pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kisah Ramdani Rachmat, IPK 0,7 dan Hampir DO Malah Jadi Duta Budaya

GAGAL, jatuh, dan hampir drop out (DO). Tapi siapa sangka, dari titik terendah itu, Ramdani Rachmat yang akrab disapa Apoi justru menemukan panggilan hidupnya, menjadi penggerak budaya dan inspirasi bagi banyak anak muda Indonesia.

“Kalau kamu berhenti, seluruh alam pun tak akan membantumu. Tapi kalau kamu terus berusaha, pasti ada jalan.” Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan oleh Apoi, seorang kreator konten asal Makassar yang kini dikenal luas lewat kiprahnya di dunia kebudayaan dan edukasi.

Ternyata, di balik sederet prestasinya sebagai Duta Museum DIY, Duta Bahasa Sulawesi Selatan, hingga Duta Muda Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah Bank Indonesia, tersembunyi kisah panjang perjuangan dan kegigihan yang berawal dari titik terendah.

Perjalanan akademik Apoi tidak selalu gemilang. Saat menempuh pendidikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Pertunjukan, ia justru sempat dianggap “gagal”.

“Saya pernah dapat IPK 0,7. Bahkan tak ada satu pun mata kuliah yang lulus di semester dua,” kenangnya sambil tersenyum getir. Ia diwawancarai untuk siniar kanal Youtube BKM News.

“Semester berikutnya 1,8, lalu 0 lagi. Selama S1, saya tidak pernah menyentuh angka 3,0 di IPK semester,” ucapnya.

Lingkungan kampus yang penuh senioritas dan pergaulan yang “toxic” sempat menyeretnya jauh dari fokus kuliah. Hingga suatu hari, sebuah surat peringatan DO dari dosen pembimbing mengguncang kesadarannya.
Ia teringat perjuangan orang tuanya di Makassar yang sudah bekerja keras membiayai kuliah jauh di perantauan.

“Saya tidak mau pulang sebagai orang gagal,” ucapnya pelan. “Sejak itu saya keluar dari lingkungan lama dan bertekad untuk memperbaiki semuanya,” sambungnya.

Butuh waktu lima tahun lebih untuk akhirnya menuntaskan studi dengan IPK pas 3,0. “Pas banget,” katanya sambil tertawa.

Namun justru setelah lulus, pintu keberuntungan mulai terbuka satu per satu. Lima hari setelah sidang skripsi, Apoi menerima kabar bahwa dirinya terpilih mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Ekspedisi Muhibah Budaya Jalur Rempah bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ia ikut berlayar selama berminggu-minggu melintasi Indonesia Timur, tanpa sinyal, tanpa gawai, hanya berbekal percakapan dan perenungan di atas laut. “Dari situ saya belajar bahwa lingkungan sangat menentukan arah hidup kita,” katanya. “Teman-teman di kapal bercerita tentang rencana kuliah S2 di luar negeri, dan saya berpikir: kenapa tidak saya juga?” sambungnya.

Saat singgah di Banda Neira, keajaiban lain datang. Di tengah keterbatasan sinyal dan alat, ia menerima undangan wawancara beasiswa LPDP. Dengan bantuan warga setempat yang meminjamkan laptop dan koneksi internet seadanya, ia mengikuti wawancara dan lolos.

“Saya wawancara LPDP di Banda Neira, di rumah mama-mama yang bantu saya nyari sinyal,” kisahnya haru.
“Beberapa bulan kemudian beliau meninggal. Tapi setiap kali saya ingat perjuangan itu, saya merasa harus terus melangkah,” imbuhnya.

Identitas Rambut Panjang

Usai berlayar, Apoi sempat ingin pulang ke Makassar. Namun ajakan seorang teman untuk ikut seleksi Duta Museum DIY mengubah arah hidupnya. Dengan tabungan seadanya, ia kembali ke Yogyakarta dan mengikuti seluruh tahapan seleksi, hingga akhirnya keluar sebagai Juara 1 Duta Museum Yogyakarta.

“Padahal rambut saya panjang sampai tulang punggung,” ujarnya tertawa. “Panitia sempat minta saya potong, tapi saya bilang: ini identitas saya. Saya tidak mau mengubah diri hanya karena ingin jadi duta,”
terangnya.

Kemenangan yang diraih membuat Apoi langsung bekerja di bawah Dinas Kebudayaan DIY, menjalin kolaborasi lintas daerah. Termasuk dengan museum di Makassar. Dari sana, kiprahnya kian luas.

Tahun 2023, ia meraih penghargaan Pemuda Pelopor Bidang Sosial, Agama, dan Budaya dari Wali Kota Yogyakarta.

Di tahun berikutnya, ia menjadi Duta Bahasa Sulsel, lalu Duta Muda CBP Rupiah Bank Indonesia DIY 2025, di mana ia membawa perspektif kebudayaan dalam memaknai identitas rupiah.

“Saya tidak punya latar belakang ekonomi. Tapi saya bahas rupiah dari sisi budaya. Di uang kita, ada pahlawan, tarian, dan alam. Itu simbol identitas bangsa,” jelasnya.

Kini, di usia 26 tahun, Apoi sedang bersiap menempuh program doktoral di UGM, setelah sebelumnya menyelesaikan S2 dengan beasiswa LPDP di jurusan yang sama: Kajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa.

Di balik sederet prestasi dan gelar yang diraihnya, Apoi tak menampik ada harga yang harus dibayar: kelelahan fisik dan mental. Ia mengaku hampir setiap semester sempat jatuh sakit karena memforsir diri untuk selalu berbuat lebih.

“Saya pernah ditanya: apa arti cukup bagi saya? Pertanyaan itu terus saya pikirkan sampai sekarang. Kapan saya berhenti? Tapi mungkin memang belum saatnya berhenti, selama saya masih bisa berbagi manfaat,” jelasnya.

Kisah Ramdani Rachmat bukan sekadar perjalanan akademik, tapi tentang keteguhan untuk tidak berhenti mencoba, meski sempat tersesat, gagal, atau dianggap tidak mampu.

“Saya bukan orang jenius. Saya hanya orang yang tidak berhenti. Karena gagal itu bukan ketika kamu jatuh, tapi ketika kamu berhenti berusaha,” tandasnya.

Kini, lewat konten edukatif di media sosialnya, Apoi terus menebar semangat untuk anak muda Indonesia agar lebih mencintai budaya dan percaya pada proses.

“Kalau saya yang pernah IPK 0,7 saja bisa sampai ke sini, berarti kamu juga bisa, asal tidak berhenti mencoba,” kuncinya. (*)



×


Kisah Ramdani Rachmat, IPK 0,7 dan Hampir DO Malah Jadi Duta Budaya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link