pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dibintangi Aty Kodong, ”Surat Cinta” Bagi Pemerintah

Film Solata Angkat Isu Pendidikan di Pedalaman

BKM/NUR HAMZAH FILM SOLATA-Sutradara dan produser film Solata (Teman adalah Keluarga yang Kita Pilih), Ichwan Persada (tiga dari kiri) bersama Aty Kodong (dua dari kiri) bersama pemeran lainnya dan kru bertandang ke redaksi Harian Berita Kota Makassar, Rabu (18/9).

MAKASSAR, BKM — Sebuah film yang pengambilan gambarnya dilakukan pada tiga daerah di Sulawesi Selatan, yakni Tana Toraja, Toraja Utara, dan Palopo kini telah selesai proses syutingnya. Judulnya Solata (Teman adalah Keluarga yang Kita Pilih). Diproduksi oleh Indonesia Sinema Persada.
Sutradara dan produser film Ichwan Persada berkunjung ke redaksi Harian Berita Kota Makassar, Rabu (18/9). Hadir pula talent dari Sulsel, yakni Aty Kodong, Fhail Firmansyah, serta Sese Lawing.
Ichwan Persada sebelumnya telah memproduseri sembilan film bioskop dan menyutradarai lima serial/miniseri, sert lima film pendek. Salah satunya film berjudul Silariang: Cinta yang [Tak] Direstui. Dibintangi Bisma Karisma, film ini mendapat sambutan meriah saat dirilis di bioskop pada Januari 2018 lalu.

Film Solata garapan teranyar Ichwan mengusung tentang isu pendidikan di wilayah pedalaman. Berkisah tentang seorang pemuda Jakarta yang datang ke Kecamatan Bonggakaradeng, Tana Toraja dengan membawa ide tentang program pendidikan di kecamatan tersebut.

Menurut Ichwan, film Solata bercerita tentang seorang relawan dari Jakarta yang ditugaskan ke daerah Ollon, Tator. Sebab di daerah ini terdapat program pendidikan yang tidak berjalan. Di sana relawan tersebut bertemu dengan enam orang murid yang nama depannya mirip dengan nama-nama presiden Indonesia.
“Relawannya itu bernama Angkasa yang diperankan Rendy Kjaernett. Dia bertemu dengan enam orang murid yang nama depannya mirip dengan nama-nama presiden kita,” ujar Ichwan.
Fhail Firmansyah adalah pemeran utama dalam film ini. Namanyan Abun Patanduk, menggambarkan sosok warga lokal.
Sementara Nur Aty atau yang akrab disapa Aty Kodong, finalis ajang pencarian bakat penyanyi dangdut D’Academy, berperan sebagai Ibu Gemuk. Menurut Ichsan, pihaknya sengaja untuk tidak memberikan nama khusus pada peran Aty Kodong agar menghadirkan nuansa yang berbeda dalam film tersebut.

Ditanya tentang latar belakang produksi film Solata, Ichwan menjelaskan bahwa film ini mengangkat salah satu isu fundamental, yakni tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak di wilayah pedalaman.
Ichwan mengaku, membuat film yang isunya tentang pendidikan bukan pertama kali bagi dirinya. Sebab ia pernah membuat karya film dokumenter berjudul Cerita dari Tapal Batas pada tahun 2011, dan masuk masuk dalam nominasi film dokumenter terbaik di Indonesia. “Masih banyak problem yang harus diselesaikan di negara kita ini,” ucapnya.
Menurut Ichwan, film Solata memadukan genre komedi dan romantis. Ia berharap, film yang menjalani proses produksi selama 14 hari –termasuk di Jakarta– ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia.
Bisa mengambil peran dalam film ini, Aty Kodong mengaku merasa bangga. Sebab masyarakat yang selama ini mengenal dirinya sebagai seorang penyanyi, kini juga bermain film.
”Tentunya bangga sekali, karena dulu dikenal sebagai penyanyi, sekarang dikenal juga sebagai pemain film,” ujarnya.

Dalam film Solata ini, Aty Kodong memberikan tambahan nuansa komedi. Ia menjelaskan, Ibu Gemuk dalam film tersebut merupakan sosok ibu-ibu yang mengesalkan. Aty pun merasa cocok memerankan sosok ini.
Meski telah memiliki nama di dunia entertainment, Aty Kodong mengatakan bahwa dirinya tetap mengikuti casting guna mendapatkan peran tersebut.
Ditanya tentang hambatan selama proses syuting, Ichwan menyebut hal yang bersifat teknis. Lokasi syuting yang berada di daerah Ollon merupakan daerah terpencil, sehingga memiliki tantangan tersendiri bagi seluruh kru. ”Pertama kali riset di Desember 2022 jalanan masih kurang bagus sampai dua mobil rusak,” ucapnya.
Ichsan melanjutkan, Ollon tidak seperti lokasi wisata yang familiar seperti di Bali, yang memiliki hotel sebagai tempat menginap bagi para pengunjung. Katena itu, mereka harus menginap di rumah penduduk setempat.

Walau begitu, Ichwan dan kru mengaku merasa enjoy selama proses syuting berlangsung agar memberikan hasil yang maksimal. Baginya, Ollon yang menjadi lokasi syuting sangat indah ketika dipandang dari sudut mana pun, lantaran menyajikan keindahan alam yang memukau.
Ichsan menegaskan, film ini merupakan ”surat cinta” bagi pemerintah. Sebab saat ini masih terdapat anak-anak di pedalaman yang mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan.
“Kita ingin mengajak semua pihak untuk peka pada persoalan pendidikan dan ini real live terjadi dan kita harus angkat,” tandasnya. (yus)



×


Dibintangi Aty Kodong, ”Surat Cinta” Bagi Pemerintah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link