MAKASSAR, BKM — Hampir sepekan Bus Mamminasata berhenti beroperasi total. Akibatnya, 43 sopir yang tersisa dari pengurangan koridor ikut kehilangan pendapatan.
Sopir Bus Mamminasata yang tak mau disebutkan namanya, mengaku tidak tahu siapa sebenarnya yang menahan Bus Mamminasata tidak beroperasi hingga kini.
“Kemarin itu sempat mau beroperasi, tapi ada (larangan) tidak bisa beroperasi, entah dari operator atau eks pramudi. Kalau operator suruh beroperasi, tapi entah kenapa tiba-tiba tidak bisa jalan. Saya tidak tahu juga ini,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (23/2).
Ia meminta pihak operator bertindak tegas, agar para sopir bisa kembali mencari nafkah.
“Kami bingung, kami hilang pendapatan, hilang kilometer, insentif. Kan kilometer hitung poin juga. Jadi kita bingung ini. Tiap hari ke pangkalan tapi tidak beroperasi. Kita jenuh juga,” cetusnya.
Sebelumnya, eks sopir Bus Mamminasata Zainal Nurdin mengaku tidak menahan Bus Mamminasata untuk beroperasi. Ia hanya ingin menuntut hak dari pihak operasional Bus Mamminasata.
“Kalau masalah pemberhentian operasi tanyakan kepada manajemen, karena dia punya wewenang. Tidak ada itu yang tahan. Teman-teman (eks sopir) tidak tahan, ngapain kita yang tahan,” katanya, Sabtu (22/2).
Soal tudingan eks sopir ini tidak menerima kompensasi dari pihak penyedia, Zainal bilang, bukan karena itu. Tapi ada beberapa faktor yang membuat 20 eks sopir ini menolak kompensasi dan uang tambahan dari pihak operator Bus Mamminasata.
Dia menjelaskan, beberapa temuannya, termasuk adanya selisih gaji yang diberikan kepada sopir dengan laporan ke negara, dalam hal ini Kementerian Perhubungan.
“Teman-teman tuntut itu. Bukan tambahan kompensasi, bukan tambahan pesangon. Kalau pesangon itu ada aturannya sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan. Kita tidak bisa melenceng dari situ. Slip gaji yang tidak pernah diberikan ke kami semenjak kami bekerja. Kenapa kita menuntut slip gaji? Karena kami mencurigai ada selisih gaji antara yang dilaporkan pihak Sinar Jaya (operator) ke negara dan yang ke kami,” ungkap Zainal.
Kepala Operasional BTS Trans Mamminasata Zulfikar Diabsa menjelaskan, pemberhentian operasi Teman Bus karena ada aksi protes dari eks pramudi atau sopir. Dia mengaku telah memberikan kompensasi ditambah dengan uang terimakasih dari perusahaan. Meski begitu, para mantan sopir Bus Mamminasata menolak dan meminta lebih.
“Jadi eks pramudi ini berdemo dengan tuntutan agar dapat terselesaikan. Perusahaan kami siap memberikan kompensasi plus uang kebijaksanaan atau uang terima kasih. Namun mereka meminta lebih, tapi perusahaan kami tidak sanggup memenuhi itu semua. Makanya eks pramudi ini berdemo dan memberhentikan unit (Bus Mamminasata),” terang Zulfikar.
“Kami tetap konsisten hanya bisa memberikan kompensasi dan uang terima kasih, namun mereka tetap meminta lebih dengan kompensasi plus tiga kali gaji. Sehingga sampai saat ini eks pramudi ini melakukan aksi (demo),” tambahnya.
Zulfikar menyebut, dari 72 sopir terdampak pengurangan, ada 20 orang yang tak menerima kompensasi dan uang terima kasih itu, sementara 52 orang lainnya sudah menerima.
“Yang disediakan (perusahaan) kompensasi kan tergantung masa kerjanya. Misalnya, satu tahun masa kerjanya dapat kompensasi sebulan gaji, itu dalam undang-undang masa kontrak. Tapi kan kami menambahkan lagi uang terima kasih satu bulan gaji sebesar UMK Rp3,6 juta sekian,” kuncinya.
Kepala UPT Bus Mamminasata Dinas Perhubungan (Dishub) Sulsel Andi Nur Diyana membenarkan bahwa Bus Mamminasata berhenti beroperasi gegara ada aksi protes eks sopir.
“Didemo sama mantan pramudi. Mantan pramudi tahan semua bus (Mamminasata) agar tidak beroperasi,” kata Diyana. (jun)

