GOWA, BKM — Suasana cukup sunyi di Dusun Kappoloe, Desa Parangloe, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa. Jarum jam baru menunjuk pukul 02.00 Wita, Senin dinihari (6/3).
Di tengah kesunyian itu sekelompok orang tak dikenal (OTK) memasuki perkampungan. Mereka mengendarai mobil pick up yang tak diketahui nomor polisinya, serta satu unit sepeda motor.
Sesampainya di depan rumah seorang warga bernama Mansur Seha, kelompok ini langsung berhenti. Seperti dikomando, mereka pun menerobos masuk. Aksi penganiayaan secara beramai-ramai terjadi terhadap pria berusia 46 tahun itu. Penyerang menggunakan senjata tajam jenis parang dan sabit.
Mendapat serangan yang tak pernah disangka sebelumnya, Mansur mencoba menyelamatkan diri. Ia berlari keluar rumah, namun dikejar oleh pelaku. Korban pun ambruk dan menemui ajal di area persawahan tak jauh dari rumahnya. Setelah melihat korbannya tak berdaya, kawanan pelaku langsung kabur ke jalan poros. Ironisnya, peristiwa itu disaksikan oleh istri dan anak korban.
Warga sekitar sontak geger mengetahui peristiwa berdarah itu. Kejadian ini lalu dilaporkan ke Bhabinkamtibmas Desa Parangloe Bripka Bambang Purwanto bersama aparat pemerintah setempat. Gabungan petugas Tripika Biringbulu tiba di lokasi kejadian pada pukul 03.00 Wita.
Bripka Bambang Purwanto bersama aparat pemerintah desa dan kecamatan kemudian mengevakuasi korban, mengamankan TKP serta berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Tonrorita untuk penanganan korban. Hingga berita ini dibuat, para pelaku penganiayaan tersebut belum diketahui identitasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Gowa Ipda Ahmad yang dikonfirmasi, Senin malam (6/3), membenarkan peristiwa tersebut. Ia lalu menjelaskan kronologi peristiwa berdasarkan keterangan saksi.
”Saat kejadian korban sementara berada di rumahnya. Para pelaku langsung masuk ke rumah korban dan menganiaya korban secara bersama-sama menggunakan parang. Korban meninggal dunia dengan beberapa luka terbuka di bagian tubuhnya. Menurut keterangan saksi, setelah melakukan penganiayaan para pelaku langsung melarikan diri dengan menggunakan mobil serta motor ke arah Kabupaten Jeneponto. Korban kemudian dibawa ke RSU Bhayangkara, Makassar untuk diautopsi,” jelas Ipda Ahmad.
Sebelumnya, sesaat setelah aparat Polsek Biringbulu melaporkan adanya kejadian tersebut, tim Dokpol dan Inafis Polres Gowa langsung ke TKP. Tak berselang lama, Kapolres Gowa AKBP Reonald Truli Simanjuntak juga tiba. Ia menyaksikan langsung tim Dokpol dan Inafis bekerja memeriksa kondisi korban serta melakukan olah TKP. Kapolres juga melihat dari dekat situasi pascakejadian. Kedatangannya juga bertujuan untuk mengingatkan pihak keluarga korban agar tidak melakukan aksi balasan.
“Serahkan penanganan kasus ini ke polisi. Jangan ada yang main hakim sendiri. Saya meminta kepada keluarga korban agar tetap sabar dan tabah atas kejadian ini. Saya janji kasus ini akan kita usut tuntas. Jadi serahkan ke polisi, ” kata Kapolres Reonald kepada istri dan keluarga korban lainnya saat berada di rumah duka, Senin (6/3).
Reonald juga meminta kepada tokoh masyarakat, warga dan pemerintah setempat untuk bersama-sama menjaga kamtibmas agar tetap kondusif.
Terkait motif penganiayaan yang berakhir dengan tewasnya korban, menurut Kapolres Reonald, dari hasil penyelidikan sementara polisi menduga pengeroyokan dilakukan lantaran korban dituding melakukan pelecehan terhadap ponakan pelaku.
“Kita tidak tahu berapa jumlah pasti pelaku yang terlibat. Tapi kita sudah punya empat nama terduga pelaku. Antara korban dan pelaku masih ada hubungan keluarga,” kata Reonald usai merilis kasus ini di Mapolres Gowa, Selasa siang (7/3).
Bantah karena Pelecehan
Putri korban bernama Sri membantah keras jika peristiwa penganiayaan yang menewaskan ayahnya diduga karena pelecehan. Ia menjelaskan, sebelum kejadian berdarah itu, ayahnya Mansur Dg Seha pernah mengklarifikasi kepada semua keluarganya, termasuk kepada Sri bahwa dirinya tidak pernah melakukan perbuatan pelecehan terhadap siapa pun.
“Itu fitnah, karena orang tua saya sendiri tidak pernah menyentuh perempuan mana pun. Termasuk terhadap perempuan dari mereka yang datang melakukan penyerangan,” kata Sri.
Dikatakan Sri, ayahnya saat mengklarifikasi masalah tersebut, mengaku ketika itu hanya memberikan sapu kepada perempuan yang dimaksud. “Kalau cerita bapak saya itu, tidak ada sama sekali tindakan pelecehan. Beliau cuma memberi sapu. Itu pun agak jauh. Dugaan yang diarahkan kepada bapak saya itu sudah fitnah,” jelas Sri.
Terkait serangan tiba-tiba di rumahnya, Sri mengatakan, malam itu sekelompok orang datang menyerang kerumahnya. Jumlahnya berkisar kurang lebih 30 orang dan langsung menyerang.
“Puluhan orang itu masuk lewat pintu depan. Ada juga yang masuk dari belakang. Jumlahnya sekitar 30 orang. Lima orang masuk dari depan, lima orang masuk dari belakang. Selebihnya di luar,” papar Sri, yang mengaku menyaksikan aksi penyerangan di rumahnya malam itu.
Para pelaku yang ada di luar, tambah Sri, melempari rumahnya. Bahkan ada pelaku yang masuk melalui jendela rumah.
“Malam itu bapak sedang tidur di dalam kamarnya. Saat dengar ada keributan, bapak saya bangun dan langsung bersembunyi tapi ditemukan para pelaku yang sudah mengobrak abrik kamar bapak saya. Bapak saya sempat melakukan perlawanan dengan melempari pelaku, lalu kabur ke area persawahan. Saya sendiri bersama ibu dan lainnya tidak bisa berbuat apa-apa. Takut karena para pelaku membawa parang dan sabit. Tidak ada satupun orang-orang itu saya kenal. Tapi kalau adekku ada yang dia kenal satu orang, yang pelaku di atas rumah. Mereka (pelaku) tidak ada yang pakai topeng. Semuanya kelihatan mukanya, polosji. Tapi cuma satu orang yang adek saya kenal,” ungkap Sri. (sar)

