pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kisah Istri Dokter Rintis Usaha Keripik Kentang MalinoQU

BKM/SAR MALINOQU -- Putri Ihlasul Gaffar, anak perempuan Santi Ilyas ikut mendampingi pengembangan usaha keripik kentang MalinoQU.

SANTI Fitriani akhirnya membuka mata lebar-lebar. Membuka cakrawala berpikirnya untuk tidak hanya menghabiskan waktunya melihat serakan kentang yang telah dipanen di halaman rumahnya.
Setiap kali panen, Haji Ilyas, ayahnya, hanya melepas kentang-kentang itu secara gelondongan ke pembeli. Santi hanya memandangi dan kadang mengambil beberapa buah kentang untuk dimasak sayur atau dijadikan camilan sebagai teman kopi sang ayah.
Tak ingin usaha tani ayahnya mandek, Santi akhirnya dikuliahkan di Fakultas Pertanian. Alasan ayahnya agar usaha pertanian keluarga ada penerusnya. Seiring waktu berjalan, Santi pun tuntas berkuliah. Bahkan kentang miliknya menjadi judul dari skripsinya sendiri.

Waktu terus berjalan, usaha tani ayahnya pun tetap berjalan. Ekonomi keluarga kadang baik, kadang turun, bergantung nilai beli kentang. Namun bukan itu jadi pikiran Santi.
Sebagai alumni kampus pertanian, ia lalu memutar otak. Dari melihat kentang yang dijual gelondongan atau pun membusuk dikarenakan tak laku. Tetiba pikiran Santi tertuju ke skripsinya yang dulu membahas tentang kentang.
Santi pun mulai mengasah otak, membuka pikirannya luas-luas. Dia mulai rajin membuka internet. Cari ilmu untuk pengembangan usaha kentang olahan. Akhirnya Santi pun bergerak.

“Saya pilih produk keripik kentang ini karena Bapak saya petani kentang. Awalnya, saya hidup dengan kentang. Dari kecil bermain di kebun kentang. Jadi familiarlah. Terus, lihat salah satu produk keripik kentang yang ada di Indonesia. Saya banyak menemukan referensi. Ya… lebih dari 90 persen keripik kentang yang ada di Indonesia. Bapak saya kan petani kentang, kenapa saya tidak mencoba membuat keripik kentang, gitu,” ungkap Santi yang bersuamikan seorang dokter dan kini sudah memiliki seorang putri cantik.
Dari situlah, Santi mulai berkiprah. Di pikirannya, keripik kentang ini bisa diproduksinya banyak dan bisa jadi oleh-oleh dari Malino.

“Saya mulai meracik bumbu sendiri, icip rasa baik atau tidak. Gowa atau di Malino itu kaya rempah (bumbu dapur). Jadilah saya memulai bikin sedikit demi sedikit. Saya pakai daun jeruk untuk produk saya. Dan hasil kreasi perdana, enak di lidah saya. Tapi saya pikir, belum tentu enak di lidah orang. Awal saya membuatnya saya pakai daun jeruk. Keripik kentang buatan orang lain mungkin pakai rasa rumput laut atau rasa barbeque. Saya pilih daun jeruk. Dan ternyata buatan saya yang pakai daun jeruk malah dirasakan salah seorang pembeli, berasa rumput laut. Di sisi lain aneh karena pakai jeruk nipis malah rasa rumput laut. Di sisi lain wahhh, berarti keripik saya mungkin enak ya. Lidah (rasa) orang macam-macam,” tutur Santi tersenyum.

Ibu berkulit putih ini senang karena suaminya pun mendukung penuh usahanya tersebut. Dia sendiri masih yakin harus berusaha lebih keras. Untuk saat ini, produksi keripiknya baru dua jenis rasa. Rasa jeruk dan original.
Produk keripik kentangnya pun sedikit beda. Jika produksi lainnya irisan kentang tipis, produksinya yang diberi brand keripik kentang MalinoQU ini agak lebih tebal. Tapi rasanya tetap gurih dan krenyes seperti keripik kentang lainnya.
“Alhamdulillah, beberapa konsumen yang mulai mengenali produk saya ini, malah suka karena rasa kentangnya terasa jika irisannya lebih tebal. Saya memproduksi sambil memantau rasa (penilaian rasa dari pembeli). Dari situ saya belajar untuk selalu membuat yang terbaik, ” kata Santi.

Untuk produksinya setiap hari baru di angka 150 picis. Varian rasanya pun baru jenis original, rasa daun jeruk dan sekarang baru mau membuat varian pedas.
“Saya harus dapat bumbu yang otentik, yang khas saya gitu. Saya paten gunakan racikan sendiri. Nah, bumbunya itu baru saya dapat di tahun 2022 lalu. Sejak itu saya bilang bahwa produk saya bisa bersaing dengan yang ada di pasaran. Jika dibandingkan dengan produk lain, keripik kentang saya ini sudah bisa bersaing. Kalau untuk sekelas UMKM, produk saya ini sudah bisa lah dipasarkan, ” kata Santi.
Namun, ibu bersuara lembut ini mengaku belum bisa menyasar swalayan. Aksesnya belum dia dapat padahal produknya sudah berlogo halal dan sudah memiliki PRT. Kemasannya pun sudah keren dan sudah memenuhi standar.

Dalam mengurus usahanya ini, Santi didampingi putrinya, yakni Putri Ihlasul Gaffar yang ternyata sangat visioner tentang bisnis.
“Sekarang Alhamdulillah PRT produk keripik saya sudah ada. Halalnya juga sudah ada. Jadi saya sudah berani nih, bisalah dipasarkan. Tapi untuk saat ini, saya baru memproduksi 20 kilogram kentang sehari atau produksi baru sekitar 150 picis per hari dan saya pasarkan masih di sekitaran Malino. Saya saat ini punya target bisa tembus ke bandara. Saya ingin produk keripik kentang MalinoQU ini bisa jadi oleh-oleh di bandara Sultan Hasanuddin. Jadi orang yang tidak sempat ke Malino bisa membelinya di bandara. Kalau di Malino ini saya belum punya tenant sendiri, saya masih fokus jualan dari rumah. Jadi saya masih nitip-nitip di tenant UMKM teman atau jual langsung secara online (via WA),” terang Santi.
Ia berharap produknya ini bisa lebih besar lagi ke depannya. Bukan cuma keripik, tapi produk lainnya yang berbahan dasar kentang akan diproduksi dan bisa terkenal. (sar)



×


Kisah Istri Dokter Rintis Usaha Keripik Kentang MalinoQU

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link