MAKASAR, BKM–Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Makassar tengah menghadirkan sebuah program baru yang bernama Ngobrol Santai dan Perkenalan Gerakan “Generasi Bangkit” Makassar Bangkit.
Inisiator Generasi Bangkit dengan hastag Makassar Bangkit berawal dari kecemasan sejumlah kader maupun pengurus dari PKB sendiri dengan melihat realitas sosial yang terjadi khususnya di Kota Makasar.
Ngobrol santai dan Perkenalan Gerakan “Generasi Bangkit” dilaksanakan di kantor DPC PKB Makassar jalan Letjen Hertasning, Senin (20/5) malam, dengan menghadirkan beberapa narasumber diantaranya akademisi dari UNM Makassar Aslan Abidin, politikus PKB sekaligus anggota DPR RI terpilih Syamsu Rizal dan Ketua DPW PKB Sulsel sekaligus bakal calon Wali Kota Makassar Azhar Arsyad.
Ngobrol santai membahas berbagai macam persoalan dan problematika yang terjadi di Makassar mulai dari kehidupan masyarakat Makassar, PAD Pemerintah, peran kaum milenial hingga Gen Z dengan sejarah gelar Andi atau sebutan nama Karaeng.
Meskipun dalam diskusi kerap ditemui kecemasan yang dihadapi masyarakat kedepannya, namun Azhar Arsyad mengungkapkan justru dengan adanya diskusi-diskusi yang melibatkan mahasiswa, akademisi maupun politisi akan mampu melahirkan sebuah ide atau gagasan dalam membantu kemajuan sebuah daerah.
Azhar menuturkan gagasan yang lahir saat ini yang disebut “Generasi Bangkit” merupakan suatu ide untuk menjamin antar generasi semua yang lahir apalagi kata dia setiap zaman ada generasi dan setiap orang ada masanya.
“Tapi transisi antar generasi itu sering menimbulkan kesenjangan jadi apa yang disampaikan sahabat-sahabat saya (Syamsu Rizal dan Aslan Abidin) suka tidak suka hari ini tidak bisa lagi ada generasi ego sebenernya,”ucapnya.
Apalagi, kata dia, jika menyinggung perihal generasi baik itu, generasi milenial yang bercerita soal pengalaman, Gen Z bercerita soal pengetahuan digital yang bahkan melampaui pemikiran, tidak pernah terbayang sebelumnya seperti pengusaha taksi yang tidak memiliki taksi maupun pengusaha restoran yang tidak memiliki restoran.
“Ya, kita tak pernah membayangkan hal tersebut akan terjadi pada setiap generasi,” bebernya.
Apalagi saat ini Indonesia yang sudah memasuki diera 5.0 dengan serba mengandalkan kemampuan teknologi yang menjadi tantangan bagi generasi kedepannya dalam mendapatkan sebuah lapangan pekerjaan karena tidak bisa dipungkiri banyak pekerjaan akan hilang dan digantikan dengan teknologi. (jun/rif)

