AJANG pemilihan Duta Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar tahun 2025 berhasil melahirkan sosok-sosok inspiratif yang tak hanya unggul dalam penampilan dan intelektualitas, tetapi juga dalam etika dan kepedulian sosial.
DUA di antara mereka adalah Andi Sargina Saleha dari Jurusan Farmasi yang berhasil meraih kategori Best Intelegensia, sementara Nur Fadli Aditya dari Jurusan Agama Islam berhasil meraih kategori winner.
Andi Sargina Saleha, mahasiswi Farmasi yang dikenal aktif dan komunikatif, mengungkapkan rasa bahagianya saat diwawancarai di kanal Youtube BKM News. Ia menilai ajang Duta Kampus menjadi wadah berharga untuk memperluas jaringan serta menambah wawasan di luar kegiatan akademik.
“Saya pribadi tentu senang sekali karena selain memperluas relasi, kita juga mendapat banyak pengalaman. Salah satunya ya seperti sekarang ini, diundang oleh Berita Kota Makassar,” ujar Sargina dengan penuh semangat.
Menurutnya, keaktifannya selama masa karantina menjadi salah satu faktor penting yang membawanya meraih predikat Duta Kampus. Ia terbiasa aktif berdiskusi dan berusaha mencari solusi atas berbagai permasalahan yang muncul selama kegiatan berlangsung.
“Mungkin karena pada saat karantina itu saya aktif dalam forum dan selalu ingin tahu bagaimana cara memecahkan permasalahan. Di luar karantina, saya juga aktif di jurusan karena kebetulan dari Farmasi, jadi harus banyak mencari jurnal penelitian,” tambahnya.
Berbeda dengan Sargina yang sudah menunjukkan ketertarikan sejak awal, Nur Fadli Aditya justru mengaku tak menyangka akan terpilih sebagai Duta Kampus.
Mahasiswa asal Takalar ini menuturkan bahwa ia tidak pernah membayangkan akan menjadi pemenang karena latar belakang studinya yang fokus pada kajian keislaman.
“Tentu suatu kesyukuran bisa terpilih menjadi Duta Kampus karena sebelumnya tidak ada pikiran untuk jadi duta. Basic saya di Agama Islam, dan tentunya kalau di kampus-kampus itu banyak problematika yang mungkin agak tidak sejalan dengan fakultas kami,” ungkap Fadli.
Ia bahkan sempat merasa kurang percaya diri selama masa karantina, mengingat banyak peserta lain yang lebih aktif di forum. Namun, ia memegang prinsip sederhana yang justru menjadi kunci keberhasilannya.
“Kalau saya nggak kepikiran jadi winner. Kenapa Karena saat di forum itu banyak teman-teman yang aktif, sementara saya tidak terlalu aktif. Tapi saya terapkan tiga hal: salam, sapa, dan senyum,” bebernya.
Bagi Fadli, menjadi Duta Kampus tidak hanya menuntut kecerdasan intelektual, tetapi juga kesantunan dalam bersikap. Ia percaya bahwa adab menjadi fondasi utama dalam membawa diri, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Ternyata benar bahwa kepintaran seseorang itu bukan hal utama untuk menjadi pemenang. Harus balance antara adab dan ilmu. Dalam pepatah Arab dikatakan bahwa adab itu di atas ilmu, dan itu yang saya terapkan selama karantina,” pungkasnya.
Pemilihan Duta Kampus Unismuh 2025 ini menjadi cerminan bahwa mahasiswa berprestasi bukan hanya diukur dari akademik semata, melainkan juga dari nilai-nilai kepribadian dan kepedulian sosial.
Sosok Sargina dan Fadli menjadi bukti nyata bahwa keberhasilan bisa diraih oleh siapa saja, dari latar belakang apa pun, selama memiliki semangat, etika, dan tekad yang kuat. (jar)

