pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Membangun Kualitas Pelayanan di Era Umrah Mandiri: Antara Fleksibilitas dan Risiko Spiritual

Suasana manasik jemaah umrah di sebuah hotel di Makassar.

Oleh : Nur Anggraeni

KEBIJAKAN umrah mandiri yang digulirkan pemerintah telah membawa guncangan sekaligus peluang dalam industri perjalanan travel di Indonesia. Di Sulawesi Selatan, biro perjalanan kini dipaksa bertransformasi.

Di tengah kemudahan aplikasi digital, pertanyaannya: masihkah peran travel diperlukan, ataukah ibadah ini akan sepenuhnya beralih ke tangan masing-masing individu?

Fiqri, pembimbing manasik, menekankan bahwa umrah bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perjalanan mental dan fisik. “Tantangannya adalah latar belakang jemaah yang berbeda-beda. Mulai
dari pola pemikiran, pemahaman, usia, hingga kondisi fisik,” ujarnya.

Dr. H. Andi Abdul Hamzah, dosen Jurusan Manajemen Haji dan Umrah, mengatakan bahwa kebijakan umrah mandiri memang lahir dari semangat memberi fleksibilitas kepada jemaah, namun tidak dapat dilepaskan dari risiko. Umrah mandiri memberi pilihan, tetapi umrah bukan hanya ibadah spiritual. Ia melibatkan sistem yang kompleks visa, akomodasi, transportasi, hingga perubahan regulasi di Arab Saudi.

Di Sulawesi Selatan, para pemilik travel mulai merancang strategi. PT Bhinneka Sakti Wisata, salah satu biro perjalanan, melihat kebijakan baru ini sebagai tantangan kredibilitas. “Kami menerima aturan ini, namun perlu diperhatikan bahwa umrah mandiri sangat berisiko terhadap keamanan perjalanan jemaah,” ungkap Erma Aspan, Direktur PT Bhinneka Sakti Wisata.

Strategi mereka kini adalah “menjemput bola” dengan membuat paket-paket yang lebih personal dan memastikan pendampingan khusus melalui grup koordinasi.

H. Muhammad Abyan Usman, pimpinan PT Al-Bayyan Permata Ujas, menuturkan bahwa kunci bertahan adalah tidak “menaruh semua telur dalam satu keranjang”. “Strategi kami adalah membuat paket yang menarik sehingga orang yang ingin umrah mandiri pun akhirnya tertarik mengambil paket di travel,” ujarnya.

Jemaah umrah juga memiliki harapan dan kritik terhadap travel. Widya Arif, seorang jemaah, menceritakan pengalamannya mengambil paket private. “Dengan jasa travel, semua terkoordinir. Kami punya sistem manajemen yang terstruktur sehingga bisa khusyuk beribadah dan lebih mengenal situs sejarah karena didampingi mutawwif berkompeten,” ucapnya.

Ikmal Abidin, jemaah dari PT Al-Bayyan Permata Ujas, mengatakan bahwa ia merasa terbantu dengan mutawwif yang handal, namun masih merasakan kendala klasik mengenai jarak hotel. “Tetap pertahankan yang ada, tapi mulailah beriklan lebih gencar di media sosial,” tuturnya.

Dr. Andi Abdul Hamzah menekankan bahwa kualitas pelayanan tidak dapat dilepaskan dari kesiapan mental dan fisik jemaah. “Jemaah perlu diberi gambaran realistis tentang kondisi di Tanah Suci cuaca, jarak, kepadatan. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar mental mereka siap,” ujarnya.

Di akhir hari, perjalanan umrah di era mandiri ini bukan lagi sekadar tentang siapa yang paling murah, melainkan siapa yang paling mampu memberikan rasa aman. Travel umrah di Sulawesi Selatan sedang membuktikan bahwa di tengah gempuran aplikasi, sentuhan manusiawi, bimbingan spiritual, dan pendampingan fisik tetap menjadi “komoditas” yang tidak bisa diunduh melalui ponsel pintar. (*)



×


Membangun Kualitas Pelayanan di Era Umrah Mandiri: Antara Fleksibilitas dan Risiko Spiritual

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link