MAKASSAR, BKM — Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kini telah memasuki tahap akhir. Para siswa baru mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sementara proses belajar mengajar rencananya efektif akan berlangsung Senin (15/7) mendatang.
Kendati PPDB sudah selesai, namun tercatat masih banyak kuota yang belum terisi. Khususnya di jenjang SMP.
Untuk mengisi kekosongan tersebut, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan memerintahkan Dinas Pendidikan Kota Makassar, termasuk camat dan lurah untuk memburu atau mencari anak-anak yang tidak sekolah. Kontainer terpadu (konter) yang tersebar di seluruh kelurahan diharap menjadi posko informasi untuk mencari anak yang tidak melanjutkan sekolahnya.
Danny menekankan, dalam visi misi yang tercantum di 18 revolusi pendidikan, ditekankan bahwa semua anak harus sekolah. “Pokoknya semua harus sekolah. Setelah ini dinas (Disdik) dan seluruh aparat camat dan lurah di mana di konter-konter kita jadi salah satu (posko) harus memburu atau mencari anak yang tidak sekolah. Mereka harus sekolah. Sekaligus mengisi bangku yang kosong di sekolah,” ungkap Danny kepada wartawan, Kamis (11/7).
Ia pun meminta Disdik untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait pelaksanaan PPDB tahun ajaran 2024/2025. Salah satu yang menjadi perhatian adalah terkait sekolah-sekolah yang sepi peminat bakal diregrouping atau digabung dengan sekolah lain.
Namun, kata orang nomor satu Makassar itu, untuk melakukan regrouping, banyak faktor yang menjadi pertimbangan. Bukan hanya karena sekolahnya sepi peminat. Namun juga memperhatikan komposisi guru, murid, serta layanan.
“Untuk melakukan regrouping itu banyak faktor. Bukan hanya karena sekolah sepi peminat. Tapi juga mempertimbangkan komposisi guru, murid kemudian layanan. Kalau misalnya dalam kasus tertentu regrouping diperlukan maka kita laksanakan itu. Kalau memang ada sekolah yang kosong-kosong terus, tentu itu jadi pertimbangan harus diregrouping,” jelas Danny.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin Mustakim mengakui memang masih ada sejumlah sekolah yang tidak terpenuhi kuota siswanya. Untuk itu, Disdik mengambil kebijakan dengan memberi kesempatan kepada calon peserta didik yang tidak lulus untuk melapor ke Posko PPDB di kantor Disdik, Jalan Anggrek.
Muhyiddin memaparkan, untuk jenjang SD sejauh ini tidak ada masalah. Distribusi siswa baru ke sekolah-sekolah rerata terpenuhi. Namun tidak demikian dengan jenjang SMP. Dari 225 SMP negeri di Makassar, hanya sekitar 12 sekolah yang kuotanya terpenuhi.
Sekolah tersebut adalah SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 7, SMPN 8, SMPN 12, SMPN 23, SMPN 24, SMPN 29, dan SMPN 52. Sementara sisanya, masih memungkinkan untuk diisi oleh calon siswa yang tidak lulus pada proses PPDB lalu.
“Jadi di luar dari sekolah-sekolah yang disebutkan di atas, masih memungkinkan untuk diisi,” tambahnya.
Mantan Kadis Sosial Makassar itu mengemukakan, kuota yang tidak terisi juga dipengaruhi oleh calon siswa yang tidak melakukan pendaftaran ulang. “Kan ada itu orang tua memaksakan anaknya untuk bersekolah di tempat tertentu. Sementara anaknya lulus di pilihan kedua misalnya, tidak maumi mendaftar ulang. Karena kalau dia paksakan masuk ke sekolah yang diinginkan juga tidak bisa, karena data sang siswa sudah tercatat di dapodik,” terang Muhyiddin.
Muhyiddin ia pun meminta kepala sekolah untuk tetap mengosongkan kuota yang dimaksud, dengan harapan setelah tidak bisa sekolah di tempat yang diharapkan, dia akan kembali ke sekolah di mana dia lulus.
Ditambahkannya, salah satu penyebab sehingga ada sekolah yang sepi peminat karena posisinya yang sulit dijangkau dengan angkutan umum. Seperti SMPN 16 yang berlokasi di Sudiang.
Menyikapi hal itu, dirinya akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk memfasilitasi bus sekolah listrik gratis yang rutenya bisa sampai ke sekolah tersebut. Saat ini pihaknya juga akan berkoordinasi dengan camat, lurah, hingga RT/RW untuk mencari anak yang tidak sekolah. “Kalau ada ditemukan lapor ke kami. Intinya mereka harus difasilitasi untuk bersekolah,” tandasnya.
Dia menambahkan, walaupun PPDB sudah usai tapi masih ada yang belum sekolah, maka akan dituntaskan. “Kami akan carikan sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya. Kami ingin memastikan tidak ada lagi usia wajib belajar yang tidak sekolah. Sekarang ini kita kasih istilah adalah jalur pemenuhan kuota yang kosong,” tandasnya. (rhm)

