MAKASSAR, BKM — Penyidik Polres Maros bersama tim dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sulsel membongkar makam Virendy Marjefy Wehantouw di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pannara, Jalan Antang Raya, Makassar, Kamis (26/1). Proses ekshumasi ini berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet mengatakan, proses penyelidikan dan penyidikan kasus kematian mahasiwa Unhas yang ketika itu mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala di Tompobulu memasuki tahap pengembangan. ”Terkait kasus ini, kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap 18 orang saksi,” ujar Iptu Slamet, kemarin.
Ia menegaskan, dari pemeriksaan para saksi, penyidik berkesimpulan ada dugaan kematian korban secara tidak wajar. Karena itu penyidik berkewajiban mengungkapnya.
”Hanya saja, untuk mencari bukti spesifik penyidik harus memiliki dasar kuat dengan melakukan autopsi terhadap jenazah korban. Kami lakukan autopsi untuk mengetahui secara jelas penyebab kematian almarhum,” jelasnya.
Pihak keluarga Virend hadir menyaksikan jalannya autopsi. Seperti ayahnya James Wehantouw, ibu Femmy Lotulung, serta saudara-saudara dan kerabat lainnya. Hanya saja, mereka tidak diperbolehkan melihat langsung kondisi mayat. Keluarga hanya bisa menyaksikan proses pembongkaran makam dari jarak kurang lebih lima meter.
Puluhan aparat kepolisian berseragam dan bersenjata lengkap terlihat di lokasi. Sebuah tenda berwarna biru terpasang di atas makam almarhum. Peti jenazah berwarna putih dikeluarkan dari dalam liang lahat. Tim Labfor kemudian melaksanakan tugasnya.
James Wehantouw, ayah Virend mendukung langkah aparat kepolisian dalam mengungkap penyebab pasti kematian putranya. ”Mudah-mudahan hasil autopsi betul-betul lurus dan sesuai dengan kondisi almarhum yang sesungguhnya. Dengan begitu, penyebab meninggalnya Virend bisa terungkap dengan jelas,” kata James melalui sambungan telepon, kemarin. Ia masih berada di lokasi autopsi.
Dalam proses ekshumasi, salah seorang kerabat almarhum diperbolehkan ikut menyaksikan secara langsung. ”Awalnya satu dari pihak keluarga diperbolehkan untuk melihat langsung jalannya autopsi. Tapi kemudian berubah. Kalau ada keluarga yang memiliki latar belakang medis, diperbolehkan untuk masuk,” ungkap James.
James lalu menghubungi salah seorang kakaknya yang berprofesi sebagai dokter. Dialah yang kemudian menjadi perwakilan keluarga dalam proses autopsi.
Sebelumnya, dalam wawancara terpisah di kediaman almarhum beberapa waktu lalu, James dan istrinya Femmy mendesak agar kasus ini bisa diungkap. Mereka mendapati adanya kejanggalan dalam kematian Virend. Seperti ditemukannya lebam di tubuh. Petunjuk dari alkitab yang dibawa dan dibaca ke lokasi Diksar.
Virendy yang terakhir tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat malam (13/1). Jenazahnya kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Grestelina, Makassar. Selanjutnya dimakamkan di TPU Pannara, Makassar. (ari/c)

