemacetan di jembatan Barombong. Selanjutnya ia melakukan analisa di lokasi. Hasilnya, keluarlah kebijakan untuk melakukan uji coba rekayasa lalu lintas di titik tersebut.
”Kami bersama Dishub terlebih dahulu melakukan uji coba. Tidak langsung menerapkannya. Nanti setelah uji coba dan dinyatakan berhasil, barulah dipatenkan dengan memberikan rambu-rambu di lokasi tersebut,” terang Zulanda.
Disebutkan Kasat Lantas, kepadatan arus di jembatan Barombong berlangsung temporer pada pagi dan sore hari. Tidak berlangsung sepanjang waktu. Ia menilai menilai kepadatan yang terjadi di sana diakibatkan oleh terjadinya corssing (penyeberangan), pemotongan arus kendaraan. Akibatnya, pada saat pengendaraa memotong dari kanan ke kiri atau sebaliknya, menyebabkan tundaan-tundaan sehingga menimbulkan efek domino yang kesannya terjadinya padat merayap.
”Dari pantauan yang dilakukan, saya kemudian membuat rekayasa lalu lintas yang terlihat simpel, biasa dan tidak terpikirkan selama ini,” ujarnya.
Untuk kendaraan yang datang arah luar kota hendak menuju Makassar, di ujung mulut jembatan terdapat simpangan menuju ke perumahan yang menyusuri sungai. Di jalan tersebut sering terjadi tidak sabarnya pengendara yang ingin berbelok menuju Makassar. Hal inilah yang mengakibatkan tundaan berlangsung walau sebentar tetapi berlipat-lipat.
Disebutkan AKBP Zulanda, dari pantauan yang dilakukan, pada pagi hari, kendaraan yang melintas di jembatan Barombong perbandingannya 1:80. Artinya, satu kendaraan datang dari arah Makassar sementara 80 dari luar Makassar. Karena itu, di ujung mulut jembatan dilakukan penutupan total.
Dari dua hari menerapkan rekayasa lalin di titik tersebut dinilai sukses. Namun pihaknya masih akan melihat pada Senin, Selasa, dan Rabu. Jika semuanya berlangsung sukses, nantinya akan dipatenkan. Bersama dengan Dishub, akan dibuat rambu-rambu yang bersifat stasioner.
Diakui AKBP Zulanda, penggunaan jembatan Kaccia sebagai alternatif untuk memecah kepadatan arus lalu lintas sudah memperlihatkan hasil. Namun, Zulanda memperkirakan situasi ini hanya bisa bertahan satu hingga tiga tahun ke depan. Karenanya, ia mengingatkan perlunya membangun jembatan kembar di sana.
”Harapan kita pemkot bisa berkolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk membangun jembatan kembar. Sehingga akan ada dua jembatan dengan masing-masing satu arah. Besarnya arus lalu lintas bisa terakomodir dari jembatan baru yang hadir,” jelasnya.
Bila jembatan kembar tidak segera dihadirkan, dikhawatirkan nantinya akan berlangsung sebuah kepadatan yang betul-betul nyata. Jika saat ini berlangsungnya hanya pagi dan sore hari, nantinya bisa saja dari pagi sampai sore hingga malam hari. Karena tidak dipungkiri, Makassar ini merupakan kota besar dan metropolitan.
Bila rekayasa lalu lintas tidak juga berhasil mengatasi kemacetan di jembatan Barombong, apa langkah selanjutnya yang akan diambil? Menurut Zulanda, pemberlakuan ganji genap menjadi solusi terakhir. Hal itu pernah diterapkan terhadap pemudik yang akan masuk Makassar pada lebaran lalu.
”Ganji genap akan diterapkan sebagai resep terakhir, apabilan nantinya rekayasa lalu lintas yang kita lakukan efektivitasnya tidak begitu mendukung,” imbuhnya.
Polanya, lanjut AKBP Zulanda, jika hari itu berlaku untuk kendaraan dengan nomor polisi genap, maka dia mendapatkan jatah untuk lewat pada pukul 07.00 hingga 08.00 Wita. Sementara yang nomor ganjil lewat pada pukul 06.00 hingga 07.00 Wita.
”Bisa saja nanti akan dievaluasi untuk dibuat per minggu. Seminggu untuk nomor genap lalu seminggu nomor ganjil. Minggu berikutnya diputar lagi. Kita akan memperhitungkan efektivitasnya. Tahapan yang akan dilakukan sesuai dengan terapinya. Mulai dari ringan. Jika tidak berhasil kita ke terapi yang sedang. Bila ganji genap diterapkan di sana, ini menjadi yang pertama kali di Indonesia, ganji genap diterapkan untuk lewat di jembatan,” terangnya.
Di bagian lain penjelasannya, Zulanda juga mengungkap tentang fenomena Fashion Week di zebra cross jalanan di kawasan Centrepoint of Indonesia (CoI). Kreasi tersebut, diakui Zulanda, menimbulkan ide dan pemikiran bagi dirinya untuk melakukan sesuatu.
”Fenomena ini kemudian mengingatkan saya dan kita semua tentang fungsi zebra cross yang terlupakan, yaitu sebagai tempat menyeberang. Mengingatkan kita tentang arti pentingnya zebra cross, tanpa masyarakat sadari,” jelasnya.
Untuk itu, Zulanda kemudian mengajak mereka yang ada dalam komunitas tersebut untuk berkolaborasi. Karena apa yang mereka lakukan sudah melahirkan dalam kepalanya bahwa zebra cross itu untuk menyeberang. Demikian pula dengan masyarakat, akan terbangun kesadarannya bahwa zebra cross bukan tempat untuk fashion show. Zulanda pun telah mengajak peserta Fashion Week di CoI untuk pindah ke kawasan Car Free Day (CoI). (*/rus)

