MAKASSAR, BKM — Ketidakharmonisan antara kepala sekolah dengan guru beserta siswanya kerap berujung aksi demo. Khusus di Sulawesi Selatan, fenomena seperti ini terus berulang.
Sudah ada tiga lembaga pendidikan setingkat SMA yang melakukannya. Masing-masing SMA Negeri 17 Makassar, SMAN 20 Makassar, serta teranyar SMAN 8 Bulukumba.
Untuk SMAN 17 Makassar, aksi demo berujung pada dimutasinya kepsek serta rotasi terhadap guru-guru yang terbukti tidak harmonis. Sementara di SMAN 20 Makassar dan SMAN 8 Bulukumba masih dalam proses penyelidikan Inspektorat Sulsel.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel Andi Iqbal Najamuddin harus putar otak demi memitigasi fenomena baru ini. Menurutnya, sekolah memang seperti bom waktu yang menunggu untuk meledak.
“Sekolah ini memang seperti bom waktu menunggu hal seperti ini. Hanya karena persoalan perbedaan pendapat antara guru dan kepsek, mungkin dari hasil itu muncul ketidaksukaan antara mereka. Inilah yang menjadi satu titik noda. Artinya, tidak ketemu,” ujarnya di Kantor Disdik Sulsel, Senin (25/3).
Apalagi, kata Iqbal, banyak orang yang mengincar jabatan kepsek. Karena itu fenomena ini menjadi rawan disalahgunakan. Sehingga harus dimitigasi sedini mungkin.
Jika demo menyeruak maka mau tidak mau kepsek akan dinonaktifkan sementara. Tujuannya agar Inspektorat dan Disdik Sulsel dapat melakukan pemeriksaan, dan proses belajar mengajar tidak terganggu.
“Supaya bisa cepat kita mitigasi. Karena kalau ribut (terjadi demo), satuji kita ambil kesimpulan, kita nonaktifkan dulu (kepseknya). Karena kepsek yang bertanggung jawab secara manajerial di sekolah itu,” tandasnya.
Salah satu langkah mitigasi yang dilakukan
Disdik Sulsel adalah memaksimalkan cabang dinas (Cabdis) Disdik Sulsel di berbagai daerah.
Diakui Iqbal, Cabdis sebelumnya tidak terlalu rutin melakukan monitoring terhadap sekolah-sekolah. Sehingga masalah seperti demo akhirnya terulang. Ia lalu berusaha mengubah itu. Jika Cabdis rutin melakukan peninjauan dan turun ke lapangan, masalah dapat diidentifikasi dan dimitigasi lebih dini.
“Karena yang selama ini terjadi tidak pernah ada itu, tidak pernah ada terjadi begitu. Nanti ada kejadian baru mereka (cabdis) turun. Makanya, saya minta cabdis ke sekolah. Kan ada kepala seksi SMA, Seksi SMK supaya dia selalu di sekolah. Lihat perkembangan sekolah supaya hal yang nantinya bisa meledak, mereka segera tahu dan bisa mitigasi secepatnya,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga akan membuka nomor pengaduan bagi siswa, guru ataupun warga sekolah yang memiliki komplain.
Ia menganjurkan kepada siswa untuk tidak melakukan demo di sekolah. Melainkan dengan cara yang lebih santun seperti musyawarah dalam Forum OSIS.
“Jangan sampai siswa melakukan hal seperti ini (aksi demo). Meskipun ini negara demokrasi, tidak apa-apa menyampaikan pendapat, tapi ada cara-cara yang santun,” ucapnya.
Menurut Iqbal komunikasi dan leadership dari kepsek juga harus selalu dikedepankan. Karena kepsek merupakan pemimpin yang harus merangkul semua pihak meski berbeda visi.
“Ini yang mau diubah, bahwa kita ini satu atap, Kepala sekolah itu harus mewadahi semua di dalam, meski ada guru yang tidak disukai. Harus proporsional,” jelas Iqbal. (jun)

