MAKASSAR, BKM — Kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden baru akan dihelat 2019 mendatang. Namun, bursa pencalonan mulai riuh digulirkan. Khususnya untuk posisi cawapres yang akan mendampingi Jodo Widodo.
Sedikitnya ada tujuh toko asal Sulsel yang berkiprah, baik di tingkat nasional maupun regional yang namanya telah sejak lama. Selain Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), terdapat tokoh lain yang peluangnya cukup terbuka.
Syahrul Yasin Limpo yang saat ini menjabat ketua bidang di DPP Partai Golkar salah satunya. SYL, akronim dari nama gubernur Sulsel dua periode ini, telah memiliki banyak prestasi sejak menduduki posisi sebagai bupati Gowa dua periode dan satu periode menjabat sebagai wakil gubernur.
Tokoh lainnya adalah Menteri Sosial Idrus Marham, yang pernah menjabat sebagai Sekjen DPP Partai Golkar tiga periode. Lelaki asal Pinrang ini juga pernah tercatat sebagai anggota DPR RI.
Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad yang kini kembali beraktifitas sebagai aktivis, masuk dalam bursa. Abraham yang dikenal bersih, dinilai memiliki reputasi yang bagus lantaran sejumlah tokoh menjadi tersangka kasus korupsi.
Nama lainnya yakni mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta. Anis terpilih sebagai anggota DPR RI selama tiga periode dengan jabatan sekjen DPP PKS paling lama. Kini PKS mulai mengelus-elus Anis Matta sebagai salah satu bakal capres internal partai berlambang bulan sabit kembar ini.
Tokoh lainnya yakni Ketua Umum DPP Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO). Selain pada jabatannya itu, OSO juga adalah ketua DPD RI dan wakil ketua MPR RI.
Nama lainnya adalah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Amran juga dikenal sebagai menteri yang memiliki kedekatan khusus dengan Presiden Jokowi.
Terkait sejumlah nama tersebut, anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan Dr Andi Jamarro A Dulung, memberikan penilaian yang sangat posisif bagi Idrus Marham. Ia menyebut Idrus sebagai tokoh asal Sulsel yang berpotensi melanjutkan estafet JK di kancah nasional.
Seperti diketahui, Idrus Marham memiliki karir politik yang sangat cemerlang. Tokoh NU yang aktif di Partai Golkar dengan segudang pengalaman di organisasi, seperti BKPRMI hingga KNPI.
Pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia Suwadi Idris Amir, menilai tokoh asal Sulsel selalu jadi perhatian elit nasional di ajang pilpres. Sebab mereka memiliki kelebihan tersendiri, seperti kemampuan komunikasi politik yang di atas rata-rata politisi lain di kawasan timur lainnya.
Selain itu, tokoh asal Sulsel cerdas memainkan irama politik. “Namun dari beberapa nama di atas, kans Jusuf Kalla dan Abraham Samad lebih besar. Sebab mereka unggul popularitas. Selain itu, keduanya sudah teruji secara nasional. Sementara SYL dan Anis Matta serta yang lainnya masih belum punya jejak secara nasional. Namun dari segi konpetensi, SYL dan Anis Matta tak kalah dari JK dan Abraham Samad,” ujar Suwadi.
Dengan begitu, tentu popularitas dan jaringan nasional cenderung jadi penentu. Untuk yang ini, potensi Amran Sulaiman dan Idrus Marham patut diperhitungkan. Apalagi saat ini keduanya menempati posisi menteri dan memiliki jaringan yang kuat ke pengusaha.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, mengemukakan bila secara geoekonomi dan geopolitik, kawasan timur indoensia (KTI) selalu menarik dalam agenda politik nasional. Bukan hanya di besaran voters, tapi juga karena KTI adalah simbol kemajemukan bangsa.
Menurut Luhur, wilayah dengan persediaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, beberapa tokoh Sulsel sangat merepresentasi kekuatan KTI. Pasca JK, tokoh Sulsel yang telah berdiaspora membangun prestasi, investasi sosial politik dan rekam jejak yang berintegritas, punya pilihan untuk melanjutkan kiprah JK di panggung politik nasional.
“Tinggal apakah yang mereka itu punya pengaruh yang besar pada akses, kontrol dan distribusi kekuatan partai politik sebagai alat kekuasaan politik dan penguasaan sumberdaya material. Nama-nama seperti SYL, Abraham Samad dan Anis Matta sepertinya perlu “melompat keluar” dari sekat “zona nyamannya”, jika ingin di pinang oleh capres. Sejauh ini usaha-usaha sosialisasi yang mereka lakukan belum menembus sekat atau basis sosiologisnya. Ketangguhan di luar komunitas, belum kelihatan secara meyakinkan,” jelas Luhur. (rif)
Menakar Tokoh Sulsel di Bursa Pilpres
×

