MAKASSAR, BKM — Persoalan air bersih di wilayah utara Kota Makassar menjadi sorotan publik.
Saat Rapat Paripurna yang digelar di Ruang Rapat Sipakatau, Rabu (15/4), anggota DPRD Kota Makassar Fraksi PPP, Rahmat Taqwa Quraisy mempertanyakan upaya yang dilakukan PDAM terkait persoalan tersebut.
Menanggapi pertanyaan itu, Perumda Air Minum (PDAM) Kota Makassar akhirnya angkat bicara.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air PDAM Makassar, Wahidin, menjelaskan bahwa kendala utama terletak pada sistem distribusi air di wilayah utara yang masih mengandalkan metode gravitasi.
“Distribusi air ke wilayah utara menggunakan sistem gravitasi dari Panaikang dengan elevasi sekitar 13 meter. Dengan kondisi ini, tekanan air hanya mencapai sekitar 1,3 bar, jauh lebih rendah dibanding wilayah timur yang menggunakan pompa dengan tekanan hingga 4,7 bar,” ungkap Wahidin saat memberi keterangan kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (16/4).
Menurutnya, sistem gravitasi sangat bergantung pada ketinggian dan ukuran pipa. Wilayah utara yang berada di pesisir menjadi titik akhir distribusi, sehingga tekanan air kerap habis sebelum mencapai pelanggan.
Situasi ini diperparah dengan menurunnya debit air baku dari Bendung Lekopancing dalam dua pekan terakhir. Dari kondisi normal sebesar 1.300 liter per detik, kini hanya tersisa sekitar 360 liter per detik.
“Air dari Lekopancing harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer ke Panaikang. Namun di sepanjang jalur, sebagian air dimanfaatkan warga di wilayah Kabupaten Maros untuk kolam ikan, sehingga suplai yang sampai ke instalasi pengolahan berkurang drastis,” jelasnya.
Sebagai langkah darurat, PDAM kerap mengambil suplai tambahan dari Sungai Moncongloe dengan pompa, menghasilkan tambahan 600 hingga 900 liter per detik.
Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan volume dan kapasitas air baku.
Wahidin bilang, pada saat kemarau, tambahan air baku dari Sungai Moncongloe biasanya dilakukan sekitar Agustus atau September.
Namun mengingat kondisi saat ini, di mana El Nino Godzilla membuat kemarau datang lebih cepat dan lebih panjang, PDAM tentunya memutuskan untuk menggunakan sumber air baku dari Sungai Moncongloe lebih cepat lagi.
“Jadi biasanya kalau kemarau kita turunkan pompa suplesi di sana. Itu biasanya kita ambil 600 sampai 900 liter per detik. Tadi saya sudah koordinasi dengan bagian produksi, bagaimana bisa dipercepat itu,” tambahnya.
Selain itu, lanjut dia, PDAM menyiagakan 14 armada mobil tangki untuk mendistribusikan air gratis kepada warga terdampak, dengan kapasitas distribusi mencapai 20 hingga 30 rit per hari, bahkan bisa melonjak hingga 100 rit saat kondisi ekstrem seperti El Nino.
Untuk solusi jangka panjang, PDAM tengah mengkaji pemanfaatan sumber air alternatif dari Sungai Jeneberang guna mengatasi krisis air yang kerap terjadi setiap musim kemarau.
Menanggapi kritik soal seringnya pergantian pipa, Wahidin menjelaskan bahwa hal tersebut bukan tanpa alasan.Pipa, khususnya jenis galvanis, memiliki umur pakai terbatas, terlebih di wilayah utara yang memiliki kadar garam tinggi.
“Secara kasat mata mungkin terlihat baik, tapi bagian dalam pipa sudah mengalami korosi. Akibatnya, diameter pipa menyempit drastis sehingga menghambat aliran air,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam banyak kasus ditemukan endapan karat dan lumpur pada meteran air pelanggan yang menyebabkan distribusi tidak merata sebagian warga tidak mendapatkan air, sementara tetangganya masih teraliri.
Selain faktor usia, pergantian pipa juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas layanan.
Pipa dengan diameter kecil yang awalnya hanya mampu melayani sekitar 100 pelanggan, kini harus melayani hingga dua kali lipat akibat pertumbuhan penduduk.
“Karena itu, kami lakukan penggantian dengan pipa berdiameter lebih besar atau penambahan jalur pipa baru agar distribusi air bisa lebih merata,” jelas Wahidin.
PDAM Makassar berharap masyarakat dapat memahami kondisi yang ada, sembari terus berupaya meningkatkan pelayanan di tengah keterbatasan sumber daya air baku yang semakin menantang.
Kepala Seksi Humas PDAM Makassar, Hasan menambahkan
permasalahan utama saat ini memang terletak pada ketersediaan air baku.
Aliran air dari Lekopancing diketahui banyak dimanfaatkan oleh warga secara tidak resmi dengan cara membocorkan saluran dan mengalirkannya melalui pipa untuk kepentingan pribadi, seperti kolam dan tambak.
Praktik tersebut terjadi tanpa izin dan berdampak signifikan terhadap suplai air.
Akibatnya, pada jalur distribusi dari sesi 5 hingga sesi 7, terjadi penurunan debit air baku secara drastis.
Padahal, jika tidak ada pengambilan air di sepanjang jalur Lekopancing tersebut, kondisi suplai air hingga saat ini diperkirakan masih dalam kondisi aman. (rhm)

