USIANYA masih terbilang muda, 26 tahun. Siapa sangka, pria kelahiran 6 April 1996 ini adalah seorang owner sebuah usaha dengan branding YC Group, singkatan dari Young Creative. Tak hanya satu jenis usaha yang dikelola, tapi ada beberapa.
NAMA lengkapnya Surya Darmawan. Akrab disapa Uya. Ia menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Kisahnya mengalir dari mulai merintis usaha hingga bisa seperti sekarang, dengan memiliki YC Entertainment, YC Musik, YC Film, YC Photo Studio, YC Store, dan YC Creative Cafe.
Uya sudah mandiri sejak dari kecil. Di usianya yang masih enam tahun ia sudah ditinggal oleh ayahnya. Dirinya kemudian dibesarkan sang ibu seorang diri. Sehingga untuk menjadi orang kaya, menurutnya sangat susah. Walau begitu, ia mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang strata dua (S-2).
”Saya ingin keturunan saya tidak merasakan apa yang saya rasakan. Untuk itu saya harus melakukan dan menciptakan sesuatu hal yang berbeda,” ujarnya.
Uya kecil awalnya bercita-cita ingin menjadi pemain bola. Mimpi itu disimpannya hingga duduk di bangku SMA. Sampai akhirnya pada tahun 2013 ia dan timnya menjadi runner up pada event Keker Futsal League (KFL) yang dilaksanakan Harian Fajar.
Namun, setamat SMA impian untuk menjadi pesepakbola andal kemudian ia kubur dalam-dalam. Di benaknya kala itu, bila di usia 17 tahun masih bermain bola di Makassar tidak akan berkembang dan tak bisa mendapatkan penghasilan. Menurutnya, di usia tersebut ia mestinya sudah di Jakarta jika hendak menjadi pemain bola profesional.
”Umurku sudah lewat. Bermain bola menjadi sekadar hobi. Akhirnya saya kemudian berpikir apa yang mesti saya lakukan selanjutnya. Tercetuslah sesuatu ketika kuliah, walau berbeda dengan latar belakang pendidikan saya yang jurusan keuangan,” ungkap Uya.
Sebenarnya, menurut Uya, awalnya ia hendak melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan olahraga. Hanya saja tidak lulus ketika mendaftar di sebuah perguruan tinggi negari. Akhirnya dia pun masuk ke perguruan tinggi swasta, tepatnya di Fajar Nitro.
”Waktu itu ada yang berbeda dan berubah pada diri saya. Karena harus kuliah di dalam ruangan yang saya sendiri laki-laki. Yang lainnya perempuan, sehingga menjadi paling gagah dalam kelas. Untuk jurusan keuangan perbankan di sana memang kebanyakan wanitanya,” terang Uya.
Ia menyebut, Nitro ketika dirinya masuk kuliah di tahun 2013, dikenal dengan lulusan terbaik di bidang entertaint. Salah satunya di bidang model. Mereka kerap menempati posisi juara dalam ajang pemilihan duta di Makassar. Akhirnya, Uya pun berkawan dengan banyak model waktu itu.
Insting untuk berusaha kemudian muncul. Menurutnya, harus ada sesuatu yang bisa menghubungkan dirinya dengan para model yang ada di kampusnya. Fotografer menjadi pilihan, karena bisa berjalan beriringan dengan model.
”Agar bisa lebih dekat dengan model saya harus menjadi fotografer. Akhirnya saya pinjam kamera teman untuk foto model-model itu, dan dibayarnya dengan ucapan terima kasih. Padahal ada juga alat yang saya rental dengan mengeluarkan budget,” tuturnya.
Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat. Uya beralasan, dirinya harus lebih dekat dengan teman-teman modelnya, sehingga terbangun networking dari situ. ”Jadi bukan uangnya yang dicari waktu itu. Saya butuh jaringan. Dengan terbukanya networking akan menghasilkan jaringan baru dan mendatangkan rezeki baru,” begitu prinsip Uya.
Setelah cukup memahami tentang dunia fotografi, Iya kemudian berusaha mencari tahu apa yang cocok untuk bisa mendapatkan penghasilan. Ia lalu meminta masukan temannya. Salah satunya mempelajari tentang dunia jurnalistik. Ada pula penawaran untuk film hingga forografer wedding. Bagi Uya, masing-masing ada kelebihannya.
”Jujur, waktu itu saya realistis untuk mencari uang. Akhirnya setelah membandingkan mana lebih berpeluang, ada fotografer wedding yang perputarannya cepat. Saya kemudian belajar freelance freelance,” ungkapnya.
Brand YC, diakui Uya, terbangun dari sebuah komunitas. Ketika itu di tahun 2013 setelah lulus SMA, ia berniat hendak menyumbangkan buku dan baju-baju bekas yang dimilikinya. Namun untuk sampai ke panti asuhan harus ada nama siapa yang menaunginya.
”Bersama dengan teman akhirnya muncul nama Pemuda Peduli. Tapi itu dianggap tidak keren. Dicoba pakai bahasa Inggris, Youngs Care yang kemudian disingkat YC. Nama itu disepakati. Dikumpulkan baju dan buku untuk dibawa ke panti. Tapi, ada lagi yang bilang masak mau ke panti tidak ada uangnya,” terang Uya mengenang kebersamaan dengan temannya ketika tu.
Akhirnya mereka berpikir bagaimana caranya bisa dapat uang. Waktu itu zamannya bazar, khususnya musik. Dibuatlah acara itu, hingga akhirnya mendapat keuntungan. Uang tersebut lalu dibawa ke panti asuhan.
Ketika kuliah di tahun 2014, Youngs Care berubah menjadi Youngs Creative. Tetap dengan brand YC. Event pertama yang digelar adalah konsep musik dengan menghadirkan band lokal.
Cerita kebersamaan dengan teman kembali terulang. ”Saya join dengan teman yang tempat kuliahnya beda-beda. Mereka adalah teman SMA. Kalau bikin bazar sendiri tentu di kampus sendiri. Yang saya buat adalah atas nama YC. Panitianya terdiri dari perwakilan dari kampus. Kupon bazarnya dijual di kampus masing-masing. Band lokal lainnya kembali dihadirkan,” ungkapnya.
Seiring waktu, YC kian dikenal. Tawaran pun berdatangan. Sebuah hotel yang baru buka menawarkan event untuk perayaan Valantine Days, sekaligus mempromosikan hotelnya. Ia meminta untuk dibuatkan konsep yang baru dan tidak biasa.
”Saya kemudian berpikir keras untuk itu. Akhirnya saya tawarkan konsep Valentine Days for Single. Jadi ini bukan untuk mereka yang berpasangan. Melainkan bagi para jomblo dipertemukan di acara itu. Akhirnya semua yang jomblo mau datang untuk ketemu jodoh di situ,” jelasnya.
Penawaran itu pun diterima, dan pihak hotel menyukainya. Event ini merupakan yang terbesar ketika itu. Hingga sekarang pihak masih memercayakan Uya untuk menggarap event yang dilaksanakannya. (*/rus)

