SEORANG sarjana pulang kampung lalu menjadi petani dan peternak. Itulah yang kini dilakoni Akbar G atau yang karib disapa Emil. Lulusan Program Studi Ilmu Pemerintahan salah satu kampus di Makassar ini tengah menggeluti bidang peternakan dan pertanian.
HADIR menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube BKM News, Emil mengulas tentang usaha yang dirintisnya. Termasuk mendirikan Taman Baca Nurul Jihad serta terus menggeluti dunia penulisan buku yang menjadi bagian dari kesukaannya.
Emil berasal dari Desa Tabbinjai, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa. Ia adalah pendiri Taman Baca Nurul Jihad sebagai penunjang untuk pendidikan warga setempat.
“Saya juga aktif mengajar di rumah baca selain beternak dan bertani,” ujarnya.
Dari rumah baca, Emil lalu masuk ke pertanian peternakan. Ia menjelaskan alasannya untuk lebih memilih menggeluti bidang pertanian yang memasarkan sayuran jenis tomat.
Menurutnya, seorang petani merupakan penyanggah utama tatanan negara guna memenuhi kebutuhan pangan untuk setiap orang.
“Bertani karena benar. Seorang petani adalah penyanggah tatanan negara Indonesia,” begitu ucapnya.
Diakui, bisnis di bidang pertanian sangat menarik untuk dikembangkan, meskipun masih terdapat orang-orang yang beranggapan jika bertani dan beternak identik dengan sesuatu yang kotor.
“Banyak orang yang tidak mau bertani karena berpikir kalau itu kotor dan bau. Padahal sudah banyak metode modern untuk bertani,” jelasnya.
Emil juga menerangkan tentang alasannya pedulian terhadap pendidikan dan literasi di desanya. Ia mendirikan taman baca sejak tahun 2010 dengan motivasi mengembangkan potensi setiap orang yang ada di desanya melalui instrumen pendidikan. Hasilnya, peserta dari taman baca yang didirikannya sebagian diantaranya telah menyandang gelar sarjana hingga menjadi guru.
“Salah satu metode yang kami kembangkan adalah menggali potensi diri, seperti mendeskripsikan apa yang dilihat,” tuturnya.
Taman baca ini memberikan edukasi pendidikan untuk semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Dalam prosesnya, selain Emil yang menjadi tenaga pengajar, ada dua orang guru mengaji yang ikut membantunya, sekaligus memberikan pemahaman spiritual untuk orang-orang di sana.
Di bagian lain, Emil menceritakan awal mula dirinya menggeluti bisnis peternakan sapi. Menurutnya, usaha tersebut sebelumnya dirintis oleh sang ayah yang memasarkan sapi ke orang lain hingga dapat mengumpulkan modal untuk beternak sendiri.
Setelah menyelesaikan studinya, Emil kemudian memberanikan diri untuk meneruskan bisnis tersebut.
“Banyak orang yang berpikir beternak itu kotor, tapi semua akan terbayarkan bila sudah berhasil,” imbuhnya penuh keyakinan.
Bagi Emil, anak muda tidak perlu gengsi melakukan hal apapun selagi itu dapat memberikan manfaat kepada banyak orang. Menurutnya, beternak merupakan bisnis yang menjanjikan, terutama menjelang Hari Raya Iduladha. “Kalau Iduladha kita peliharakan sapi pelanggan sampai mines satu hari raya,” katanya.
Saat ini sapi ternak milik Emil sudah hampir mencapai 20 ekor. Ia senantiasa berusaha untuk menjaga kepercayaan para pelanggan dalam setiap transaksi yang dilakukan.
Di akhir wawancara, Emil memberikan pesan agar anak muda senantiasa mencoba hal baru guna menambah wawasan dan pengalaman.
“Jangan pernah takut untuk mencoba sesuatu hal yang baru, karena kalau gagal maka pengalaman akan bertambah. Jika berhasil kita bisa terus mengembangkannya,” kuncinya. (yus)

