DI sebuah sudut ramai kawasan Jalan Todopuli, Kota Makassar, aroma bubur hangat yang berpadu dengan harum rempah menyambut para pelanggan setiap pagi. Tempat itu bernama Kedai Pak Bur, kedai sarapan yang kini tengah naik daun di Makassar, terutama berkat satu menu andalannya yaitu bubur manado.
TAK banyak yang menyangka, usaha kuliner yang kini menjelma sebagai ikon sarapan ini justru berawal dari sebuah bisnis sampingan. Sang pemilik, Afdal Rauf mulanya sibuk menjalankan usaha mesin parut kelapa pada tahun 2012. Bubur manado hadir sebagai pelengkap, sekaligus jawaban atas kelangkaan menu tersebut di Makassar kala itu.
“Sebenarnya waktu itu saya susah cari bubur manado yang cocok. Akhirnya iseng-iseng jualan pada Sabtu-Minggu, pinjam mobil ipar, dan jualan di emperan,” kenang Afdal yang diwawancara untuk kanal Youtube BKM News.
Tanpa latar belakang formal di dunia kuliner, ia memulai dari nol. Belajar dari kakaknya yang hobi masak, meracik sendiri, dan terus bereksperimen dengan rasa.
Dari jualan dua hari dalam seminggu, usahanya berkembang. Tahun 2014, ia mulai masuk ke kawasan BTP. Kini, Kedai Pak Bur memiliki outlet yang lebih besar dan representatif di Todopuli.

Perjalanan Kedai Pak Bur tak lepas dari pengamatan berbasis data. Lewat layanan daring, Afdal melihat mayoritas pemesan berasal dari pusat kota. Dari situlah muncul strategi. Ia mencari lokasi yang mudah dijangkau, namun tetap ekonomis.
“Kami riset tempat di luar Tamalanrea. Ada opsi (Jalan) Pelita, Batua Raya, Alauddin, sampai akhirnya cocok buka di Toddopuli,” terangnya.
Kawasan ini dinilai ideal sebagai titik tengah antara pusat kota dan pemukiman, serta strategis untuk pengantaran pesanan dalam jumlah besar.
Kini Kedai Pak Bur menyajikan lima menu utama, masing-masing bubur manado, bubur kacang hijau, gado-gado, sup ubi, dan bubur ayam. Namun bubur manado tetap menjadi bintang utama. Menu ini sudah ada sejak hari pertama berdiri, dan terus dikembangkan selama empat tahun hingga stabil di tahun 2016.
Uniknya, proses penyajiannya tetap mempertahankan metode racikan segar. Tidak dibuat dalam porsi massal, melainkan baru dicampur setelah dipesan.
“Kadang pelanggan komplain karena lama. Tapi kita memang bikin setelah dipesan. Bubur, sayur, dan kuahnya baru dicampur saat itu. Tujuannya untuk menjaga kesegarannya,” jelas Afdal.
Rahasia rasa lainnya adalah penggunaan rempah alami tanpa MSG. Bahan-bahan seperti pala, lengkuas, dan rempah kampung jadi andalan untuk menjaga rasa tetap kuat namun sehat.
SOP, Bukan Sekadar Formalitas
Dalam menjaga kualitas, Afdal menerapkan standar operasional ketat di tiga titik: pasar, dapur pusat, dan outlet. Dapur pusat (central kitchen) mengelola persiapan utama, sementara kontrol rasa ditentukan di outlet, tempat menu benar-benar tersaji kepada pelanggan.
“Kualitas kontrol kami perketat. Semua makanan harus aman, segar, dan layak saji. Kami pastikan SOP ini dijaga semua tim,” katanya.
Meski begitu, Kedai Pak Bur tidak selalu mulus. Kritik pelanggan jadi bagian penting dalam pertumbuhan. Salah satu pengalaman paling membekas terjadi ketika ada pelanggan kecewa berat karena rasa yang tidak sesuai ekspektasi, hingga termos bubur dibuang begitu saja.
“Itu sakit sekali rasanya. Tapi saya tidak tutup diri. Semua DM dari pelanggan, saya baca dan balas sendiri. Saya anggap kritik itu cambuk untuk berkembang,” ujar Afdal.
Tak hanya rasa, suasana kedai juga diperhitungkan. Konsep outlet di BTP dibuat tradisional ala rumah, sementara cabang Todopuli tampil lebih kekinian dengan sentuhan klasik. Afdal menyebutnya inspirasi dari tempat-tempat yang sedang viral, tapi tetap sederhana dan tidak modern berlebihan.
“Bubur itu makanan sederhana. Tempatnya juga harus nyaman, adem, dan bikin orang betah. Banyak pelanggan lama bilang tempatnya enak sekarang, dan itu yang kami targetkan,” ungkapnya.
Meski banyak yang berharap Kedai Pak Bur segera ekspansi ke lokasi lain, Afdal memilih fokus pada kualitas dan penguatan SDM.
“Saya tidak mau buru-buru buka cabang. Setiap tempat punya masalah unik. Kalau tidak siap, justru bisa merusak reputasi. Mungkin 1-2 tahun ini kami lebih fokus ke pengembangan menu dulu,” ucapnya.
Salah satu rencananya adalah menghadirkan makanan khas daerah lainnya seperti kapurung, ketan hitam, dan variasi bubur tradisional lainnya.
Di balik semua kerja keras ini, Afdal punya satu mimpi sederhana, yaitu menjadikan Kedai Pak Bur sebagai ikon sarapan pagi di Makassar.
“Saya mau, kalau orang berpikir mau sarapan, langsung ingat Kedai Pak Bur. Bahkan saya mau turis luar kalau ke Makassar, Kedai Pak Bur jadi destinasi kuliner mereka,” tutupnya.
Dengan semangat konsisten menjaga kualitas, kedekatan dengan pelanggan, dan cita rasa lokal yang otentik, Kedai Pak Bur bukan sekadar tempat makan, tapi simbol dari usaha kecil yang tumbuh dari rasa, kritik, dan kecintaan pada kuliner Indonesia. (*)

