MAKASSAR, BKM – Wali Kota Makassar dan Wakil Wali Kota, Munafri Arifuddin-Aliyah Mustika Ilham (Mulia) kembali meluncurkan salah satu program prioritas, yakni Super Apps yang bernama Lontara + (baca plus), merupakan kepanjangan dari Layanan Online Terintegrasi Warga Makassar. Aplikasi ini menjadi platform terpadu untuk seluruh layanan publik Kota Makassar.
Aplikasi versi 1.0 merupakan langkah awal dalam mengembangkan sistem operasi mobile yang terbuka dan berbasis Linux, yang kemudian menjadi sangat populer.
Launching Lontara+ dilakukan Minggu (27/7), di kawasan Car Free Day Jenderal Sudirman, Makassar. Hadir Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, Ketua TP PKK Melinda Aksa Mahmud, serta pimpinan media dan tim ahli Pemkot serta Forkopimda.
Tim Ahli Pemkot Makassar, Dara Nasution menjelaskan, saat ini terdapat setidaknya 358 aplikasi milik berbagai SKPD yang berjalan secara terpisah. Lontara plus hadir untuk mengintegrasikan seluruh fungsi tersebut ke dalam satu aplikasi ringan, sehingga tidak membebani memori ponsel masyarakat namun mampu memberikan akses ke seluruh layanan kota.
“Visinya adalah satu aplikasi terpadu untuk seluruh layanan publik Kota Makassar. Kami tidak ingin warga harus mengunduh banyak aplikasi berbeda. Semua fungsi yang ada sebelumnya kami rangkum di Lontara+,” ungkap Dara.
Lebih lanjut alumni Oxford itu menjelaskan, tiga nilai utama aplikasi program tersebut, yakni inklusif, cepat, mudah. Lontara+ dirancang dengan tiga value utama. Pertama keterjangkauan dan inklusivitas, di mana aplikasi ini dibuat agar dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang belum terbiasa dengan teknologi digital.
Kedua kecepatan, yakni memotong rantai antrean layanan publik yang selama ini menjadi keluhan warga. “Dan ketiga, kemudahan, kami anggap menyederhanakan prosedur yang biasanya panjang, seperti pengurusan KTP, KK, atau akta kelahiran. Kini bisa lebih muda dan cepat,” jelasnya.
Program awalnya dilakukan berbasis riset, melayani tujuh segmen pengguna. Konsep Lontara+ dilakukan melalui riset mendalam, FGD, dan survei publik. Hasil riset memetakan tujuh tipe pengguna utama.
Diantaranya, segmen pelajar/mahasiswa (the adaptive learner), segmen tenaga pendidik (the effecient educator), segmen ibu rumah tangga (the hands-on the homemaker), dan segmen karyawan swasta (the task-oriented worker).
“Ada juga segemen freelancer (the flekxible achiever), segmen wiraswasta (the resilient entrepreneur), lansia/non-digital user (determined elder),” tambah Dara Nasution.
Dikatakan, setiap segmen memiliki kebutuhan prioritas yang kemudian diakomodasi dalam aplikasi, mulai dari administrasi kependudukan, pendidikan, bantuan sosial, layanan kesehatan, perizinan usaha, informasi lowongan kerja, hingga fitur tanggap darurat dan pengaduan infrastruktur, hingga penjualan tiket stadion. Adapun fitur untuk warga, data untuk pemerintah.
Selain memudahkan masyarakat, Lontara+ juga dirancang untuk membantu ASN dan SKPD dalam memantau data layanan publik secara real time. Informasi seperti jumlah permohonan, jenis layanan paling banyak digunakan, hingga estimasi waktu penyelesaian akan tersedia untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.
“Lontara+ bukan hanya aplikasi layanan warga, tetapi juga sistem manajemen kota. Data yang masuk akan membantu Pemkot mengetahui kebutuhan masyarakat secara cepat dan akurat,” beber Dara.
Dengan Lontara+, Pemkot Makassar menargetkan terbentuknya ekosistem digital terpadu yang mendukung visi kota unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan. “Sosialisasi akan terus kami lakukan selama setahun ke depan untuk memastikan seluruh warga. Termasuk yang belum terbiasa dengan teknologi, dapat memanfaatkan aplikasi ini,” imbuhnya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, menegaskan transformasi digital kini menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan. Ia mengaku bersyukur karena satu demi satu program yang dicanangkan mulai terealisasi.
“Alhamdulillah, dari tujuh program Mulia, Satu demi satu mulai terealiasi. Salah satunya hari ini adalah launching Makassar Super App atau Lontara+,” jelas Appi dihadapan SKPD Pemkot dan Forkopimda, saat launching aplikasi tersebut, kemarin.
Menurutnya, sekarang era digital, di mana kecepatan, kemudahan akses, dan transparansi menjadi standar pelayanan publik, pemerintah harus hadir sebagai pemimpin perubahan.
Menurutnya, blueprint Lontara+ ini disusun tim Pemkot sebagai komitmen membangun sistem pelayanan publik yang lebih terintegrasi, adil, dan berpihak kepada warga. “Lontara+ bukan hanya platform digital terpadu, tetapi juga cerminan cara baru kita bekerja lebih terbuka, lebih efisien, dan lebih mendengar,” ujar Munafri.
Makassar Super Apps adalah salah satu dari program Sapta Mulia yang dirancang oleh Munafri Arifuddin-Aliyah Mustika Ilham, seperti pembangunan Stadion Untia, program iuran sampah gratis, program seragam gratis, sambungan air gratis, Makassar creative hub dan berbagi jaminan sosial.
Ia menekankan, penyusunan Lontara+ lahir dari masukan berbagai lapisan masyarakat mulai dari pelajar, pedagang kaki lima, guru, ibu rumah tangga, hingga lansia. Karena itu, ia mengajak masyarakat, komunitas, dunia usaha, akademisi, hingga aparatur pemerintah untuk bersama-sama mendukung implementasi Lontara+.
Menjadikan Lontara+ sebagai tonggak penting menuju Makassar yang bukan hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga adil dalam melayani. Teknologi bisa berubah cepat, tetapi falsafah lokal siri’ na pacce tetap menjadi fondasi.
Munafri menegaskan, Lontara+ menjadi jawaban atas persoalan tumpang tindih aplikasi di berbagai SKPD. Semua layanan, mulai dari informasi publik, pengaduan warga, pajak daerah, hingga akses program pemerintah, akan disatukan dalam satu platform.
“Selama ini SKPD memiliki aplikasi sendiri-sendiri. Lontara+ menyatukannya dalam satu genggaman, dengan fitur yang bisa terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Selain integrasi, Lontara+ diklaim mampu menghadirkan data dan fakta secara real-time, memungkinkan Pemkot mengambil keputusan berbasis informasi terkini.
Ia menegaskan Lontara+ masih dalam tahap awal. Penyempurnaan akan terus dilakukan dengan melibatkan masukan dari masyarakat, media, dan mitra kolaborasi lainnya.
Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, menekankan bahwa inovasi ini tidak hanya soal teknologi, melainkan juga mencerminkan identitas dan semangat kolaborasi warga, khususnya generasi muda.
“Saya bangga karena kompetisi penamaan aplikasi ini bukan hanya tentang teknologi, tapi identitas dan harapan kita bersama untuk Makassar yang lebih cerdas, inklusif, dan melayani,” tambah Aliyah.
Makassar Super Apps diharapkan menjadi pintu terpadu berbagai layanan publik, sekaligus mendukung visi kota dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih efisien dan terintegrasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Makassar Muhammad Roem menyebutkan, sesaat setelah aplikasi ini diluncurkan, sekitar 1000 orang sudah mengunduhnya. Dia berjanji akan memback up secara penuh sarana dan infrastruktur aplikasi ini agar bisa berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. (rhm)

