pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tubuh Santri Ponpes Lebam Dicubit Oknum Guru

Tak Terima Anaknya Dianiaya, Orang Tua Lapor Polisi

MAROS, BKM — Seorang oknum guru di Pondok Pesantren Al-Islah, Kabupaten Maros diduga melakukan tindak kekerasan kepada salah satu santri kelas VIII.

Kekerasan di dunia pendidikan ini dialami santri berinisial Fik yang masih berusia 13 tahun. Akibat kejadian tersebut, Fik mengalami lebam di tubuhnya.
Kepada orang tuanya, FiK mengaku dicubiti oleh oknum guru seusai salat Ashar pada Selasa (11/10).
Dari hasil pemeriksaan fisik Fik yang dilakukan orang tuanya, sedikitnya ada lima bekas luka cubitan yang terlihat merah keungu-unguan.

Tak terima dengan kondisi anaknya yang lebam saat menjalani proses belajar di pondok pesantren untuk menimba ilmu, orang tua Fik memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Maros.

Arul, kakak korban menuturkan, pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Bahkan untuk melengkapi berkas laporan, adiknya yang menjadi korban pemukulan oknum gurunya telah melakukan visum, sebagai salah satu bukti pendukung laporan.

“Orang tua saya sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Laporannya sudah diterima. Adik saya juga divisum. Kami tinggal menunggu hasil visumnya,” jelasnya kepada awak media, kemarin.

Arul mengatakan, laporan ke pihak kepolisian tersebut bernomor: STTLP/281/X/2022/SPKT/POLRES MAROS/POLDA SULAWESI SELATAN. Isi aduanya, yakni peristiwa pidana Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang KUHP Pasal 80 Ayat 1.

Arul menegaskan, pihaknya tidak menerima jika adiknya mendapat tindak kekerasan seperti itu.

“Kalaupun mau menghukum, tentu ada aturannya sendiri. Bukan tindakan kekerasan yang menimbulkan luka fisik dan trauma pada santri seperti ini,” ujar Arul sambil memperlihatkan luka fisik adiknya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekolah Pondok Pesantren Al-Islah Amin Duddin mengakui adanya kejadian tersebut.

Dia mengatakan, berdasarkan kronologi yang didapatkannya, saat kejadian seluruh santri baru selesai melaksanakan salat ashar. Biasanya, seusai salat siswa berdiri teratur berdasarkan saf salatnya.

“Saat itu, giliran santri di saf pertama yang berdiri duluan. Tapi ternyata santri Fik juga ikut berdiri, dan ketahuan oleh oknum guru. Pembinanya awalnya memberi nasihat, yang akhirnya mencubit,” jelasnya.

Amin sempat mempertanyakan kekuatan dan cara oknum guru tersebut mencubit. Sebab terlihat banyak lebam. “Yang saya heran, kenapa bisa keras sekali bekas cubitannya, karena yang bersangkutan tidak memiliki kuku yang panjang,” jelasnya.

Amin melanjutkan, setelah kejadian itu, oknum guru tersebut telah mendatangi rumah santri dan bertemu dengan orang tua untuk meminta maaf. Dia mengakui tindakannya.

“Kejadiannya sore hari setelah salat ashar. Pada malam harinya oknum guru tersebut sudah datang ke orang tuanya untuk meminta maaf,” terangnya. (ari/b)




×


Tubuh Santri Ponpes Lebam Dicubit Oknum Guru

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link