pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kami tidak Mau Terjajah

Diduga Provokator, Lima Orang Diamankan di Hari Buruh

MAKASSAR, BKM — Ribuan orang di Kota Makassar memperingati Hari Buruh (May Day), Senin (1/5). Sedikitnya ada 15 titik yang menjadi lokasi aksi. Mereka lalu berkumpul di bawah flyover. Sebanyak 2.150 personel gabungan diturunkan mengamankan jalannya aksi di flyover hingga Simpang Lima Bandara.

“Ada 15 titik kumpul, tapi untuk sasarannya lebih ke kantor Gubernur Sulsel dan DPRD Provinsi,” ujar Kapolrestabes Makassar Kombes Mokhamad Ngajib yang turun langsung berjaga di bawah flyover, kemarin.
Ngajib menyebut, pihaknya menurunkan 2.150 personel gabungan melakukan pengamanan aksi. Personel tersebut disebar di masing-masing titik aksi.

Ngajib mengungkap, aksi memperingati Hari Buruh ini dilakukan oleh sejumlah organisasi masyarakat hingga mahasiswa.
“Ada beberapa organisasi masyarakat buruh yang turun menyampaikan aspirasinya. Kita sudah menyiapkan beberapa pelayanan pengamanan kepada masyarakat,” terangnya.
Titik aksi buruh kemarin, yakni gedung DPRD Sulsel dan flyover Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Boulevard Panakkukang, Hutan Kota, Simpang Lima Bandara, dan Polda Sulsel, depan Kantor Gubernur Sulsel dan DPRD Sulsel, pertigaan Jalan Hertasning-Jalan AP Petta Rani, depan Kampus Unismuh Makassar, Jalan Sultan Alauddin, dpan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat Jalan Jenderal Sudirman Makassar, dan pertigaan Jalan Alauddin-AP Petta Rani Makassar.
Dari kurang lebih 11 organisasi buruh yang menggelar aksi, mereka menyuarakan aspirasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja. Massa menuntut keadilan kepada DPRD, DPR, dan presiden untuk mencabut UU Omnibus Law. ”Kami tidak mau terjajah,” cetus seorang peserta aksi dalam orasinya.
Ketika massa menggelar aksi di gedung DPRD Provinsi Sulsel, gerbang kantor wakil rakyat ini dijebol oleh massa. Bermula ketika massa aksi menggedor penghalang akses masuk.
Terdapat lubang di pintu gerbang. Lubang itu kemudian jadi tepat massa aksi untuk mengintip suasana di dalam gedung dewan. Mereka bertahan di depan DPRD Sulsel, menunggu rekannya yang sebelumnya telah dipanggil oleh anggota dewan untuk menyampaikan aspirasinya.

Di depan gedung dewan, para pimpinan aksi meminta agar mereka diterima oleh anggota dewan guna menyampaikan aspirasi yang selama ini mereka perjuangkan, terutama penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja. Beberapa waktu lamanya menunggu, para pengunjuk rasa mulai kesal. Sebab tak ada satupun wakil rakyat yang menerima mereka.
Akibatnya, para pimpinan organisasi buruh dan pekerja melontarkan ancaman akan merubuhkan pagar utama gedung DPRD Sulsel jika pimpinan dan anggota dewan enggan datang menemui dan menerima aspirasi dari mereka. Personel dari TNI-Polri serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tampak berusaha menenangkan para pengunjuk rasa.
Staf sekretaris dewan sejak pagi telah menghubungi pimpinan dan anggota dewan dari beberapa fraksi, hingga akhirnya satu demi satu wakil rakyat mengonfirmasi akan hadir. Beberapa jam berselang, Ketua DPRD Sulsel Andi Ina Kartika serta sejumlah anggota dewan yang juga pimpinan fraksi pun tiba dan langsung menerima pimpinan aksi.
Andi Ina dari Fraksi Golkar didampingi Ketua Fraksi Nasdem Ady Ansar, Andi Januar Jaury Dharwis dari Fraksi Demokrat, Haslinda dari Fraksi PKS, Ketua Fraksi PAN Syamsuddin Karlos, serta Dan Pongtasik dari Fraksi PDIP.
Andi Ina Kartika bersama pimpinan dan anggota dewan berjanji akan meneruskan aspirasi yang disampaikan para buruh kepada pemerintah pusat. “Kami akan meneruskan aspirasi ini ke pemerintah pusat,” janji legislator Golkar Sulsel ini.

Ricuh

Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Demokratik dibubarkan aparat kepolisian di Jalan AP Petta Rani. Lima orang ditangkap karena diduga sebagai provokator.

Puluhan orang peserta aksi membentangkan spanduk bertuliskan Cabut UU Ciptaker, Golput Pemilu 2024 dan Bangun Kekuatan Politik Alternatif.

Akan tetapi, aksi unjuk rasa itu dianggap tidak ada pemberitahuan ke pihak kepolisian. Aparat pun langsung membubarkan aksi tersebut.

“Mereka turun (aksi) tidak ada pemberitahuannya. Kemudian tentunya kita meminta mereka untuk bubar dengan persuasif. Ada lima orang diamankan,” kata Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Mokhamad Ngajib, Senin (1/5).

Kapolrestabes Makassar menyebut kelima orang yang ditangkap itu sebagai kelompok yang akan melakukan kerusuhan menjadi provokator bila dibiarkan.

“Ada beberapa yang kita ambil bukan dari kelompok mereka. Ini jelas-jelas ada beberapa anarko yang kita buktikan mereka membuat tulisan (di tembok). Itulah yang kita ambil kita amankan,” jelasnya.

Kelima orang itu langsung digelandang ke Mapolrestabes Makassar untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Nanti kita lihat dari hasil pemeriksaan. Tentunya kalau ada pidananya langsung kita tindak tegas,” ungkapnya.

Meski demikian, kata Ngajib, pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti.

“Sampai sekarang belum ada (tindak pidananya). Nanti kita cek dulu. Kita amankan saja ada beberapa orang tadi yang patut kita duga mereka anarko, karena bukan termasuk dalam kelompok saudara-saudara kita dari Papua,” tandasnya. (jun-rif)




×


Kami tidak Mau Terjajah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link