BANYAK yang bilang bahwa dalam menekuni profesi hendaklah fokus. Tujuannya, agar perhatian tidak terpecah. Namun, Zaitun Alhamid bisa menjadi pengecualian.
Laporan: Ardhita Anggraeni Nur
MENITI karir sekaligus bergelut di bangku kuliah bukanlah pekerjaan yang mudah. Demikian pula bagi Zaitun Alhamid.
Tapi siapa sangka, ia yang masih kuliah kala itu mampu meraih prestasi di dua tempat berbeda. Sukses di karir dan terpilih menjadi wisudawati terbaik.
Parasnya cantik. Wajah khas blasteran Indonesia dan Timur Tengah. Dia merupakan wisudawati terbaik dalam wisuda sarjana Universitas Hasanuddin yang dilaksanakan baru-baru ini. BKM menemui Zaitun di sela-sela kesibukannya, Selasa (27/3).
Diceritakan Zaitun, ketika masih kuliah, dirinya memiliki seabrek kesibukan. Tapi hal itu tidak membuatnya lupa apa kewajibannya menyelesaikan kuliah.
Ada banyak organisasi yang ditempatinya bernaung. Bahkan pernah dinobatkan sebagai mahasiswi paling kritis dalam kepemimpinan manajemen dan organisasi se-Indonesia, dan Top 5 Putri Muslimah Indonesia 2016.
Ia juga juara I Busana Muslim, juara Olimpiade Sains Bidang Ekonomi dan Bidang Komputer. Menyabet juara di berbagai even modelling, hingga menjadi ambasador berhijab di Unhas. Zaitun juga tercatat sebagai coach pusat informasi konseling remaja.
“Menjadi seorang sarjana adalah suatu label pendidikan yang membuktikan jika saya dianggap sudah mampu mengabdi dan bermanfaat bagi negara dan masyarakat. Termasuk menjadi putri yang menginspirasi wanita-wanita berhijab. Dari awal itu sudah saya catat dalam note planning hidup saya,” ujarnya.
Tidaklah mengherankan jika di dinding dalam kamarnya tertera catatan-catatan yang Zaitun inginkan ke depannya. Salah satu diantaranya adalah menjadi wisudawati terbaik di Unhas.
Catatan di dinding itulah yang menjadi patokannya untuk menggapai semua impian. Tak terkecuali doa orang tua yang selalu mengiringi langkahnya.
”Jadi wisudawati terbaik itu sudah saya planningkan sejak saya masuk kuliah. Dengan rencana itu, banyak hal yang harus saya lakukan. Saya belajar dengan sungguh-sungguh, aktif di kelas, dan tentunya memohon doa dari orang tua. Dan, berkat doa orang tualah semua ini terwujud,” imbuhnya.
Wanita kelahiran Ujungpandang, 22 maret 1996 ini telah menamatkan kuliahnya. Juga sudah melangsungkan pernikahan bersama pasangannya yang sudah menjalin hubungan kasih dengannya sejak 2015 silam. Setelah itu, planning berikutnya adalah melanjutkan kuliah S2 ke Universitas Leiden, Belanda. Ia berpesan kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan untuk tidak takut salah dalam mengeluarkan pendapat, fokus, dan konsisten dengan waktu.
“Saya tidak berpikir bakal akan mengambil jurusan hukum, dikarenakan latar belakang sekolah dulunya. Tetapi, kembali lagi jalan hidup setiap manusia itu berbeda-beda. Sang Maha Kuasa menggiring hambanya dengan track dan waktu yang tepat,” tuturnya.
Zaitun sengaja melanjutkan kuliah di Universitas Leiden, Belanda karena telah mengunjungi sekolah universitas hukum yang merupakan kiblat dan kampus yang menjadi primadona bagi mahasiswa Fakultas Hukum Indonesia.
“Karena hukum di negeri kita yang masih berkiblat ke aturan Eropa kontinental yang merupakan bekas jajahan Belanda. Dengan campuran hukum adat dan agama di dalamnya, tentu menambah rasa penasaran saya untuk kuliah di sana,” ujarnya. (*/rus)

