pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kampanye Komitmen Setop TBC dan Stigma Kutukan

Shafa Syahrani dari Caraka TB Institute

PENYAKIT tuberculosis atau TBC masih menjadi masalah krusial bagi kesehatan masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan data dari WHO Global Tuberculosis Report 2023, Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia orang dengan TBC terbanyak. Urutan pertama ditempati India.

DI kalangan masyarakat Indonesia, TBC begitu menakutkan. Sebab masih banyak yang percaya dengan rumor bahwa mereka yang menderita TBC adalah orang yang terkena kutukan. Karena sitgma seperti itu, kebanyakan orang-orang yang terkena TBC merahasiakan penyakitnya. Mereka takut jika dijauhi oleh warga sekitar dan dikucilkan.

Merespons permasalahan tersebut, TB Partnership Indonesia meluncurkan Caraka TB Institute, sebuah inisiatif penting yang mengumpulkan anak muda terpilih dari berbagai kota yang ada di Indonesia untuk secara aktif terlibat dalam kampanye dan advokasi mengenai apa itu TBC.

Caraka TB Institute membuktikan bahwa generasi muda Indonesia siap mengambil peran dalam menyuarakan dan beraksi untuk menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks, khususnya TBC.
Para peserta yang terpilih bukan hanya memiliki semangat yang tinggi, tetapi juga ingin mengambil peran atas keresahan mereka melihat masyarakat yang dikucilkan lantaran terkena TBC.

Seperti halnya Shafa Syahrani. Ia merupakan
alumni Universitas Negeri Makassar (UNM) Jurusan Ilmu Gizi.
Saat ini Shafa terlibat aktif sebagai salah satu anggota Caraka TB Institute.

Alasannya bergabung ke Caraka TB Institute lantaran berangkat dari keresahannya yang melihat banyaknya stigma yang salah di lingkup masyarakat mengenai TBC. Apalagi menurutnya, pemuda mempunyai peran penting dalam perubahan.

“Kalau ditanya tentang motivasi mengapa saya mau terlibat, itu banyak sekali. Kalau kita berbicara tentang pemuda, mereka dipercaya memiliki kekuatan yang lebih besar, karena itu saya bergabung,” ujar Shafa yang menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Ia lalu mencontohkan kejadian di sekitar tempat tinggalnya. ”Kebetulan ada tetangga saya yang datang belanja di rumah, karena ada toko. Setelah itu ada orang lain yang datang lagi belanja ke toko saya itu cerita, katanya ibu ini kena TBC dan itu dia dihindari oleh masyarakat. Bahkan dia bilang jangan dekat-dekat. Jadi saya bilang, kenapa dikasih begitu orang,” sambung Shafa.

Setelah bergabung ke dalam Caraka TB Institute, Shafa kemudian menjadi salah satu dari 20 orang yang terpilih dan resmi ditetapkan sebagai anggota. Selanjutnya mendapatkan pembekalan seperti materi TB, advokasi dan lainnya.

Usai mendapatkan pembekalan, mereka kemudian diminta untuk melaksanakan kegiatan yang berdampak ke masyarakat, yaitu kampanye dan sosialisasi mengenai apa itu TB.

“Jadi kemarin itu kami anak muda Indonesia sebanyak 20 orang dari berbagai daerah yang terpilih mengikuti camperience campaign and experience terkait dengan TB. Kita dikasih materi terkait TB sampai dengan advokasi. Saat kembali ke daerah masing-masing, kami diminta untuk melakukan kegiatan yang berdampak ke masyarakat, yaitu kampanye dan sosialisasi,” jelasnya.
Shafa pun langsung bergerak cepat bersama dengan teman-temannya membuat sebuah kegiatan berupa kampanye tentang TBC yang ditempatkan di Lapangan Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa pada 13 Oktober 2024.
Selain dari Caraka TB Institute, mereka juga berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti Yayasan Masyarakat Peduli TBC Sulsel dan Forum Anak Gowa.

“Pada tanggal 13 Oktober 2024 itu saya bersama dengan 10 fasilitator yang saya rekrut melakukan kampanya di car free day yang ada di Lapangan Syekh Yusuf. Kami juga ada kerja sama dengan Yayasan Masyarakat Peduli TBC Sulsel. Ada juga kerja sama dengan Forum Anak Gowa,” terangnya.
Setelah itu pihaknya mencoba melakukan kolaborasi dalam bentuk kampanye permanen edukatif terkait TBC. ”Kita bikin gizi seimbang. Terus, ada juga dari teman-teman yang sudah kita rekrut itu namanya TB Guardian, mereka menyebar di berbagai spot yang ada di Syekh Yusuf untuk melakukan edukasi mengenai TB,” sambungnya.

Selain melakukan sosialisasi, mereka juga menggelar makan sehat dan melakukan perjanjian berupa tanda tangan sebagai komitmen untuk setop TBC dan setop stigma.

Kegiatan tersebut berlangsung selama satu hari dan dihadiri oleh ratusan orang, mulai dari anak-anak hingga orangtua.

Di akhir wawancara, Shafa berharap agar anak-anak muda yang ada di Indonesia terus bisa berdampak bagi sekitar. Apalagi jika masih bisa berkontribusi dan memiliki tenaga yang kuat.

“Pesan yang ingin saya titipkan adalah kalau kita bisa berkontribusi, kenapa tidak. Kalau kita masih memiliki tenaga untuk melakukan kebaikan, kenapa tidak. Untuk itu saya berharap kita sebagai pemuda di masa sekarang bisa lebih banyak berdampak,” kuncinya. (jar)



×


Kampanye Komitmen Setop TBC dan Stigma Kutukan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link