pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

WR II UINAM Dilapor Polisi Kasus Dugaan Penganiayaan

MAKASSAR, BKM — Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) Prof Dr Wahyuddin Naro harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Ia dilaporkan ke Polrestabes Makassar, Selasa (13/9) terkait kasus dugaan penganiayaan.
Korban berinisial L (40), dilaporkan dianiaya di Jalan Kompleks BPD Alauddin, Makassar pada pagi hari pukul 07.45 Wita. Penyebabnya ia tidak ketahui.
Seorang saksi mata bernama Andi Muh Rusyidi, mengatakan korban merupakan orang tua salah seorang santri Kuttab Al-Fatih, sebuah sekolah yang berada dalam kompleks perumahan BPD Alauddin. Bermula ketika akses jalan ditutup karena matinya kucing milik Wahyuddin, diduga sebagai penyebab penganiayaan.
Terkait kejadian tersebut, Rusyidi mengaku sudah dimintai keterangan oleh polisi. Ia menjadi saksi dalam kasus dugaan pemukulan oleh petinggi UIN Alauddin Makassar itu.

“Saya barusan dimintai keterangan di kepolisian terkait pemukulan kepada salah satu orang tua santri yang telah dilaporkan. Ada banyak yang menyaksikan pemukulan itu. Kejadiannya kemarin (Selasa, 13/9),” terang Rusyidi, Rabu (14/9).
Dijelaskan Rusyidi, kejadian bermula ketika istri Wahyuddin menutup akses jalan dengan kendaraannya karena kucingnya mati. Diduga hewan peliharaan itu mati karena terinjak mobil. Sesaat setelah kejadian, berdatangan orang dari UINAM yang mengenakan seragam putih, termasuk Satpam yang jumlahnya sekitar 20 orang. Mereka melakukan pengadangan terhadap Rusyidi dan istrinya.

”Bahkan beberapa orang dari mereka menarik pakaian dinas saya dan mengambil paksa kunci mobil saya, namun akhirnya kami visa lewat. Tapi di ujung jalan ada pihak keluarga dari bapak tersebut melakukan pemukulan. Untungnya bisa ditahan,” ungkap Rusyidi.
Akibatnya akses untuk keluar masuk sekolah pun menjadi tertutup. Sebelumnya, pada Senin lalu Prof Wahyuddin juga sempat menemui pengelola sekolah Al Kuttab. Ia bermaksud melihat rekaman CCTV terhadap kendaraan yang melintas yang menyebabkan kucing kesayangannya mati terlindas.
“Tapi dijawab sama pengelola dan dicek tidak ada satupun kendaraan yang dimiliki orangtua santri yang melakukan itu. Mungkin tidak terima atau bagaimana, makanya ditutup. Sehingga muncul keributan karena semua mau keluar. Tiba-tiba dia datang dan langsung memukul bapak yang jadi korban ini. Padahal kasihan dia ini tidak tahu apa-apa, karena kita sama posisinya habis antar anak-anak ke sekolah,” jelasnya.

Sebelumnya, Prof Wahyuddin juga disebutkan sempat bersitengan dengan warga setempat karena membatasi akses masuk dengan membawa petugas keamanan yang diduga dari kampus ke dalam komplek perumahan yang satu akses dengan sekolah.
“Satu kali dia batasi orang masuk, kemudian diprotes warga. Kedua kalinya dia bawa sekitar 20 petugas keamanan dari kampusnya untuk semua kendaraan yang keluar dia mau periksa. Dia juga sempat merasa terganggu atas lahan wakaf didirikannya sekolah santri. Kita tanya kenapa, apakah tidak suka suara mengaji atau bagaimana,” terang Rusyidi lagi.

Diketahui, kompleks Perumahan BPD, di Jalan Sultan Alauddin dan Sekolah Wakaf Pendidikan Kuttab Al-Fatih hanya memiliki satu akses keluar masuk. Sebanyak 30 warga sudah bertanda tangan untuk menyetujui pembangunan sekolah di situ.
Rusyidi sangat menyesalkan peristiwa pemukulan dan pengadangan tersebut. Apalagi melibatkan petugas keamanan dari luar.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Ronal Simanjuntak membenarkan adanya laporan tersebut. Namun, ia belum bisa memastikan apa motif terjadinya pemukulan. ”Kalau motifnya belum diketahui. Saya cek dulu laporan korban, karena masih sebatas laporan,” ujarnya.
Kasi Humas Polrestabes Makassar AKP Lando, mengatakan saat ini penyidik Reskrim masih dalam proses administrasi. Setelah itu akan lanjut ke proses penyelidikan dan penyidikan dengan memanggil saksi-saksi di TKP untuk dimintai keterangan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Hubungan Masyarakat (Humas) UIN Alauddin Makassar Andi Jamaluddin mengaku tidak mengetahui adanya laporan pemukulan yang diduga dilakukan WR II Prof Dr Wahyuddin Naro terhadap warga. Karena Prof Wahyuddin masih tetap melakukan aktivitas seperti biasanya di kampus.
“Tidak ada penyampaikan dan saya juga baru tahu kalau ada seperti itu. Ya, tentu kalau ada laporan masuk ke kampus mengenai apapun itu kita pasti ditindak lanjuti. Tapi Pak Prof (Wahyuddin Naro) masih melakukan aktivitas seperti biasanya,” ujarnya.
Namun, lanjut Andi Jamaluddin, jika ada pejabat yang terbukti dan dilaporkan menyalahi jabatan dan tugasnya akan disikapi dan diproses oleh pihak Komisi Penegakan Kode Etik (KPKE) universitas. ”Sampai sekarang tidak ada laporan apapun kami terima. Kalau ada laporan tentu kami proses, karena kami punya KPKE universitas yang menangani jika ada pelanggaran,” tandasnya.
BKM berusaha untuk meminta penjelasan dari Prof Wahyuddin Naro terkait laporan polisi yang dialamatkan kepadanya, namun belum berhasil. (jul-ita)




×


WR II UINAM Dilapor Polisi Kasus Dugaan Penganiayaan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link