MAKASSAR, BKM — The Asean High Level Forum (AHLF) on Enabling Disability-Inclusive Development and Partnership beyond 2025 masih berlangsung, Rabu (11/10) di Four Points Hotel, Makassar. Pembahasan terkait pemenuhan hak disabilitas terus bergulir.
Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini menyampaikan bahwa ada usulan terkait keterlibatan penyandang disabilitas pada agenda internasional. Ruang penyandang disabilitas untuk tampil di publik dan menyampaikan gagasan menurutnya perlu dibuka luas. “Permintaan Amerika Serikat, G20 dan APEC kita melibatkan penyandang disabilitas,” kata Risma.
Benteng stigma yang masih merebak di masyarakat mengenai para penyandang disabilitas, menurut Mensos, menghambat kemajuan mereka dalam kesempatan kerja. Jalur enterpreneurship perlu didorong sebagai solusi.
Risma mengatakan, tugas stakeholder adalah menggali potensi setiap para penyandang disabilitas. Mereka harus terus diberi ruang untuk mencapai kesuksesan dengan perlakuan yang sama.
Di satu sisi, Risma sangat menekankan kepada semua orang agar tidak menimbulkan lingkungan yang buruk bagi para penyandang disabilitas. Sebab, hal tersebut akan memengaruhi rasa percaya diri dan kemauan mereka dalam berusaha atau berpendidikan.
“Saya menyampaikan kepada siapa saja, agar tidak memandang sebelah mata disabilitas. Karena banyak cerita dari mereka, utamanya anak yang tidak ingin kembali bersekolah karena mendapatkan bully,” kata Risma.
Dia tidak menepis bahwa stigma yang ditanamkan pada mereka menghambatnya dalam mencari nafkah. Oleh karena itu, kerja sama Asean hingga US akan menggodok kemudahan bagi mereka dalam berwirausaha.
“Nanti kita akan kerja sama dengan Amerika kita akan membuat apa yang mungkin mereka (disabilitas) butuhkan, terutama bisa sejajar dengan yang lain, kegiatan-kegiatannya kita akan kerjakan bersama. Permintaan Amerika juga untuk melibatkan disabilitas pada kegiatan internasional. Jadi, PR saya harus meyakinkan Kemenlu untuk pelibatan mereka,” imbuhnya.
Salah satu tujuan dari pemberdayaan disabilitas ialah mengentaskan kemiskinan. Oleh karena itu, kata Risma, langkah cepat untuk mewujudkan itu adalah menciptakan kemandirian pada para penyandang disabilitas.
“Kalau orang disabilitas dan dia kategori miskin itu kita bangkitkan dulu semangatnya,” tandasnya.
Penasihat Khusus Amerika Serikat untuk Perwujudan dan Penghormatan Isu Disabilitas Sara Minkara, mengapresiasi langkah Mensos Tri Rismaharini dalam penyelenggaraan Forum Tingkat Tinggi Asean tentang Pembangunan Inklusif Disabilitas dan Kemitraan Pasca Tahun 2025. Agenda yang secara khusus membahas pengarusutamaan hak penyandang disabilitas ini merupakan yang pertama bagi forum kerja sama kawasan dengan Amerika Serikat.
“Kami senang bisa ke sini. Ini pertama kali forum tingkat tinggi antara US-Asean. Terima kasih kepada Menteri Sosial Indonesia sudah menjadi tuan rumah acara ini,” katanya.
Menurut Sara Minkara, forum tingkat tinggi ini dapat meningkatkan perspektif para delegasi dan peserta tentang isu disabilitas, baik dari segi keamanan maupun fasilitas penunjang bagi kelompok disabilitas. Diskriminasi pada kelompok disabilitas harus dihapuskan karena banyak masyarakat global yang belum memahami konsep inklusif terhadap penyandang disabilitas.
Diskriminasi atau batasan tersebut dapat dihapuskan melalui perluasan akses bagi kelompok disabilitas agar mereka bisa mengembangkan nilai-nilai dan potensi yang ada di dalam diri mereka. Hal ini termasuk akses pada pengembangan teknologi seperti Artificial Intelegence (AI), pendidikan, transportasi, dan ekonomi.
Oleh karena itu, dikatakan Sara, inovasi adalah sebuah keharusan. Berbicara soal inovasi, dalam kurun dua tahun terkahir, Kemensos telah menelurkan tiga inovasi alat bantu disabilitas dengan fitur teknologi tinggi. Inovasi itu berupa tongkat penuntuf adaptif, gelang gruwi untuk penyandang disabilitas sensorik rungu wicara, serta gelang grita untuk penyandang disabilitas intelektual. Teknologi ini terbukti mampu mempermudah para penyandang disabilitas dalam kesehariannya.
“Alat bantu ini meningkatkan aksesibilitas penyandang disabilitas sehingga mereka dapat berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mensos saat membuka forum.
Tongkat adaptif misalnya, diciptakan dan didesain dengan fitur-fitur yang mampu mendukung aktivitas para penyandang disabilitas sensorik netra, seperti mengeluarkan peringatan suara ketika menangkap suatu objek di depannya. Secara fungsi, TPA juga mampu mendeteksi jarak yang ada di depan tongkat, mendeteksi air atau genangan air, mendeteksi asap, dan panas.
Adapun grita dan gruwi diciptakan untuk mencegah tindakan kekerasan terhadap penyandang disabilitas. Gruwi memiliki fitur tombol panik dengan alarm darurat, sensor suara dengan pengaturan level tangkapan dan jarak, indikator LED dan getaran yang dapat mendeteksi suara. Sedangkan grita dilengkapi dengan fitur unggulan seperti sensor denyut nadi dengan alarm jika melebihi batas wajar, lampu indikator darurat untuk perhatian sekitar, dan delapan level sensitivitas denyut nadi yang dapat diatur, dan koneksi ponsel untuk mengirim koordinat GPS dan data realtime.


Dari rangkaian AHLF tahun 2023 sebagai salah satu rangkaian KTT ASEAN, juga diselenggarakan kegiatan pementasan dirangkaikan gala dinner pada Selasa (9/10) malam. Acara ini menampilkan 116 penari dan musisi yang tampil di depan delegasi 13 negara. Lebih 100 di antaranya adalah disabilitas. Termasuk di antaranya penari, pemain gamelan dan dalang. Penari itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Atraksi berupa tarian, lagu, wayang dan musik tradisional yang ditata medley tersebut ditampilkan dalam Gala Dinner yang berlangsung di Benteng Fort Roterdam, Makassar.
Mensos mengatakan, penampilan atraksi kesenian ini penyandang disabilitas telah membuktikan bahwa mereka mampu melakukan kegiatan apapun asalkan diberi ruang dan kesempatan.
“Karena itu kesetaraan, kesempatan dan inklusifitas perlu diberikan kepada saudara-saudara kita penyandang disabilitas seluas-luasnya,” kata Risma.
Sementara itu Yusuf, penyandang disabilitas intelektual yang turut menyemarakkan atraksi kesenian menyatakan rasa senangnya. Pria yang sering bekerja menjadi penjaga parkir di akhir pekan ini tampil membawakan tari Angngaru dari Makassar.
“Saya senang. Tidak takut. Saya berani tampil di depan orang banyak,” ujar pria berumur 20 tahun itu. (jun)

