BANYAK orang bilang bahwa usia dini paling tepat untuk mengajarkan hal-hal yang baik bagi seorang anak. Pencapaian yang diraih oleh Latifah ini menjadi salah satu contohnya.
Laporan: Saribulan
USIANYA kini baru sembilan tahun. Tapi, siapa sangka jika Latifah telah mampu menghafal sembilan juz dalam kitab suci Alquran.
Karena kemampuannya itu pula, putri sulung pasangan Rusmin Rahim dan Rahmawati ini mampu menembus sebuah ajang pencarian bakat hafidz-hafidzah yang dilaksanakan salah satu televisi swasta nasional.
Latifah adalah sosok mungil yang pendiam. Ia kini menempuh pendidikan di kelas III SD Negeri Samata, Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Di sekolah, Latifah tercatat sebagai anak yang cerdas. Hal itu terbukti dari raihan nilai yang ditorehkannya setiap kali usai semester. Ia selalu menempati rangking pertama di kelasnya, mulai dari kelas I hingga kelas III.
“Kalau di rumah sepulang sekolah, Latifah sudah tidak keluar rumah lagi. Dia tidak seperti anak-anak lain yang bermain-main di luar bersama teman-temannya. Lebih memilih tinggal di dalam rumah. Kecuali kalau disuruh ke warung, barulah dia keluar. Atau ada jedanya belajar, dia keluar di teras bermain dengan adiknya,” tutur Darmawati, ibunda Latifah saat ditemui BKM di ruang tamu rumahnya.
Dalam perbicangan itu, Darmawati yang mengenakan cadar mengurai cerita tentang awal mula putrinya bisa membaca Alquran. Ketika itu usianya antara dua hingga tiga tahun.
”Awalnya hanya ikut-ikutan belajar mengaji sama sepupunya. Ia juga mulai menghafal surah. Sampai pada umur empat tahun, Alhamdulillah dia sudah bisa membaca dan menghafal Alquran. Pas umur lima tahun, dia sudah saya wajibkan menghafal Alquran,” terang Darmawati lagi.
Proses menghafal Alquran yang dilakoni Latifah berlangsung secara bertahap. Satu ayat satu hari menjadi metode mujarab bagi Latifah di umurnya yang belum memasuki TK.
“Saat umurnya beranjak tujuh tahun dan memasuki Sekolah Dasar, Latifah sudah kami ajarkan untuk menghafal sendiri tanpa kita dampingi lagi. Selain itu, saya juga berikan dia target setor ayat,” tambah Darmawati.
Latifah lahir dari keluarga sederhana. Atas kemampuannya menjadi hafidzah, dia mampu membantu meringankan beban orangtuanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk bisa memperbaiki rumahnya.
Prestasi ini sangat membantu Rusmin yang hanya bekerja serabutan. “Pekerjaan saya banyak. Kalau dipanggil untuk ikut mobil kampas antar barang, saya ikut. Apapun itu saya lakukan, yang penting halal,” kata Rusmin.
Sedangkan Darmawati adalah ibu rumah tangga biasa. Sesekali ia mengajar mengaji di rumahnya untuk anak-anak tetangga.
Menurut pengakuan Rusmin, rumah yang ditempatinya saat ini dibangun dari hasil lomba menghafal Quran yang diikuti Latifah.
Sejak lahir, kata Rusmin, Latifah memang sudah menunjukkan perbedaan dengan anak-anak yang lain. Selain tidak merangkak, di usia 10 bulannya, Latifah sudah bisa berdiri. Memasuki usia 11 bulan, dia sudah bisa berjalan.
“Saya heran dengan anak ini. Saya sempat berpikir ada apa dengan anak saya? Di umurnya yang tiga tahun dia sudah lancar membaca abjad dan huruf hijaiyyah,” ungkap Rusmin.
Rusmin bersama istrinya sempat merasakan kesedihan mendalam ketika Latifah nyaris tak diterima di SD tempatnya saat ini.
“Di sini kan ada sekolah yang dekat. Aturannya sekarang, menyekolahkan anak itu di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Sedangkan SD Samata agak jauh di sana,” ujar Rusmin.
Meskipun sudah memperlihatkan sertifikat lomba-lomba Latifah, namun pihak sekolah bersikukuh untuk tidak menerimanya. Hal ini memicu reaksi dari orang tua murid lain, yang menyayangkan jika Latifah tidak diterima oleh sekolah tersebut.
“Alhamdulillah, Latifah akhirnya bisa diterima. Bahkan mampu membuktikan kalau dirinya berprestasi. Bahkan hampir seluruh piala di sekolahnya itu dari hasil Latifah mengikuti lomba,” jelasnya. (*/rus)

