pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ekspedisi Pelayaran Akademis Korpala Unhas

Habiskan 66 Hari untuk Rute Empat Negara

SEBUAH program besar digagas Korps Pecinta Alam (Korpala) Universitas Hasanuddin (Unhas). Namanya Ekspedisi Pelayaran Akademis (EPA).

MUKHLIS Tri Pusyaka dan Muhammad Nur Akram menjelaskan tentang kegiatan ini saat hadir menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube BKM News. Mereka yang merupakan bagian dari Korpala Unhas merupakan mahasiswa Program Pascasarjana. Mukhlis yang mengambil jurusan Antropologi merupakan Technical Advisor, dan Akram dari Jurusan Arkeologi sebagai ketua tim dalam program EPA.
Kegiatan ini merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan oleh Korpala Unhas. “Sejauh yang kami tahu secara ekspedisi kami yang paling sering lakukan,” ujar Mukhlis.
Ia lalu juga menjelaskan tentang historis Korpala Unhas yang terbentuk sejak 8 Agustus 1985 dan akan berusia 40 tahun.

“Saya bergabung di Korpala tahun 2015, saat itu masih S1 Arkeologi dan sekarang ambil Antropologi,” terangnya.
Sementara Akram menjelaskan, dalam Korpala status keanggotaan akan berlangsung seumur hidup. Ia menuturkan tentang kecintaannya terhadap Korpala dan loyal hingga saat ini.
”Cinta itu tidak bisa ditakar, seolah kami menemukan rumah kedua dan sangat membantu,” ungkapnya.

Untuk kegiatan EPA, Mukhlis menjelaskan bahwa pelepasan akan dilaksanakan 3 Agustus 2025.
EPA merupakan kegiatan yang secara penamaan disematkan pada ekspedisi pelayaran. Kegiatan yang ketiga kalinya ini, untuk pertama kali mengambil rute perjalanan dari Makassar hingga Brunei Darussalam dengan mengangkat isu saudagar Bugis-Makassar.

“Yang ketiga ini kami coba ambil isu jejak dan persaudaraan pengembara laut. Jadi EPA ini adalah kegiatan petualangan yang berbasis riset ilmiah,” terangnya.

Dalam konsep kegiatan ini, Mukhlis menjelaskan bahwa terdapat dua tim yang berbeda, yaitu tim laut dan darat. Keduanya memiliki ruang lingkup tugas yang berbeda dengan rute empat negara yang berbeda yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Adapun alasan mengambil rute empat negara tersebut karena berhubungan dengan isu yang diangkat, yaitu jejak dan persaudaraan pengembara laut yang secara studi literatur yang dilakukan persebarannya dari Sulawesi hingga ke negara Thailand.

“Jadi si pengembara laut ini adalah komunitas atau suku-suku yang melangsungkan kehidupannya di aspek maritim,” ucapnya
.

Kegiatan EPA ini membutuhkan waktu persiapan hampir dua tahun. Akram menyebutkan jika dalam persiapannya melibatkan berbagai hal teknis seperti pendataan dan transportasi.

“Beberapa orang mulai serius, sembari tim perumus mulai bergerak untuk pemilihan isu yang tepat. Jadi kurang lebih dua tahun,” jelasnya.

Rencananya, ada 66 hari untuk perjalanan ekspedisi pelayaran ini. Ditanya tentang persiapan fisik dan mental, Mukhlis menyebut ada beberapa hal yang dilaksanakan, seperti jogging latihan renang. Persiapan tersebut dimulai sejak Februari hingga Juni 2025. Hal tersebut dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari persiapan guna menempuh perjalanan panjang nantinya.

“Setiap pertemuan latihan fisik itu menunya bertambah sampai bulan kemarin. Ada persiapan lain dari segi materi seperti latihan jurnalistik, tali temali, dan antropologi maritim,” imbuhnya.

Akram menuturkan, terdapat aspek menarik dalam pengoperasian perahu sandeq yang akan dipergunakan nantinya. “Secara tidak langsung mengetahui filosofi pembuatan sandeq. Secara prinsip kami sudah bisa memahami terkait fungsi-fungsi konstruksi sandeq,” jelasnya.
Sebelumnya, telah dilaksanakan simulasi untuk beradaptasi dari segala tantangan yang berpotensi menghampiri saat akan berlayar menggunakan perahu sandeq. Akram menceritakan jika secara konseptual dirinya beserta rekan-rekannya sudah terbiasa di perahu sandeq dalam berbagai event.

Semakin mendekati hari kegiatan, keduanya mengaku sangat bersemangat karena animo yang semakin tinggi, meski tidak sedikit orang yang meragukan kesuksesan kegiatan tersebut.
“Ternyata kita bisa lewati persiapan yang panjang ini, meski ada keraguan dari beberapa orang,” ucap Akram

.
Saya ditanya mengenai pembiayaan, Mukhlis menyebut angka hingga Rp500 juta dengan berbagai persiapan yang dibutuhkan.

“Ada banyak persiapan yang kami butuhkan. Kami gunakan dua mesin. Kemudian ada beberapa bagian-bagian perahu, hingga alat keselamatan,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Mukhlis menjelaskan jika identitas bangsa Indonesia yang kuat dengan budaya maritim telah mengikat persaudaraan dari Sabang sampai Merauke. Secara geografis Indonesia punya sejarah panjang dengan pelayaran sehingga ia mencoba menggali memori kolektif tentang kemaritiman itu sendiri.

“Kita punya sejarah panjang tentang pelayaran. Kami mencoba menggali memori-memori kolektif tentang kemaritiman itu,” ucapnya.

(yus)



×


Ekspedisi Pelayaran Akademis Korpala Unhas

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link