SELAIN banyak suka duka sebagai petugas penyedot tinja selama tujuh tahun, Bohari juga banyak mengisahkan tentang dukungan keluarganya menjabat Ketua Rukun Tetangga (RT) hingga empat periode.
Laporan: ARIF AL QADRY
Menjadi tukang sedot tinja dulunya tak pernah dia bayangkan. Namun karena tugas, mau tidak mau dia harus laksanakan. Pekerjaan itu mulai dilakukan sejak 2010.
Sebelum menjadi tukang penyedot tinja, bapak tiga anak dari istri bernama Hukmah dulunya bekerja sebagai sopir truk di PD Kebersihan. Tugasnya hanya membawa mobil truk kontainer pengangkut sampah dan membuangnya di TPA Tamangapa.
Sewaktu menjadi sopir truk pengangkut sampah, Bohari masih berstatus sebagai tenaga kontrak di Pemerintah Kota Makassar tahun 1987. Karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) naik pada 2010 berdasarkan Surat Keputusan (SK). Dan disitulah sudah mulai menjadi tukang sedot tinja.
“Sebelum jadi tukang sedot tinja, saya jadi sopir truk pengangkut sampah di PD Kebersihan dan masih status kontrak dan honor. Tahun 2010 saya dipindahkan bagian limbah di UPTD PAL sebagai tukang sedot tinja. Dan sudah terangkat sebagai PNS,” kisahnya.
Jika dulunya di PD Kebersihan Bohari bertiga dengan rekannya turun menyedot tinja, di UPTD PAL Dinas PU Kota Makassar hanya berdua saja. Bohari yang menjadi sopir, satu rekannya menjadi keneknya. Tetapi ketika di lapangan, mereka berdua harus turun menyedot tinja di septik tank.
“Sudah tidak adami lagi rasa jijik, karena dulunya saya sudah bekerja sebagai sopir mobil pengangkut sampah. Ini pekerjaan sudah saya cintai dan syukur dapat bisa menghidupi keluarga di rumah,” akunya.
Selain menjadi tukang sedot tinja, Bohari juga dipercaya menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) di wilayahnya di RT 05/RW 07 Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala. Dan tahun ini sudah empat periode dipercayakan menjadi Ketua RT.
Meski waktunya lebih banyak untuk bekerja melayani maayarakat sebagai tukang sedot tinja, Bohari tetap tidak mengabaikan tanggung jawabnya dan fungsinya sebagai Ketua RT. Salah satu yang tidak pernah lepas adalah mengajak warga-warganya setiap Minggu kerja bakti membersihkan lingkungan.
“Jam 07:00 sampai 16:00 bekerja sebagai tukang sedot tinja, malamnya saya kumpul dengan warga-warga memberikan pelayanan. Kalau ada mau tanda tangan, saya percayakan sekretaris. Tetapi saya masih bisa melayani langsung warga. Untuk proram sembilan indikator semuanya sudah berjalan di wilayah saya,” tutupnya.
Soal dukungan sang istri, Bohari mengaku, ia bangga akan istrinya yang banyak membantu dan memberikan dukungan semangat agar bisa mengerjakan seluruh tugas-tugas yang ia emban. “Saya bersyukur punya istri dan anak yang banyak memotivasi dan memberikan dukungan agar pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lancar,” ujar Bohari.
Sejak pukul 07:00, pria yang lahir di Bulukumba, 1 Oktober 1967 sudah harus berada di kantor UPTD PAL berlokasi di Jalan Kerungkerung, Kecamatan Makassar. Di kantornya ia mempersiapkan peralatan serta kendaraan yang akan digunakan bekerja. Mengecek kesiapan peralatan dan kendaraan rutin dilakukan sebelum turun melayani masyarakat.
Ketika semua sudah siap, Bohari bersama satu rekannya lalu mengambil daftar orederan konsumen dan bergegas menuju ke lokasi penyedotan tinja. Rasa jijik tidak dirasa lagi. Bahkan sering sisa kotoran manusia muncrat di baju yang digunakannya.
“Sudah biasami kerja sedot tinja, tidak adami lagi rasa jijik. Saya bekerja sama satu teman ku, saya sebagai sopir, dan satu sebagai kenek. Tapi di lapangan sama ji, kita turun sama-sama sedot tinja,” sebut Bohari di depan penulis.
Dalam sehari, pelayanan Bohari menyedot tinja tidak menentu, kadang satu atau tiga orederan. Tergantung berapa banyak masyarakat yang datang mendaftar di kantor UPTD PAL. Jika orderan sedang ramai-ramainya, dalam sehari Bohari mampu melayani dua sampai tiga orederan, tergantung tingkat kesulitannya.
“Yang menjengkelkan kalau ada pembalut atau sampah plastik bungkusan sampoo dalam septik tank. Itu yang bikin lama karena harus lebih dulu di angkat dan lalu sedot tinja yang full. Kalau tidak ada sampah, biasanya kita cuma butuh waktu 15 menit paling cepat dan kalau ada sampah bisa berjam-jam,” akunya.
Menjadi tantangan di lapangan ketika menyedot tinja, pemilik rumah enggan mengawasi tukang sedot. Padahal itu penting dilakukan agar pemilik dapat tahu dan puas dengan kerja-kerja petugas.
Apalagi seringkali terjadi ketika tukang sedot mulai bekerja, pemilik rumah meninggalkan tukang. Alasannya, tiada lain jijik menghirup bau-bau tinja ditambah lagi jika melihat selang bergoyang-goyang saat proses penyedotan. Hal inilah yang membuat tukang sedot sulit komunikasi dengan si pemilik rumah.
“Biasanya kalau kita sudah selesai sedot tinja, kami lapor ke pemiliknya. Tapi pemilik rumah tidak percaya kalau sudah selesai karena terlalu cepat. Sementara kami sudah bersihkan septik tank. Giliran kami minta pemilik rumah untuk cek apakah sudah bersih atau belum, pemilik lagi dan lagi tidak mau mengecek karena jijik. Disinilah hal yang melatih kita sabar dan tetap memberikan pelayanan baik ke masyarakat,” terangnya.(arf)

