TAK banyak yang menyangka, seorang mahasiswa hukum bisa menciptakan produk pangan yang bukan hanya inovatif, tapi juga menyentuh akar persoalan sosial dan ekonomi lokal. Tapi begitulah Zayyan Rihhadatul Aishy. Lulusan berprestasi dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini berhasil membuktikan bahwa batasan disiplin ilmu bukanlah penghalang untuk memberi manfaat.
NAMANYA sempat membuat pewawancara salah sebut. Bukan “Sayang”, tapi “Zayyan”. Dengan senyum malu-malu, ia menjelaskan bahwa pelafalan “Zayyan” memang tak lazim, dan itu membuat sebagian orang memanggilnya “Sayang”.
Namun, tak ada yang keliru dari panggilan itu jika melihat bagaimana ia memperlakukan gagasannya: penuh kasih, penuh rindu—itulah makna di balik usahanya, Miekir Nakku, sebuah inovasi kuliner mie berbahan dasar sukun.
Zayyan adalah anak kedua dari empat bersaudari. Ayahnya, Muhary Wahyu Nurba dikenal sebagai aktor sekaligus penulis. Meski berasal dari dunia seni, sang ayah tak pernah mengarahkan anak-anaknya secara keras. “Cuma satu kata yang selalu beliau ulang: fokus, fokus, fokus,” kenang Zayyan.
Itulah bekal yang ia bawa sejak awal menjejak bangku kuliah. Bahkan sebelum diterima di Unhas, Zayyan sudah menyusun peta hidup. Tak banyak bicara, tapi hasilnya ia kembalikan ke orangtuanya dengan kepala tegak. “Zayan ingin ayah bangga, bukan karena nama beliau di belakang nama saya, tapi karena usaha saya sendiri,” ujarnya.
Masuk ke Fakultas Hukum bukan karena dorongan orang tua. Pilihan itu datang dari Zayyan sendiri, yang sejak SMA sudah tertarik dengan analisis dan struktur berpikir hukum. Di tengah kesibukan akademik, ia aktif di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan Legacy (Litigation Law and Legal Practice Stundent Associates), sebuah organisasi hukum acara di bawah fakultas.
Bahkan Zayyan menjadi direkturnya.
“Buat saya, kuliah itu sangat singkat. Hanya 3-4 tahun. Harus dimanfaatkan semaksimal mungkin,” katanya.
Zatyan tidak hanya mengikuti kegiatan, tapi juga membangun langkah konkret. Ia memimpin tim dalam program P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha) dari Kementerian Pendidikan. Di sinilah lahir Miekir Nakku, bisnis yang ia sebut sebagai “buah dari kerinduan”.
Nama Miekir Nakku bukan sekadar permainan kata. Dalam bahasa Makassar, nakku berarti rindu. Produk ini terinspirasi dari rasa rindunya sebagai perantau di Yogyakarta, yang kerap sulit menemukan makanan khas Makassar yang akrab di lidah.
Awalnya, Zayyan dan timnya melakukan berbagai eksperimen dengan produk kuliner lokal. Hingga akhirnya mereka menemukan bahwa sukun, buah yang melimpah tapi musiman dan sering terbuang, memiliki potensi besar sebagai bahan pangan olahan.
“Kami buat tepung sukun yang gluten-free dan menjadikannya bahan dasar mie instan sehat,” jelasnya.
Semua bahan berasal dari petani lokal. Sukun dari Bone, bakso ikan dari Maros, ayam dan sayur dari sekitar Makassar.
“Kami ingin produk ini tidak hanya menjawab kerinduan perantau, tapi juga meningkatkan kesejahteraan petani,” tuturnya.
Meski begitu, perjalanan Zayyan tak selalu mulus. Ia sempat diragukan oleh dosen karena latar belakangnya sebagai mahasiswa hukum yang “berani-beraninya” masuk ke dunia F&B. Namun alih-alih gentar, Zayyan memilih membuktikan lewat aksi.
“Kami berhasil dapat pendanaan P2MW. Dan produk kami bukan cuma wacana, tapi sudah sampai ke tahap produksi,” ujarnya.
Kini Miekir Nakku bukan hanya ide, melainkan merek yang hidup. Rumah produksi mereka ada di lantai dua Fakultas Hukum Unhas. Ia dan tim masih terus mengembangkan konsep kemasan oleh-oleh untuk para perantau.
Ketika ditanya tentang perasaannya saat menerima gelar wisudawan berprestasi, Zayyan tidak menonjolkan kebanggaan. Ia memilih merenung.
“Yang penting bukan saya menang hari ini, tapi saya lebih baik dari Zayyan yang kemarin,” katanya.
Zayan membuktikan bahwa seorang pemuda tidak harus menunggu waktu “mapan” untuk berkarya. Dengan kombinasi refleksi, keberanian mencoba, dan empati sosial, ia menyulap sukun menjadi simbol rindu dan solusi.
Kisah Ketekunan
Di balik gelar Wisudawan Berprestasi Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, tersimpan kisah ketekunan, kreativitas, dan dedikasi sosial dari Zayyan. Perempuan muda asal Kabupaten Gowa ini tidak hanya menuntaskan studi hukum dalam waktu tiga tahun 10 bulan, tetapi juga sukses membangun bisnis pangan lokal Miekir Nakku yang kini mulai dikenal sebagai inovasi pangan berbasis sukun.
Cewek berhijab kelahiran Sungguminasa, 8 September 2002 ini menjadi contoh generasi muda yang mampu memadukan antara intelektualitas, semangat kewirausahaan, dan nilai-nilai kebermanfaatan sosial. Bersama timnya, ia mengolah sukun menjadi mie kering (miekir) yang sehat, tanpa micin, dan ramah bagi semua kalangan, terutama lansia yang membutuhkan tekstur yang lebih lembut.
Menariknya, tepung sukun ini bebas gluten dan diperoleh langsung dari petani di Bone.
“Nama Miekir Nakku berasal dari gabungan dua kata: ‘mikir’ yang mudah diingat, dan ‘nakku’ yang dalam bahasa Makassar artinya ‘kerinduan’. Produk ini lahir dari homesick saya waktu merantau di Yogya. Saya ingin makanan yang bisa mengobati rindu para perantau pada cita rasa Makassar,” ujarnya.
Didanai dari program P2MW Kementerian Pendidikan, Miekir Nakku awalnya memperoleh suntikan dana Rp11 juta. Pendapatan usaha ini bahkan sempat melipatgandakan modal awal di fase perintisan. Uniknya, Zayyan membentuk sistem keuangan yang transparan. Hasil usaha digunakan bukan hanya untuk keuntungan pribadi, tapi juga menggaji tim dan membangun keberlanjutan bisnis.
Saat ini, ia sedang menyiapkan legalitas usaha dan rebranding untuk membuka kembali outlet di lokasi baru.
“Kami sedang siapkan relokasi outlet dari Fakultas Hukum ke daerah Petta Rani agar lebih mudah dijangkau. Selain memperluas pasar, saya ingin regenerasi tim juga terjadi di adik-adik kampus,” ucapnya.
Namun, kisah Zayan tidak hanya tentang usaha pangan. Di balik segala pencapaiannya, ada sosok inspiratif: sang ayah yang dikenal sebagai aktor dan penulis, serta almarhumah ibu yang merupakan aktivis HMI dan penggerak pemberdayaan perempuan.
“Ibu wafat saat saya kelas 5 SD. Sejak saat itu saya belajar menjadi kuat. Dari catatan harian beliau, saya tahu bahwa perempuan harus berdaya, harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Salah satu pesan ibu yang paling saya ingat: ‘Khairunnas anfa’uhum linnas’ – sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain,” kenangnya.
Zayyan tumbuh dalam keluarga yang penuh dorongan untuk mandiri. Ayahnya tidak memaksakan pilihan karier, tetapi membekali anak-anaknya dengan nasihat singkat namun kuat.
Kini, setelah lulus kuliah, Zayyan menjalankan dua bisnis: Miekir Nakku dan sebuah butik busana muslimah yang ia teruskan dari mendiang ibunya.
Ia juga bersiap menempuh PKPA (Pelatihan Khusus Profesi Advokat), melanjutkan cita-citanya sebagai advokat. Semua itu dilakukan dengan satu semangat: menjadi pribadi yang membawa manfaat.
“Tidak ada yang instan. Bisnis ini pun lahir dari trial-error, berkali-kali gagal. Tapi saya percaya, kita punya waktu untuk belajar dan jatuh. Selama muda, just do it. Jangan tunggu sempurna baru bergerak,” pesannya.
Di usia muda, Zayyan telah menapaki jalan pengabdian, dari rumah produksi hingga pengadilan. Perjalanan yang dimulai dari rindu, dilanjutkan dengan tekad, dan diarahkan oleh cinta pada tanah kelahiran dan keluarga. (*)

