DALAM lembaran sejarah perlawanan Kerajaan Gowa terhadap kekuatan luar dan dalam negeri, tercatat satu peristiwa penting yang melibatkan tokoh besar dari Kerajaan Bone, yakni Arung Palakka. Dikejar oleh pasukan Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa, Arung Palakka terpaksa melarikan diri ke Pulau Buton demi menyelamatkan diri dan merancang strategi perlawanan lanjutan.
PERISTIWA ini terjadi pada pertengahan abad ke-17, ketika Arung Palakka bersama para pengikutnya memberontak atas dominasi Gowa terhadap Bone. Sultan Hasanuddin, yang dikenal sebagai “Ayam Jantan dari Timur” karena keberaniannya, menganggap pemberontakan Arung Palakka sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kekuasaannya.
Setelah pertempuran sengit dan tekanan yang terus meningkat dari pasukan Gowa, Arung Palakka memilih untuk melarikan diri ke Buton, sebuah kerajaan yang terletak di bagian tenggara Sulawesi. Di sana, ia mencari perlindungan dan dukungan politik untuk kelanjutan perjuangannya melawan kerajaan Gowa.
Pelarian ini bukan sekadar langkah menghindari kekalahan, tetapi juga sebagai bagian dari taktik jangka panjang Arung Palakka.
Lalu, di mana letak persembunyian Arung Palakka saat dikejar pasukan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin, ketika berada di tanah Buton? Ya, lokasi itu berada di dalam goa atau ceruk yang letaknya di bawah Benteng Keraton Buton bagian timur.
Benteng Wolio atau Benteng Keraton Kesultanan Buton, Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Dibangun pada abad XVI, memiliki luas 23,375 hektare dan telah mengantongi perhargaan sebagai benteng terluas di dunia oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness Book Record pada tahun 2006.
BKM yang mengujungi lokasi, mendapati bahwa meski dibangun pada abad ke-16, benteng tersebut nampak masih berdiri kokoh dengan beberapa meriam yang mengarah ke arah kota bau-bau atau laut.
Kedatangan Raja Bone ke kerajaan Buton ini terjadi di tahun 1660 hingga tahun 1663. Ia dianggap seperti kerabat kerajaan Kesultanan Buton sendiri, sehingga kedatangannya pun sangat disambut dengan ramah.
Saat Arung Palakka dikejar pasukan Sultan Hasanuddin, Arung Palaka disembunyikan di goa yang letaknya sangat susah diketahui oleh pasukan Sultan Hasanuddin. Goa tersebut letaknya sangat strategis, karena berada di bawah benteng Keraton Buton dan di depan goa langsung berhadapan dengan jurang yang dalam. Sehingga untuk menuju ke goa tersebut harus menyusuri dinding luar benteng dari salah satu pintu benteng bernama Lawana Kampebuni.
Di Buton, goa persembunyian Arung Palakka dikenal dengan sebutan Liana La Toondu. Sedangkan Arung Palakka lebih populer dengan nama La Toondu, yang artinya tenggelam atau menghilang dari negerinya Kerajaan Bone. (jar)

