MAKASSAR, BKM — Sebuah fenomena baru muncul di Makassar. Jalan raya yang ramai kendaraan dihiasi dengan kehadiran badut yang berjoget-joget, diiringi musik di sejumlah lampu pengatur lalu lintas (traffic light).
Selain dapat menjadi pemicu kemacetan, potensi kecelakaan juga bisa timbul. Mereka terpantau mengabaikan keselamatan diri demi mengharap belas kasihan dari pengguna jalan.
Dengan kostum yang cukup tebal, pergerakan mereka jadi lamban, sehingga ketika berada di tengah jalan dikhawatirkan mereka tertabrak motor.
Salah seorang pengguna jalan, Jannah (29) mengaku beberapa kali nyaris menabrak badut-badut yang sedang beraksi di jalan.
“Itu kan pandangan mereka agak terganggu juga karena kostum yang digunakan. Jadi mereka tidak bisa mengantisipasi dengan baik kalau ada kendaraan yang melaju di dekatnya. Saya berapa kali nyaris menabrak badut di perempatan Sungai Saddang-Veteran. Waktu lampu hijau sudah menyala, kita jalan badutnya susah bergerak untuk menepi,” kata wanita berhijab warga Jalan Batua Raya itu.
Kehadiran para badut itu juga cukup meresahkan, karena rerata mereka yang beraksi itu adalah anak usia sekolah. Mereka menghabiskan waktu di jalan untuk mencari uang.
Namun, jangan anggap enteng dengan penghasilan yang mereka bisa peroleh dalam sehari. Menurut Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Makassar Andi Eldi, para badut itu bisa mengantongi uang sekitar Rp200 ribu per hari. Artinya, dalam sebulan sekitar Rp6 juta, jika mereka beroperasi setiap hari. Jauh lebih besar dari upah seorang pekerja di pabrik yang gajinya paling tinggi standar UMP, yakni Rp3 jutaan.
“Dari beberapa anak yang terjaring penertiban, diketahui kalau penghasilan mereka bisa sampai Rp200 ribuan sehari,” ungkap Andi Eldi.
Dia mengaku, Dinas Sosial banyak menerima aduan terkait para badut yang beraksi di jalan. Pihaknya pun sudah berkali-kali melakukan penertiban. Hingga saat ini sudah ada sekitar 50-an badut yang terjaring di jalan strategis yang selama ini menjadi tempat mereka beraksi.
“Sudah ada itu sekitar 50 badut yang kita jaring. Kita tahan, terus kostumnya disita dengan harapan mereka tidak kembali ke jalan. Namun sayang, lagi-lagi setelah mereka dibebaskan, kembali lagi,” jelasnya.
Mereka umumnya merupakan warga Makassar, kendati beberapa yang ditemukan juga ada yang berasal dari luar daerah. Ada pula temuan badut yang tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) saat terjaring razia.
Dia mengakui cukup kesulitan dalam menindaki mereka, sebab keberadaannya tetap saja menjamur meski sudah berkali-kali ditahan. “Padahal dulu awalnya hanya ada beberapa. Sekarang ini hampir bisa ditemui di mana-mana,” sambungnya.
Lebih jauh dikemukakan, mereka merasa nyaman menjadi badut di jalan karena para pengguna jalan yang selalu memberi uang. Profesi sebagai badut jalan dianggap cukup menjanjikan karena mampu meraup uang ratusan ribu.
Andi Eldi pun mengimbau kepada para pengguna jalan untuk tidak lagi memberi mereka uang. “Kalau tidak adami pengguna jalan yang kasih uang, lama-lama mereka tidak maumi lagi jadi badut karena tidak adami yang bisa diharapkan di jalan. Jadi setop maki kasih uang di jalan,” tegas Andi Eldi.
Anggota DPRD Makassar pun angkat bicara terkait kehadiran para badut di jalan ini. Legislator Yeni Rahman mengingatkan pemerintah untuk bertindak tegas dan tidak membiarkan para badut-badut itu beraksi di jalan.
Pemerintah dinilai bisa bergerak cepat dalam melakukan penindakan karena seluruh aktifitas di jalan-jalan sudah terpantau CCTV. “Kan gampang mereka dideteksi. Lihat di CCTV, turunkan tim untuk penertiban. Kalau terus dibiarkan, jumlahnya akan semakin banyak nanti,” ungkap Yenni.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memberi ruang dan kasihan terhadap para badut itu dengan memberi uang kepada mereka. “Kalau selalu dikasih uang, mereka akan senang dan akan terus menjadi badut karena mereka bisa meraup rupiah yang lumayan dari situ,” tandasnya. (rhm)

