MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi Sulsel kembali melepas eskpor berbagai komoditas unggulan ke 29 negara tujuan. Khusus ekspor ke Cina, kapal kargo yang membawa komoditas langsung bertolak dari Pelabuhan Kargo Makassar menuju Shanghai China, Selasa (17/10).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel Ahmadi Akil, mengatakan kegiatan ekspor yang dilakukan oleh Pemprov Sulsel ini bertujuan lain untuk meningkatkan motivasi para pelaku usaha agar terus meningkatkan produktivitas.
Apalagi aksesibilitas ke pasar ekspor internasional terus dilakukan oleh Pemprov Sulsel untuk mengurangi biaya mobilitas barang.
“Meningkatkan aksesibilitas angkutan kargo laut secara langsung ke pasar ekspor dengan lebih efektif dan efisien dari segi biaya dan waktu tempuh ke negara tujuan ekspor, sehingga produk ekspor Sulawesi Selatan dapat lebih berdaya saing di pasar internasional,” ujarnya.
Adapun komoditas yang bakal melintas dari Selat Makassar ke Shanghai itu, yakni produk alloy nickel, biji kopi, carragenan, udang segar, ikan tuna, rumput laut, cengkih, biji kakao, kakao liquor, cumi-cumi, dan daging kepiting.

Selanjutnya mete kupas, porang chips, minyak nilam, rumput siong, marmer, telur ikan terbang, getah pinus, dedak gandum, ikan olahan, kayu olahan, kemukus (rempah-rempah), mie instan, gambir, damar, lobster, buah kelapa, cabai merah, dan lain-lain.
Ahmadi menyebut, untuk nilai ekspor mencapai US$ 96,49 juta atau setara dengan Rp1,46 triliun. Melibatkan 81 pelaku usaha di bidang ekspor, dengan 37 komoditas dan 29 negara tujuan ekspor.
Penjabat Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin usai melepas ekspor komoditi tersebut, menyampaikan salah satu upaya Pemprov untuk meningkatkan pendapatan masyarakat ialah membuka gerbang-gerbang distribusi barang yang secara langsung dari Makassar ke negara tujuan ekspor tanpa harus transit pada pelabuhan di pulau Jawa.
“Ini kita membuka peluang pasar ekspor langsung ke Shanghai,” katanya.
Bahkan, ia berjanji akan terus berupaya untuk membuka akses pelayaran maupun penerbangan untuk barang yang bakal diekspor ke luar negeri secara langsung.
“Yang tidak pernah kita lakukan adalah kargo pesawat langsung dari Makassar ke Hongkong, minggu lalu sudah kita bikin. Kita lakukan sekarang, itu tiga kali seminggu. Kita mau buka 5-6 negara lagi berikutnya. Langsung dari Bandara Hasanuddin, barang-barang hidup, mentah, langsung ke luar negeri. Hari ini, kita dari pelabuhan Makassar dengan kapal SITC langsung ke Shanghai,” terangnya.
Hal itu, kata dia, dilakukan dengan melihat potensi dan fasilitas yang telah mumpuni yang dimiliki Sulsel, secara spesifik pelabuhan kargo Makassar yang seyogyanya dapat disibukkan dengan kegiatan ekspor dengan pelayaran yang langsung ke negara tujuan untuk penghematan biaya.
“Percuma, sia-sia uang besar negara bangun pelabuhan besar di sini. Ini pelabuhan besar sekali untuk kontainer. Kita tidak ada barang-barang. Buat apa kita bikin besar-besar ini (pelabuhan kargo)? Kalau kita tidak gunakan untuk bisnis. Ini mungkin belum sampai 30 persen. Mungkin 30 persen paling tinggi. Mungkin masih ada kosong 70 persen. Pesan ini yang hendak kita sampaikan ke pelaku bisnis di Sulsel,” tandasnya. (jun)

