DUA mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat internasional. Aisyiah Putri Haris dan Rizki Ardiansyah berhasil terpilih sebagai delegasi dalam program bergengsi 3RD ASEAN China Youth Exchange Visit.
KEDUANYA mewakili Indonesia dalam ajang kerja sama pemuda antara ASEAN dan Tiongkok yang bertujuan mempererat kolaborasi lintas budaya serta mendorong peran generasi muda dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
Aisyiah Putri Haris, mahasiswi asal Makassar yang akrab disapa Ica, dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan internasional sejak duduk di bangku kuliah. Dalam wawancara siniar untuk kanal BKM News, Ica menceritakan perjalanan panjangnya hingga bisa bergabung dalam program ini.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam kegiatan internasional bukanlah yang pertama kali.
“Yang pertama itu kebetulan saya pernah visit juga ke NUS di Singapura. Yang kedua program Iisma dari Kemendikbud yang berlangsung di Hanyang University Soul Korea. Ketiga itu ASEAN China Youth Exchange Visit,” kata Ica.
Tak hanya itu, Ica juga mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia pertukaran pelajar dan kegiatan delegasi internasional.
“Sebenarnya saya lebih condong ke hal yang menjadi delegasi dan exchange. Kalau karya ilmiah pernah dan itu dapat runner-up. Selain itu aku juga pernah mendapat kesempatan pertukaran mahasiswa merdeka di Universitas Padjadjaran,” urainya.
Perjalanan akademiknya di Jurusan Hubungan Internasional Unhas pun bukan tanpa alasan. Ia memilih jurusan ini karena sejak lama memiliki ketertarikan terhadap perjalanan ke luar negeri.
“Kenapa daftar jurusan HI Karena ingin ngerasain kayak travel abroad, apalagi kan dulu suka traveling. Terus pada saat semester satu dan dua itu kan pengalaman masih kurang karena masih awal, masuk semester tiga mulailah ada perubahan karena di situ Alhamdulillah lulus NUS dan semester empat lolos pertukaran pelajar, jadi step by step,” ucap Ica, menjelaskan proses bertahap yang ia lalui.
Kecintaannya pada dunia internasional ternyata tumbuh sejak kecil. Ia sering diajak orang tuanya bepergian ke luar negeri.
“Waktu kecil itu kan sering ikut orang tua kerja, jadi kerja sekaligus traveling. Ada beberapa negara yang sudah saya kunjungi itu seperti Filipina, Myanmar, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura,” tuturnya dengan antusias.
Bagi Ica, keterlibatan dalam ajang 3RD ASEAN China Youth Exchange Visit merupakan pengalaman yang luar biasa dan penuh makna. Ia memaknai acara ini sebagai ruang kolaborasi yang membuka cakrawala pemikiran generasi muda di Asia.
“Kalau menurut saya ajang 3RD ASEAN China Youth Exchange Visit itu merupakan ajang yang luar biasa. China juga merupakan year people-to-people tahun ini, yang mana juga untuk kolaborasi kawan muda sebagai katalis dalam ajang regional dan tema yang diangkat itu The Role of Youth ICT Development,” ungkapnya.
Di sisi lain, Rizki Ardiansyah yang akrab disapa Iki juga menunjukkan semangat dan komitmennya dalam mengembangkan potensi diri di kancah internasional. Mahasiswa kelahiran Palu ini menuturkan bahwa pencapaiannya saat ini bukanlah sesuatu yang instan.
“Sebenarnya ini bukan prestasi yang pertama. Sejak SMA saya sudah menjadi ketua OSIS dan itu membuka peluang hingga ke perguruan tinggi. Setelah duduk di bangku kuliah saya cukup aktif juga di event-event delegasi. Selain itu juga ada beberapa perlombaan seperti essai. Kemarin sempat ikut kegiatan internasional di Unhas yang diikuti sekitar 33 negara,” terang Iki.
Motivasi Iki untuk terus berprestasi datang dari prinsip hidup yang ditanamkan sejak awal. Ia bergabung dalam Talent Akademi Unhas, sebuah program pengembangan mahasiswa berprestasi yang mendorong anggotanya untuk terus berkontribusi dalam berbagai ajang.
“Kalau untuk motivasi, sebenarnya saya pakai semacam visioner. Saya juga tergabung dalam Talent Akademi di Unhas. Di situ kita lebih didorong untuk bisa berprestasi. Itulah yang membuat saya untuk terus mau berprestasi, supaya bisa membuat orang-orang terinspirasi dan juga bisa berdampak untuk orang banyak,” jelasnya.
Menariknya, meskipun seleksi program ASEAN China Youth Exchange Visit cukup ketat, Iki mengaku hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk mempersiapkan semua persyaratan yang diminta.
“Persiapan saya untuk mengikuti 3RD ASEAN China Youth Exchange Visit itu selama tiga hari karena persyaratannya kan membuat essai, kirim CV dan English certificate,” ungkapnya.
Kehadiran Ica dan Iki dalam program ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Unhas memiliki kapasitas global dan siap bersaing di forum internasional. Dengan semangat, kerja keras, dan visi yang kuat, keduanya membuktikan bahwa generasi muda Indonesia mampu memainkan peran penting dalam jejaring internasional dan pembangunan kawasan Asia. (jar)

