MAKASSAR, BKM – Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Hasanuddin secara resmi menetapkan Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030. Penetapan tersebut dilakukan melalui Rapat Terbuka Luar Biasa MWA Unhas yang digelar di Ballroom Lantai 4 Gedung Pendidikan dan Pelatihan Universitas Hasanuddin, Jakarta, Rabu (14/1).
Dalam proses pemungutan suara yang berlangsung secara demokratis dan terbuka, Prof. Jamaluddin Jompa dinyatakan oppo alias terpilih kembali setelah meraih dukungan mayoritas mutlak dengan perolehan 23 suara atau setara 95,83 persen dari total suara sah. Sementara kandidat lainnya, Prof. Budu, memperoleh 1 suara atau 4,17 persen, sedangkan Prof. Sukardi Weda tidak mendapatkan suara.
Usai pemungutan suara, rapat dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara penetapan rektor terpilih sebagai bentuk pengesahan resmi hasil pemilihan oleh Majelis Wali Amanat Universitas Hasanuddin.
Ketua MWA Unhas, Prof. Andi Alimuddin Unde, menegaskan bahwa seluruh tahapan pemilihan hingga penetapan rektor telah dilaksanakan sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.
“Hari ini, Rabu, 14 Januari 2026, tepat pukul 12.12 Wita, Majelis Wali Amanat Universitas Hasanuddin melalui Rapat Terbuka Luar Biasa secara sah dan konstitusional menetapkan Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Universitas Hasanuddin periode 2026–2030,” ungkapnya.
Dalam sambutan perdananya usai ditetapkan sebagai rektor terpilih, Prof. Jamaluddin Jompa menyampaikan rasa syukur serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengawal proses pemilihan, mulai dari pimpinan universitas, anggota MWA, hingga Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Saya bersyukur dan merasa terhormat kehadiran Wakil Menteri yang mendampingi proses ini sejak awal hingga selesai merupakan bentuk komitmen luar biasa bagi Unhas. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan dan seluruh anggota Majelis Wali Amanat atas kepercayaan yang diberikan kepada saya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penetapan dirinya sebagai rektor bukanlah kemenangan personal, melainkan kemenangan institusi Universitas Hasanuddin secara keseluruhan. “Hari ini bukan kemenangan individu. Ini adalah kemenangan Universitas Hasanuddin sebagai keluarga besar, tempat kita semua berkontribusi sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing,” katanya.
Prof JJ –sapaan akrabnya– juga menekankan bahwa keberlanjutan kepemimpinan di Unhas sangat bergantung pada dukungan dan kebersamaan seluruh sivitas akademika. “Saya yakin dan percaya, tanpa dukungan bapak dan ibu sekalian, serta seluruh elemen kampus, tidak mungkin kita bisa berjalan sejauh ini dan melangkah lebih jauh ke depan,” ujarnya.
Dalam pidatonya, ia mengajak seluruh elemen Unhas untuk menjaga kekompakan dan mengawal berbagai capaian yang telah diraih agar tidak mengalami kemunduran. “Intinya, mari kita lanjutkan kebersamaan ini. Kita harus mengawal Unhas agar capaian yang telah diraih tidak mundur, tidak surut kekompakan adalah kunci,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk memaknai perbedaan pandangan dan dinamika selama proses pemilihan sebagai bagian dari proses pendewasaan kepemimpinan di lingkungan akademik.
“Apa pun yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, anggaplah itu sebagai dinamika dan proses pembelajaran untuk memperkuat kepemimpinan ke depan,” ucapnya.
Selain itu, ia mengakui bahwa kritik yang diterimanya selama ini justru menjadi penguat dalam menjalankan amanah kepemimpinan. “Saya justru menyukai kritik dari kritik itulah saya mendapatkan banyak ‘vitamin’ yang menjadi penguat dan imunisasi dalam memimpin,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para kandidat rektor lainnya serta menegaskan komitmen untuk membuka lembaran baru pasca pemilihan.
“Kepada Prof Budu dan Prof Sukardi dan para calon rektor lainnya, saya menyampaikan terima kasih. Tanpa tantangan, tanpa kritik, saya tidak akan menjadi pemimpin yang lebih baik,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof JJ juga menyampaikan permohonan maaf serta mengajak seluruh pihak untuk saling memaafkan demi menjaga silaturahmi dan persatuan di lingkungan Universitas Hasanuddin. “Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika selama proses pemilihan ada hal yang kurang berkenan. Mari kita saling memaafkan demi kebersamaan Unhas ke depan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Fauzan, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh kandidat rektor yang telah berpartisipasi aktif dalam proses pemilihan.
“Saya mengucapkan selamat kepada rektor terpilih dari beberapa calon, pada akhirnya hanya satu yang terpilih, karena tidak mungkin ada lebih dari satu matahari dalam satu sistem kepemimpinan,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa Universitas Hasanuddin sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) dengan klaster tertinggi memiliki tanggung jawab besar dalam tata kelola dan kualitas kepemimpinan.
“Sebagai perguruan tinggi dengan klaster tertinggi, Unhas tidak boleh berada pada posisi yang biasa-biasa saja. Tata kelola dan kepemimpinannya harus menjadi contoh,” tegasnya.
Menurutnya, untuk membawa perguruan tinggi menjadi institusi yang unggul, dibutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mengedepankan kepemimpinan akademik dan kewirausahaan.
“Tidak cukup hanya dengan administrative leadership. Harus dihadirkan academic leadership dan entrepreneurial leadership agar perguruan tinggi mampu melompat lebih jauh,” pungkasnya.
Dengan penetapan tersebut, Prof. Jamaluddin Jompa kembali mengemban amanah memimpin Universitas Hasanuddin selama lima tahun ke depan, dengan fokus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan publik, serta mendorong Unhas menjadi universitas unggulan yang berdaya saing nasional maupun internasional. (ita)

