KABUPATEN Maros serta Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) patut berbangga. Sebab, baru-baru ini pemuda dan pemudi daerah terpilih menjadi pemenang pada ajang Pemilihan Duta Peduli Sejarah Sulawesi Selatan 2024.
MEREKA adalah Shartika Nappa yang merupakan siswi dari Kabupaten Maros, sedangkan Wahyudin merupakan pelajar dari Kabupaten Pangkep. Tentu, raihan juara satu menjadi prestasi membanggakan bagi mereka.
Kedua siswa dan siswi ini mengaku bahwa alasannya mengikuti Pemilihan Duta Peduli Sejarah Sulsel 2024 lantaran ingin berkontribusi nyata membangun negeri ini, sekaligus mengingatkan kembali sejarah identitas bangsa Indonesia, yang di dalamnya terdapat banyak pembelajaran penting dan bisa diterapkan di kehidupan ke depan nantinya.
Sebuah niat dan aksi nyata di tengah kehidupan anak muda sekarang yang sepertinya tidak peduli dengan identitas bangsanya sendiri. Tika dan Wahyu berbuat sebaliknya. Apalagi, proklamator kemerdekaan yang juga Presiden pertama RI Soekarno telah mengingatkan agar jangan sekali kali melupakan sejarah atas bisa dikenal dengan jasmerah.
“Yang paling penting itu bagaimana sejarah ini bisa dilestarikan. Karena saat ini, seperti yang kita ketahui generasi muda terkesan mengesampingkan sejarah. Menganggap sejarah tidak penting. Sejarah tidak harus untuk dipelajari. Padahal sejarah penting untuk kita pelajari, karena banyak dampaknya seperti membentuk identitas, membentuk karakter diri bagaimana kita ke depannya. Karena itu saya ikut ajang ini demi melestarikan sejarah,” ungkap Shartika yang hadir menjadi siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Ia datang bersama Wahyudi.
Diakui Tika, sejak duduk di bangku kelas X SMA dirinya sudah menyukai mata pelajaran sejarah. Ia pun cukup miris dengan melihat situasi teman-temannya yang terlihat malas jika memasuki jam pembelajaran sejarah.
Berbeda dengan Tika, Wahyu ternyata terbilang baru menyukai sejarah. Ia mulai tertarik untuk belajar sejarah pada tahun ini setelah menerima pembelajaran dari gurunya mengenai Pepera Indonesia di masa lampau.
“Kayaknya kalau suka sejarah itu baru deh tahun ini kalau tidak salah. Waktu itu pas guru mengajar beliau membahas tentang peristiwa-peristiwa menarik pada masa lampau, seperti peperangan Indonesia dengan negara lain serta sejarah-sejarah yang ada di kabupaten,” kata Wahyu.
Ditanya mengenai langkah apa yang akan dilakukan untuk melestarikan sejarah, Tika mengaku akan menggelar seminar dan sosialisasi di sekolah-sekolah agar sejarah tidak dilupakan.
“Kami dari Duta Peduli Sejarah tentunya akan mengupayakan pelestarian sejarah dengan membuat seminar atau kolaborasi. Juga sosialisasi di sekolah-sekolah untuk mengupayakan pelestarian sejarah,” lanjut Tika.
Langkah tersebut dilakukan, lantaran menurutnya, pembelajaran sejarah yang ada di sekolah itu kurang menarik hingga membuat siswa bosan dan ogah untuk belajar sejarah.
Maka dari itu, untuk membuat pembelajaran menjadi seru dan menarik keduanya mengaku akan menggelar talkshow yang dinamakan Bira (Bincang Inspiratif), yang akan menghadirkan narasumber hebat. Tidak hanya membahas sejarah, tetapi juga sosial, pendidikan dan budaya.
“Program kerja kita ke depannya adalah membuat talkshow yang namanya itu Bincang Inspiratif, singkatannya Bira. Di situ kita akan menghadirkan narasumber yang hebat. Tidak hanya membahas mengenai sejarah tetapi juga pendidikan, sosial dan budaya,” sambung Wahyu.
(jar)

