SIDRAP, BKM — Di tengah naiknya harga beras saat ini, ternyata harga gabah di tingkat petani malah anjlok. Hal itu membuat petani di Kabupaten Sidrap meradang. Mereka pun menggelar aksi unjuk rasa di gedung DPRD Sidrap, Senin (6/3).
Para petani tersebut berasal dari tiga kecamatan, yakni Baranti, Panca Rijang dan Kulo. Ikut dalam aksi ini sejumlah kepala desa. Di antaranya Kades Bulo Wattang, Bulo, dan Kades Cipotakari. Bahkan, salah seorang anggota DPRD yang juga Ketua Komisi III DPRD Sidrap H Pathuddin juga ikut dalam unjuk rasa. Bahkan ia tampil menyampaikan orasinya menyuarakan kondisi harga gabah di wilayah yang menjadi lumbung padi ini.
Dalam orasinya, H Pathuddin yang merupakan legislator PPP, mempertanyakan Harga Pokok Penjualan (HPP) sebesar Rp4.750 per kilogram. Menurutnya, angka itu masih belum berpihak ke petani. Ia menyebut petani menjerit dengan harga yang terlalu rendah.
Karena itu, Ketua DPC PPP Sidrap ini meminta harga gabah yang pantas. “Kami tolak harga gabah di bawah Rp5.000. Minimal harga gabah seharusnya Rp5.500,” ucapnya.
Anggota DPRD Sidrap dai Fraksi Partai Nasdem Bahrul Appas menanggapi aspirasi yang disuarakan petani. Ia menegaskan, komisi II harus terjun langsung ke lapangan untuk memantau aktivitas para pedagang gabah agar mereka tidak menyebar isu tentang harga. ”Isu yang beredar membuat harga gabah anjlok. Untuk itu kita harus terjun ke lapangan,” tegas Bahrul Appas.
Terpisah, Ketua DPRD Sidrap H Ruslan mengatakan, anjloknya harga gabah yang dikeluhkan petani harus ditindaklanjuti wakil rakyat. Caranya, dengan mengundang seluruh pemangku kepentingan untuk duduk bersama membicarakannya.
“Dalam waktu dekat kita harus mengundang pihak-pihak yang terkait. Mulai dari eksekutif, Bulog dan perwakilan petani untuk membicarakan masalah ini,” kata H Ruslan.
Jalannya aksi unjuk rasa petani dikawal aparat Polres Sidrap. Perwakilan massa kemudian menyampaikan aspirasinya di ruang komisi I. Mereka diterima tujuh anggota dewan, masing-masing Ketua DPRD Ruslan, Wakil Ketua H Kasman, Samsu Marlin, H Bahrul Appas, Wak Paleppang, H Haeruddin dan Rida Rasyid, serta Ketua Komisi II Abdurrahman Pa Baja. (ady/c)

