MAKASSAR, BKM — Anggota Komisi V DPR RI Hamka B Kady berharap, polemik seputar proyek kereta api segera dihentikan. Ia menyarankan agar Balai Kereta Api, Pemprov Sulsel, dan Pemkot Makassar duduk bersama dan tidak berdebat di ranah publik.
“Pak Wali tentu punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Kemudian dari pihak kementerian, dalam hal ini Balai Kereta Api, juga tentu punya pertimbangan secara teknis dan biaya, sehingga kereta api yang melalui Kota Makassar konsepnya bukan elevated,” kata Hamka, Selasa (9/8).
Anggota Badan Anggaran DPR RI ini menjelaskan, membangun rel kereta api yang elevated biayanya cukup mahal. Selain itu, elevated bisa dilakukan kalau terpaksa, karena tidak ada jalurnya.
Ia mencontohkan LRT Jakarta. Jalurnya tidak memungkinkan kalau tidak elevated. Makanya dilakukan evelated. Begitupun kereta cepat Jakarta-Bandung, yang sekarang bermasalah karena terjadi pembengkakan biaya yang tidak sedikit.
“Itulah contoh yang konkrit. Kita jangan terlalu berprasangka. Mari duduk berpikir secara jernih, apakah yang dilalui rel kereta api di Maros-Makassar ini memang tidak ada jalannya untuk di bawah. Konsep elevated itu kalau dia memang ada di perkotaan yang padat penduduknya, dan tidak ada lahan yang bisa dijalani secara normal, itu baru elevated,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur, Hamka mengaku sudah mencermati laporan yang disampaikan Balai Kereta Api. Di lokasi tersebut tidak ada pemukiman padat yang dilalui.
Meski demikian, politisi Partai Golkar ini mengaku menghargai pemikiran Wali Kota Makassar. Tetapi dalam kondisi-kondisi seperti ini, semua pihak harus berpikir dengan baik.
“Jangan sampai kita berharap elevated, tapi malah mangkrak akibat tidak adanya biaya. Lagi-lagi saya katakan bahwa membangun kereta api harus cermat. Jangan kita main-main, karena ini persoalan uang, investasi,” tegasnya.
Ia berharap, pembangunan rel kereta api Maros-Makassar menuju New Port ini bisa diselesaikan dengan baik. “Mari sama-sama mencari solusi, ini prinsip bahwa kalau kita mau memutuskan sesuatu, harus memikirkan masyarakat, termasuk anggarannya,” imbaunya.
Hamka menambahkan, yang ingin dipercepat adalah bagaimana menghubungkan kereta api itu ke New Port. Karena kereta api bukan hanya untuk angkut orang, tapi juga barang.
“Prinsip bisnisnya di sini adalah ada dua pelabuhan besar yang dihubungkan kereta api ini. Garongkong, Pabrik Semen Tonasa, jadi alur barang juga bisa maksimal,” jelasnya.
Konsep kereta api yang dimulai di Sulsel ini, sambung Hamka, konsepnya adalah Kereta Api Trans Sulawesi. Diharapkan Makassar-Parepare bisa selesai. Kemudian lanjut ke Mamuju, lalu ke Palu, Kendari, dan akhirnya tiba di Manado, sehingga terhubunglah kereta api trans Sulawesi.
“Itulah master plan kereta api ini, untuk jangka panjang. Jangan lagi berdebat soal elevated atau non elevated, yang terpenting difungsikan secara cepat,” pungkasnya.
Harapan senada datang dari Ketua Komisi D DPRD Provinsi Sulsel yang membidangi pembangunan infrastruktur Andi Rachmatika Dewi. Menurutnya, permasalahan ini sebaiknya segera dikomunikasikan dengan baik. “Sebaiknya dikomunikasikan dengan baik. Kan tujuannya sama-sama untuk kepentingan masyarakat di Sulsel,” ujar legislator Partai Nasdem Sulsel ini, Selasa (9/8).
Terpisah, akademisi, Prof Sakti Adji Adisasmita, memiliki pandangan soal konsep proyek rel at grade dan elevated yang kini menjadi perdebatan panjang. Ketua tim evaluasi dan manfaat peningkatan jalur kereta api antara Jakarta Kota-Tanjung Priok (Kementerian Perhubungan) tahun 2018 ini mengaku tidak ingin masuk pada perdebatan antara pemkot, pemprov maupun balai. Namun sebagai akademisi menyumbangkan pikiran untuk akselarasi trasportasi massal yang akan digunakan masyarakat umum di Sulsel.
“Saya tak campuri urusan perdebatan. Saya memberikan pandangan, sebagai konsep pembangunan angkutan massal seperti kereta api, monorel, BRT, MRT, semua daerah/kota mempunyai karakter wilayah sendiri sesuai kondisi wilayah dan tata ruangnya,” jelas Sakti Adji yang juga Ketua Program Studi (KPS) S3 Teknik Sipil, Fakultas Teknik Unhas.
Menurutnya, perlu ada kajian secara terintegrasi baik aspek teknis, tata ruang, lingkungan, operasional, sosial budaya, kelembagaan, ekonomi finansial, dan aspek lainnya, juga terkait pertumbuhan kota, supply (infrastruktur) dan demand.
“Mau rel at grade atau elevated KA, mempunyai kelebihan karena mengangkut jumlah penumpang/barang dalam jumlah yang banyak. Tentu, harus melewati jalur tidak sebidang atau persimpangan (silang pemotongan) sehingga tidak terjadi kemacetan, serta tidak mengganggu jalan umum,” pungkasnya. (jun-rif)

