pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ungkap Sisi Lain Dunia Hiburan

Muhammad Zulfadel, Pemain Film

DUNIA hiburan kerap diwarnai intrik dan hal-hal di luar nalar normal. Ada sisi baik di sana. Namun, terdapat pula sisi negatifnya. Jika tidak pandai memilih dan memilah, bisa terjebak ke hal yang tidak baik. Begitu pula sebaliknya. Fadel mengisahkan hal itu.

NAMA lengkapnya Muhammad Zulfadel. Akrab disapa Fadel. Lahir di Kabupaten Gowa, 1 September 1996.
Pertama kali terjun di dunia film pada tahun 2017. Berawal dari setelah lulus SMA ia langsung hijrah ke Jakarta. Satu mimpi yang ingin digapainya adalah menjadi seorang aktor. Itu yang memang sudah diinginkannya sejak masuk duduk di bangku SD. Bermula dari seringnya bermain drama anak-anak, hingga akhirnya terobsesi untuk mewujudkannya.
Fadel berangkat sendirian ke ibu kota negara. Selama dua tahun ia melanglang buana di sana. Casting demi casting diikutinya. Hingga tak terhitung berapa banyak yang melakukan hal itu. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk balik ke Makassar.
Menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Fadel bercerita pengalaman yang tak akan pernah dilupakan selama hidupnya, yang mengharuskannya meninggalkan Jakarta walau cita-citanya sedikit demi sedikit sudah mulai nampak di depan mata.

”Di Jakarta itu saya mempercayai seorang abang. Kami jalan, ketemu anak dan istrinya. Waktu itu saya sudah lolos untuk sebuah judul sinetron. Abang telepon saya. Dek, lu kan udah jadi artis nih. Tidak mudah loh untuk jadi artis. Saya bilang, iya bang. Kenapa? Dia jawab, ke sinilah dulu, di hotel. Saya tanya lagi, ngapain? Kan mau shooting jam 5 subuh. Ke sini saja dulu yang hotel di Kemang,” ungkap Fadel menirukan percakapannya kalau.
”Dia ceplas ceplos saja bilangnya. Udahlah, tidur sama abang dulu. Terus terang saya tidak pernah menyangka. Hari itu juga saya langsung pulang ke Makassar. Feedbacknya memang seperti itu. Ini sisi hitam dari dunia hiburan yang cukup keras. Tapi tidak semua seperti itu,” tambah Fadel.
Fadel menyebut, dirinya belum beruntung untuk menjadi aktor di Jakarta. Namun, setidaknya sudah ada peran figuran yang telah dilakoninya dan mendapar bayaran.

”Untung waktu itu saya belum tanda tangan kontrak. Karena kalau sudah, otomatis saya harus ganti rugi 10 kali lipat dari bayaran yang disepakati,” terangnya.
Ketika balik ke Makassar, langkah pertama yang dilakukan Fadel adalah mendaftar kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia memilih jurusan Bahasa Inggris. Di kampus Fadel aktif bermain teater panggung.
Di dunia akting, Fadel kembali memulainya dari nol. Ia mengaku tidak diperhitungkan sama sekali di kota ini. Bermain peran dilakoninya setelah dipanggil karena direkomendasikan oleh temannya.

Beruntung, ia mendapatkan seorang mentor yang mengubah mindsetnya tentang keaktoran. Mentor itu bernama Tudi. ”Bang Rudi membuka cakrawala berpikir saya bahwa menjadi aktor tidak semudah yang dibayangkan. Tidak hanya bekal cantik dan ganteng,” terangnya.
Dalam berlakon, Fadel mengaku selalu melakukan riset ketika mendapatkan kepercayaan dari sutradar untuk sebuah peran. Selain itu, melakukan pendalaman karakter hingga penguncian karakter selama produkdi. Setelah produksi baru pelepasan karakter.
Namun, Fadel mengaku tak bisa melepaskan karakter yang diperankannya selama tiga bulan. Waktu itu biopik almarhum BJ Habibie yang dilakoninya.
Ketika di Jakarta, Fadel pernah bermain di Critical Village untuk festival internasional. Di Makassar, ada film berjudul Cinta untuk Langit, Suara yang Hilang, Pemberian Terakhir, dan Mappatuada. Untuk film bioskop lokal ada Rumah Tanpa Ibu.
Selain bermain film, Fadel juga mengikalnkan produk rokok, kentang, serta klub malam yang ada di Mamuju. (*/rus)




×


Ungkap Sisi Lain Dunia Hiburan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link