MAKASSAR, BKM. COM — Dosen Penjaskesrek STKIP YPUP Makassar yang juga Sekretaris FOPI Kota Makassar Andi Amry Yahya berhasil meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya dengan judul disertasi Model Belajar Gerak Dasar Lokomotor Berbasis Permainan Anak Usia Dini didepan Promotor Prof Dr Moch Asmawi dan Kopromotor Dr Iwan Budiawan beserta para penguji lainnya di Balai Sidang Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Senin (24/11) lalu.
Dalam penelitiannya, peneliti menjelaskan bahwa pada tahun 2045 akan menjadi tonggak sejarah ketika Indonesia genap berusia satu abad. Visi besar bangsa ini adalah melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, yang cerdas, sehat, dan berdaya saing global. Dalam berbagai forum nasional, pemerintah menekankan pentingnya penguasaan enam literasi dasar sebagaimana direkomendasikan oleh World Economic Forum (WEF), yaitu: literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan (WEF, 2016).
Namun di balik itu, ada satu literasi yang belum diakui secara formal, padahal sangat menentukan keberhasilan semua literasi lainnya, yaitu literasi fisik (physical literacy). Literasi fisik sering terlupakan, padahal tanpa tubuh yang sehat dan keterampilan gerak yang baik, kemampuan berpikir, belajar, dan bersosialisasi anak akan berkembang tidak optimal.
Makna Literasi Fisik
Konsep literasi fisik pertama kali diperkenalkan oleh Margaret Whitehead (2010), yang mendefinisikannya sebagai gabungan antara kemampuan, motivasi, kepercayaan diri, pengetahuan, dan pemahaman seseorang untuk berpartisipasi aktif dalam aktivitas fisik sepanjang hayat.
Artinya, literasi fisik bukan sekadar bisa berlari atau melompat, tetapi mencakup kesadaran dan kecintaan terhadap gerak tubuh. Anak yang memiliki literasi fisik bukan hanya kuat secara jasmani, tetapi juga memiliki rasa percaya diri, keberanian, dan disiplin diri yang tinggi.
Penelitian Cairney et al. (2019) dan Edwards et al. (2018) menunjukkan bahwa literasi fisik berperan besar dalam membentuk perkembangan anak secara menyeluruh — fisik, sosial, emosional, dan kognitif. Anak yang aktif bergerak menunjukkan konsentrasi dan daya ingat yang lebih baik, memiliki kepercayaan diri tinggi, dan lebih siap menghadapi tantangan akademik.
Usia Dini: Masa Emas Gerak
Usia dini adalah masa keemasan (golden age) perkembangan motorik anak. Pada masa ini, sistem saraf dan otot berkembang sangat cepat, sehingga stimulasi gerak menjadi kunci pembentukan fondasi perkembangan motorik, kognitif, dan sosial anak (Haywood & Getchell, 2020).
Namun, dalam praktiknya banyak lembaga PAUD yang lebih menekankan kemampuan akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung), sementara aktivitas fisik hanya menjadi pengisi waktu. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan penting untuk mengembangkan koordinasi tubuh, keseimbangan, dan kekuatan dasar.
Fenomena ini juga diperparah oleh gaya hidup modern. Ruang bermain semakin sempit, sementara waktu anak lebih banyak dihabiskan di depan layar gawai. Akibatnya muncul generasi “anak jempol lincah tapi kaki kaku” — mahir menggeser layar, tetapi kesulitan berlari atau melompat dengan seimbang.
Menurut Barnett et al. (2016), rendahnya literasi fisik di usia dini berkorelasi dengan meningkatnya risiko obesitas, rendahnya kepercayaan diri, serta menurunnya partisipasi olahraga di masa remaja. Sebaliknya, penelitian Donnelly et al. (2016) menunjukkan bahwa aktivitas fisik berpengaruh positif terhadap fungsi kognitif, termasuk memori dan konsentrasi anak. Dengan kata lain, gerak bukan sekadar urusan fisik, tetapi juga kunci kecerdasan.
Ketimpangan Enam Literasi Dasar
Enam literasi dasar yang diakui saat ini memang penting, namun seluruhnya bergantung pada kesiapan fisik anak. Anak tidak bisa fokus membaca jika daya tahan tubuhnya lemah. Literasi numerasi sulit berkembang jika koordinasi mata dan tangan belum matang. Literasi digital pun akan bermasalah jika anak lebih banyak duduk pasif di depan layar tanpa keseimbangan aktivitas fisik.
Dengan demikian, literasi fisik adalah fondasi bagi semua literasi lainnya. Ia membentuk kesiapan belajar (learning readiness), kesehatan mental, dan daya tahan tubuh yang menjadi modal utama untuk tumbuh menjadi pembelajar sejati.
Jika literasi fisik terus diabaikan, maka pembangunan SDM unggul akan kehilangan pijakan dasarnya: tubuh yang sehat dan pikiran yang bugar.
Peran Guru dan Orang Tua
Guru PAUD memiliki peran strategis dalam menumbuhkan literasi fisik anak. Menurut Robinson et al. (2022), pendekatan berbasis permainan adalah cara paling efektif untuk mengembangkan motivasi anak terhadap gerak. Permainan seperti “melompat di atas sungai imajiner” atau “berlari mengejar warna” tidak hanya melatih koordinasi, tetapi juga keberanian, kerja sama, dan pengendalian diri.
Peran orang tua juga tidak kalah penting. Carson et al. (2020) menegaskan bahwa keterlibatan keluarga dalam aktivitas fisik anak secara langsung meningkatkan durasi dan kualitas aktivitas tersebut. Membiasakan anak berjalan pagi, bersepeda, atau bermain di taman akan menumbuhkan persepsi positif bahwa aktivitas fisik adalah bagian dari gaya hidup sehat dan menyenangkan.
Strategi Menuju Indonesia Emas 2045 agar literasi fisik benar-benar menjadi bagian dari pembangunan SDM unggul, ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan:
1. Integrasikan literasi fisik dalam kurikulum PAUD dan SD awal. Gerak perlu diakui sebagai kompetensi dasar, bukan sekadar pelengkap.
2. Tingkatkan kompetensi guru PAUD. Guru perlu memahami bagaimana merancang pembelajaran berbasis gerak yang edukatif dan menyenangkan.
3. Sediakan ruang bermain aktif di sekolah dan lingkungan. Anak butuh ruang terbuka yang aman untuk eksplorasi gerak.
4. Bangun sinergi lintas sektor. Kementerian Pendidikan, Kesehatan, dan Olahraga harus bekerja sama untuk menumbuhkan budaya gerak aktif sejak dini.
Literasi fisik bukan hanya soal tubuh yang bergerak, melainkan tentang membangun anak yang sehat, percaya diri, dan siap belajar sepanjang hayat.
Jika sejak dini anak Indonesia tumbuh dalam budaya gerak yang menyenangkan, maka pada 2045 kita tidak hanya memiliki generasi cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara fisik dan tangguh secara mental.
Sudah saatnya literasi fisik diakui sejajar dengan enam literasi dasar lainnya, karena dari tubuh yang sehatlah lahir pikiran yang kuat, dan dari anak yang aktiflah lahir bangsa yang unggul. Tentang Penulis:
[Dr. Andi Amry Yahya, M. Pd] adalah dosen Penjaskesrek STKIP YPUP Makassar dan peneliti di bidang pendidikan jasmani anak usia dini. Fokus kajiannya meliputi pengembangan model pembelajaran gerak dasar dan literasi fisik untuk anak usia dini. (Ila)

