pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Delapan Meninggal Akibat Cuaca Ekstrem

Lima Warga dan 10 Rumah di Gowa Tertimbun Longsor

MAKASSAR, BKM — Cuaca ekstrem yang melanda sebagian wilayah Sulawesi Selatan dalam tiga hari terakhir tidak hanya menimbulkan banjir, tanah longsor serta bencana hidrometerologi lainnya. Tapi juga menelan korban jiwa.
Tercatat ada delapan orang meninggal dunia dalam peristiwa yang berlangsung secara terpisah, Sabtu (24/12). Masing-masing satu di Kota Makassar, dua orang akibat banjir di Kabupaten Maros, dan lima orang tertimbun longsor di Kabupaten Gowa.

Di Maros, seorang nenek bernama Johra Daeng Tasa (85) tewas mengambang di dalam rumahnya di Lingkungan Balle, Kelurahan Cempaniga, Kecamatan Camba. Sementara seorang balita yang masih berusia dua tahun menemui ajal akibat tenggelam di depan rumahnya di Desa Baruga, Kecamatan Batimurung.
Peristiwa yang dialami nenek Johra cukup menghebohkan warga setempat. Rumah korban merupakan satu dari ratusan kediaman warga yang terendam banjir sejak Sabtu pagi.

Sahabuddin, salah seorang warga Camba menuturkan, Johra tinggal seorang diri. Diduga ia meninggal saat melihat air masuk ke dalam rumahnya dan berusaha memindahkan barang-barang berharga miliknya. Johra diperkirakan terjatuh hingga tidak sadarkan diri di saat ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Korban ditemukan oleh tetangganya yang saat itu melihat pintu rumahnya tertutup di tengah banjir merendam rumah. Jenazah korban kemudian dibawa ke tempat tinggal keluarganya yang tak jauh dari rumah korban untuk disemayamkan.
Sementara balita malang yang tewas tenggelam di depan rumahnya Desa Baruga, Kecamatan Bantimurung, akibat lepas dari pengawasan kedua orang tuanya yang sibuk mengevakuasi barang berharga miliknya saat banjir merendam permukiman warga. Kesedihan kedua orang tua balita itu pun tak terbendung saat mengetahui buah hatinya ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Korban Longsor

Di wilayah dataran tinggi Kabupaten Gowa, tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong dan Parangloe, bencana tanah longsor terjadi. Lima orang meninggal dunia dalam peristiwa ini.

Di Tinggimoncong, longsor terjadi di Bangkeng Tabbing, Lingkungan Bontotene, Kelurahan Bontolerung, Sabtu (23/12) pukul 03.00 Wita dinihari. Ada tiga unit rumah yang terdampak longsor. Masing-masing satu unit rumah tertimbun material longsoran dan dua unit rumah lagi milik Halim dan Dg Conci terbawa arus sungai Manappa, anak sungai Jeneberang di bagian hulu yang mengarah ke hilir sungai Jeneberang.
Sementara dari hasil pendataan Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gowa, diketahui ada tiga warga tewas tertimbun. Namun laporan akhir Pemerintah Kecamatan Tinggimoncong mendata empat orang korban tertimbun.

Korban meninggal dunia semuanya telah berhasil ditemukan. Yakni Multazam Syarif alias Hasan, Anwar dan Muhammad Arsyad. Ketiganya adalah warga Segeri, Kabupaten Pangkep. Sementara satu korban lainnya adalahSompa bin Dupe (70), warga Panaikang, Kelurahan Bontolerung. Nenek ini ditemukan tertimbun material longsoran di area persawahan Parangkeke, tak jauh dari kampung Dusun Bontote’ne yang menjadi titik longsor.
Kepala BPBD Gowa Ikhsan Parawansa yang dikonfirmasi menyebut, sebanyak 35 kepala keluarga (KK) terdampak longsor di Bontolerung. Kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta. Oleh pemerintah setempat, puluhan warga telah diungsikan ke lokasi yang aman.

“Saat ini kita melakukan assesmen ke lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Dari hasil assesmen kami, dibutuhkan lampu penerangan, makan ansiap saji dan tenda. Apalagi hujan masih terus turun. Semua korban telah ditemukan dalam kondisi tewas,” jelas Ikhsan.
Camat Tinggimoncong Iis Nurismi yang dikonfirmasi, Minggu (25/12), mengatakan dari kejadian longsor Sabtu dinihari, ada empat korban jiwa. Tiga orang adalah warga pendatang dari Pangkep. Sedang satunya lagi adalah warga Bontolerung setempat.

“Tiga korban asal Pangkep ditemukan di jalan poros Majannang sebelum lokasi air terjun Takapala. Sementara satu korban lainnya, yakni Dg Sompa ditemukan di lokasi berbeda yakni di areal persawahan di Kampung Parangkeke. Untuk menghindari adanya longsor susulan, 35 KK telah diungsikan ke tempat lebih aman. Saat ini kami sementara berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial untuk persiapan distribusi logistik ke para pengungsi, ” jelas Iis.
Bencana longsor di hari yang sama juga terjadi di Dusun Mala’lang, Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe. Dilaporkan, terdapat tujuh rumah tertimbun dan satu orang meninggal dunia tertimbun dan sementara dilakukan pencarian.

Hal tersebut dibenarkan Kapolsek Parangloe AKP Mudatsir. Dikonfirmasi BKM, Minggu (25/12) siang, Kapolsek mengatakan, di Mala’lang ada tujuh rumah tertimbun dan satu orang yang diduga tertimbun sementara dalam proses pencarian oleh warga bersama TRC-PB BPBD Gowa, TNI Polri, Basarnas dan tim penyelamatan dari Dinas Damkar dan Penyelamatan Gowa.
Di Makassar, korban meninggal dunia bernama Harun. Usianya 60 tahun. Ia menemui ajal akibat terjatuh dari pohon. Korban yang merupakan warga Blok 10 Jalan Biola 30A Nomor 1, Manggala mengalami kecelakaan saat hendak memangkas pohon pada pukul 10.00 Wita, kemarin. Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto ikut mengevakuasi korban dan melayat di rumah duka.
Selain satu orang meninggal, ada dua orang ibu rumah tangga yang dievakuasi karena sakit dan ada pula ibu hamil yang butuh penindakan. (ari-sar-rhm)




×


Delapan Meninggal Akibat Cuaca Ekstrem

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link