JIKA pada serangkaian usaha yang dilakukan belum juga berhasil mencapai tujuan, jangan pernah menyerah. Teruslah mencoba untuk berikhtiar. Biasanya pada tahapan tertentu seseorang bisa mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Seperti itulah yang dialami Dr. Tri Sulkarnain Ahmad.
TRI, begitu sapaan karibnya. Ia kini tercatat sebagai anggota DPRD Kota Makassar untuk masa jabatan 2024-2029. Tri terpilih dari daerah pemilihan (dapil) III, meliputi Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea.
Tidak mudah baginya untuk bisa duduk di kursi wakil rakyat Makassar. Bahkan ia sempat beberapa kali gagal. Barulah pada keikutsertaan yang keempat kali pada pemilu legislatif dirinya berhasil menggapai apa yang diinginkan.
Politikus Partai Demokrat ini mengakui bahwa perjalanan politiknya penuh dinamika, kegagalan, dan pembelajaran. Tetapi justru di sanalah ia menempa tekad untuk terus melayani masyarakat.
Tri, yang dulunya dikenal sebagai seorang wartawan dan dosen, menyebut bahwa perjalanan kariernya tidak bisa dilepaskan dari peran media.
“Saya bisa katakan bahwa tempat pertama saya dalam meniti karir itu di BKM (Berita Kota Makassar). Saya menjadi wartawan dan merasakan interaksi langsung dengan masyarakat,” ujarnya saat hadir menjadi bintang tamu siniar untuk kanal Youtube BKM News.
Setelah terjun ke dunia jurnalistik, Tri kemudian mendapat amanah untuk menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Makassar. Baginya, peran sebagai akademisi adalah kelanjutan dari kecintaannya pada dunia pengetahuan dan keterlibatan sosial.
Namun, hasrat untuk berkecimpung di dunia politik sudah tertanam sejak lama.
Tri menyebut dirinya memiliki kesamaan unik dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Yang pertama itu, kebetulan tanggal lahir saya sama dengan beliau (Prabowo), 17 Oktober. Kemudian, saya dan beliau sama-sama sudah tiga kali mencalonkan diri dan tidak terpilih, hingga akhirnya pada 2024 kami sama-sama diberi amanah oleh rakyat. Saya duduk sebagai anggota DPRD, beliau menjadi presiden,” kata Tri, tersenyum.
Menurut Tri, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi sarana pengabdian kepada masyarakat.
“Politik menurut saya adalah bagaimana cara kita bermanfaat buat banyak orang, paling tidak sekitar rumah kita dulu,” bebernya.
Tri juga sempat menceritakan bahwa ia pertama kali mencalonkan diri di luar kampung halamannya, yakni di Sulawesi Barat.
“Di sana saya mencoba menempa diri dan mengevaluasi apa yang salah dari sistem atau strategi saya. Tapi pada akhirnya, saya merasa harus kembali ke Makassar karena ini adalah tanah kelahiran saya, tempat saya besar dan berproses,” jelasnya.
Kisah unik lainnya terjadi ketika ia memilih Partai Demokrat sebagai kendaraan politik. Tri mengisahkan pengalaman spiritualnya saat melaksanakan ibadah umrah pada 2021.
“Waktu itu saya tidak sengaja beberapa kali bertemu dengan Pak Adi Rasyid Ali di Tanah Suci, padahal kami beda travel, beda bis. Pertemuan itu terus berulang, bahkan sampai saat tawaf,” ceritanya.
Ia mengaku bahwa pertemuan yang tak terduga itu ia maknai sebagai pertanda baik. “Saya bilang ke orang tua, kalau setelah umrah ini saya bertemu lagi dengan Pak Adi, maka insya Allah saya akan maju lewat Demokrat. Ternyata betul-betul terjadi,” ujar Tri.
Di akhir wawancaranya, Tri menyampaikan pesan menyentuh bagi generasi muda. “Jangan pernah menyerah untuk mengejar mimpi. Dan jangan berpikir negatif kepada Tuhan saat belum diberi amanah. Bisa jadi, Tuhan sedang menyiapkan tempat yang lebih baik,” pesannya.
Kini, dengan jabatan resmi sebagai anggota DPRD Makassar, Tri berkomitmen untuk fokus pada isu-isu pembangunan manusia, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia berharap kehadirannya di parlemen bisa menjadi saluran aspirasi yang nyata dan berdampak langsung.
Dalam perjalanan hidupnya di dunia politik, Tri telah membuktikan bahwa usaha tak pernah mengkhianati hasil. (jar)

