MAKASSAR, BKM — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali mencetak dua guru besar. Mereka adalah Prof. Dr. Nurlina,S.Si.,M.M.Si. dan Prof. Dr. Nuryanti Mustari, S.I.P.,M.Si.
Nurlina ditetapkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Fisika melalui SK Mendikbudristek Nomor 93384/M/07/2024.
Sementara Nuryanti Mustari ditetapkan sebagai Guru Besar bidang Administrasi Publik dengan SK Mendikbudristek dengan nomor 93383/M/07/2024. SK keduanya diteken Mendikbud Nadiem Makariem pada 1 Oktober 2024.
Pengukuhan Guru Besar Nurlina dan Nuryanti dilaksanakan dalam Rapat Senat Luar Biasa Unismuh di Balai Sidang Muktamar Muhammadiyah, Kampus Unismuh Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Jumat, 22 November 2023.
SK Mendikbudristek tentang kenaikan jabatan guru besar dibacakan Wakil Rektor II Prof Andi Sukri Syamsuri. Sementara riwayat hidup keduanya dibacakan Wakil Rektor I Dr Burhanuddin.
Prosesi pengukuhan diawali dengan penyerahan SK Guru Besar dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Dr. Andi Lumkan kepada Rektor Unismuh Dr. Abdul Rakhim Nanda. Selanjutnya, rektor menyerahkan SK tersebut kepada Prof Nurlina dan Prof Nuryani Mustari.
Prosesi pengukuhan dilanjutkan dengan pengalungan selempang guru besar oleh Ketua Dewan Guru Besar Unismuh Makassar Prof Irwan Akib kepada kedua professor baru Unismuh Makassar itu. Pengalungan selempang tersebut disambut tepuk tangan meriah dari ribuan orang yang memadati Balai Sidang Unismuh Makassar. Usai pengalungan selempang, dilanjutkan dengan penyampaian pidato guru besar oleh Nurlina dan Nuryanti Mustari.
Prof. Nurlina dalam orasi ilmiah berjudul “Pengembangan Perangkat Asesmen Fisika Berbasis Digital pada Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0” membahas transformasi pendidikan di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, integrasi teknologi seperti AI dan IoT bukan hanya mengubah dunia kerja, tetapi juga cara pembelajaran.
Ia menekankan bahwa pendidikan di era ini harus lebih adaptif, baik dalam metode pengajaran maupun dalam cara penilaian.
Nurlina mengembangkan perangkat asesmen berbasis digital menggunakan platform seperti Kahoot untuk mengatasi tantangan dalam evaluasi mata kuliah Fisika Dasar. Perangkat ini memungkinkan penilaian yang lebih cepat dan akurat, serta mendorong keterlibatan aktif mahasiswa.
Dengan pengalaman belajar yang lebih interaktif, mahasiswa dapat memperoleh umpan balik lebih cepat, sehingga memperkuat motivasi belajar mereka.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya teori konstruktivisme dan humanisme dalam pembelajaran berbasis teknologi, di mana mahasiswa diharapkan dapat mengonstruksi pengetahuan mereka secara mandiri.
Dengan bantuan teknologi, proses pembelajaran yang aktif dan reflektif akan lebih mudah diwujudkan. Nurlina menutup pidatonya dengan mengajak seluruh hadirin untuk tidak berhenti bermimpi dan terus berupaya menjadi lebih baik.
Sementara
Prof Nuryanti Mustari dalam pidato bertajuk “Menavigasi Kompleksitas Kebijakan dalam Menurunkan Prevalensi Stunting: Diskursus Evidence-Based Policy melalui Analisis Bibliometrik” membahas stunting sebagai masalah multidimensional yang mengancam kualitas sumber daya manusia.
Ia menekankan perlunya pendekatan kebijakan berbasis bukti sebagai solusi strategis untuk mengatasi prevalensi stunting yang masih tinggi, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, pendekatan parsial tidak cukup. Dibutuhkan kebijakan yang didukung analisis data mendalam.
Melalui analisis bibliometrik, Nuryanti memetakan tren penelitian, mengidentifikasi kesenjangan, dan mengevaluasi efektivitas intervensi stunting.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan big data untuk pemetaan intervensi berbasis kebutuhan lokal dan kolaborasi lintas sektor melalui model Quadruple Helix dan Quintuple Helix. Dengan visualisasi data yang lebih komprehensif, kebijakan bisa disusun lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Nuryanti juga mengusulkan pendekatan berbasis komunitas yang menitikberatkan pada pemberdayaan keluarga dan masyarakat untuk menciptakan perubahan berkelanjutan. Ia mengakhiri pidatonya dengan menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga cerminan tata kelola dan keadilan sosial yang harus diperbaiki bersama.
Dalam acara ini, Kepala LLDikti Wilayah IX juga menyerahkan SK Prodi S1 Kebidanan dan Program Profesi Bidan kepada Rektor Unismuh. Selain itu, beberapa tokoh juga menyampaikan sambutan, mulai dari Rektor Unismuh Makassar Dr Abd Rakhim Nanda, Kepala LLDikti Wilayah IX Dr Andi Lukman, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse, serta Bendahara BPH Unismuh Dr. Saleh Molla. (*/rus)

