MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto mengeluarkan surat keputusan status tanggap darurat untuk Kota Makassar. Langkah tersebut diambil setelah melihat dampak yang terjadi akibat bencana banjir yang cukup parah.
Apalagi, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Sosial Kota Makassar, hingga pukul 15.00 Wita, Rabu (12/2), jumlah pengungsi akibat banjir sudah mencapai 4000 lebih.
Dengan ditetapkannya status tanggap darurat, Danny memerintahkan seluruh stakeholder, khususnya yang terkait dengan penanggunalan bencana untuk bergerak bersama melakukan langkah-langkah penanganan bersama untuk meminimalisir dampak dan risiko yang terjadi akibat banjir.
Danny yang dihubungi via telepon, Rabu (12/2) menyampaikan, pemerintah pusat juga telah berkoordinasi dengan Pemkot Makassar untuk menyalurkan bantuan bagi korban banjir. “Karena sudah berstatus tanggap darurat, pemerintah pusat akan menyalurkan bantuan untuk para korban banjir,” kata Danny.
Dia melanjutkan, Pemkot Makassar saat ini sudah bisa menggunakan bantuan tidak terduga (BTT) untuk penanganan korban banjir. Soal besarannya, kata Danny, bergantung kebutuhan.
Orang nomor satu Makassar itu mengatakan, banjir tahun ini memang sangat parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Wilayah yang terdampak banjir lebih luas. Pengungsi saja sampai saat ini (kemarin sore) mencapai 4000 lebih,” jelas Danny.
Wali Kota Makassar dua periode ini meminta warga yang terdampak banjir untuk segera mengungsi di tempat yang telah ditetapkan. “Karena kalau masih bertahan di rumah masing-masing, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, mereka juga tidak terdata sehingga sangat sulit memberikan bantuan logistik,” tambah Danny.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar Achmad Hendra Hakamuddih menerangkan, ada empat kecamatan yang terdampak banjir. Masing-masing Manggala, Biringkanaya, Tamalate, dan Tamalate. Yang paling parah adalah di Kecamatan Manggala karena jumlah pengungsi mencapai ribuan orang.
“Di Kecamatan Manggala, ada 13 masjid menjadi lokasi pengungsian yang disiapkan,” ujarnya, kemarin.
Sementara di Kecamatan Biringkanaya terdapat delapan lokasi pengungsian, masing-masing empat di Kelurahan Katimbang dan empat di Paccerakkang. Kecamatan Tamalate satu lokasi pengungsian, dan Tamalanrea dua lokasi.
Lebih jauh dikemukakan, menyikapi SK Tanggap Darurat yang dikeluarkan Wali Kota, pihaknya bersama seluruh elemen yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penanganan bencana merapatkan diri, saling berkoordinasi untuk meminimalisir dampak risiko bencana yang terjadi.
“Jadi bukan dalam konteks internal Pemkot Makassar saja. Siapapun, termasuk yang terkait harus digerakkan,” jelas Achmad Hendra.
Selain itu, kata mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Kota Makassar itu, Pemkot Makassar juga bisa mengakses anggaran BTT dalam proses penanggulangan bencana. “Bukan hanya itu, semua pihak-pihak yang dianggap mengganggu atau menghalang-halangi proses penanggulangan bencana dalam proses tanggap darurat, bisa dipidanakan,” tegas Achmad Hendra.
Hingga kemarin sore, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar mencatat, sebanyak 4.301 warga tersampak banjir di Makassar mengungsi di 24 titik lokasi pengungsian. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar, drg Ita Anwar mengatakan, pihaknya terus menyalurkan bantuan makanan siap saji bagi para pengungsi di beberapa wilayah.
“Kita siaga terus sampai kondisi betul-betul aman dan memastikan tidak ada lagi pengungsi. Kita siap bekerja untuk membantu masyarakat,” ucapnya.
Pihaknya telah menyiapkan dapur umum yang dipusatkan di kantor Kecamatan Manggala. Dapur umum ini telah menyalurkan bantuan makanan bagi pengungsi korban banjir di berbagai posko pengungsian di Kota Makassar.
“Dapur umum satu, tapi dapur mandiri ada lima dan sudah mengcover sudah tiga, sampai saat ini. Dapur umumnya ada di kantor Camat Manggala. Tapi dapur mandirinya tersebar di lima titik. Jadi kami suplai,” ujarnya.
Kadis Sosial menyampaikan bahwa pihaknya mendistribusikan bantuan logistik bagi masyarakat yang mengungsi di beberapa titik yang telah tersedia. Bagi masyarakat yang masih tinggal di rumah, tidak melakukan evakuasi dapat menghubungi lurah dan camat untuk mendapat logistik agar terdata oleh tim assesment Dinsos Makassar.
“Kami mengcover satu pintu lewat lurah dan camat, karena kalau satu-satu kami kesusahan. Tahun lalu saja kita yang Desember 2.500, ini sekarang memang banyak sekali pengungsi. Yang terisolasi itu, ada lurah dan camat yang bisa melihat dan melaporkan. Kami tinggal melihat data dan menyalurkan bantuan logistiknya,” tambah drg Ita.
Pihaknya pun berharap, warga korban banjir yang masih berada di rumah dapat mengungsi di titik pengungsian. (rhm)

